
METRITIMES. ( Ambon ) (Webinar Archipelago Solidarity Foundation pada 1 September 2026 telah menyuluh jalan bagi semua rakyat Kabupaten Serang Bagian Timur dan bahkan Maluku secara umum.
Tokoh Masyarakat Maluku Gerard Wakano kepada sejumlah insan pers Diambon siang tadi menyampaikan bahwa” Acara yang dipandu oleh Bapak Daniel Tagukawi sebagai moderator ini menghadirkan narasumber luar biasa yang dengan berani membongkar fakta-fakta kelam di balik pengelolaan migas di Maluku: Dipl.-Oek. Ungkapnya
Engelina Pattiasina, Direktur Archipelago Solidarity Foundation, yang dengan gigih mengorbankan tenaga, dana, dan pikiran demi menyuluh jalan bagi masyarakat Maluku. Prof. Dr. Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), yang memberikan analisis tajam tentang ketimpangan struktural dalam pengelolaan sumber daya alam.
Dr. Fery Amsary, yang turut memperkaya diskusi dengan perspektif akademis dan kebijakan.
Di balik angka kemiskinan 20,90 persen yang sudah memprihatinkan, ada nyawa, ada trauma, ada harapan yang dikhianati oleh perusahaan yang hanya datang untuk mengambil, lalu pergi meninggalkan luka.
Inilah ironi terbesar, Blok Bula yang telah dieksploitasi sejak 1897, yang minyaknya mengalir sejak 1913, justru menyisakan derita bagi penduduk setempat.
Bukan kesejahteraan yang ditinggalkan, melainkan sumur-sumur terbengkalai, gas beracun yang mengancam nyawa, juga semburan gas methane yang siap membakar lingkungan dan karyawan yang terpaksa mengurusi nasibnya sendiri.
Pada Januari 2026, warga Desa Fattolo, Kecamatan Bula, mengalami mimpi buruk.
Gas menyembur dari sumur minyak milik Kalrez Petroleum Seram Ltd yang sudah tidak beroperasi (shut-in).
Tekanan gas mencapai 200 PSI, dan yang lebih mengerikan, lokasi sumur itu berada tepat di belakang pemukiman warga.
Bayangkan, ibu-ibu yang sedang memasak, anak-anak yang bermain, ayah-ayah yang beristirahat setelah seharian bekerja tiba-tiba harus menghirup asap dan bau menyengat yang memenuhi kampung.
Jarak pandang terbatas. Kepanikan melanda. Sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat yang dianggap lebih aman.
Manajemen Kalrez mengklaim gas itu tidak beracun (tidak mengandung H2S), tetapi dengan tegas mengakui bahwa gas itu mudah terbakar.
Pertanyaannya, apakah jaminan tidak beracun cukup untuk menenangkan seorang ibu yang melihat anak-anaknya menghirup gas menyengat di malam hari? Apakah itu cukup untuk menghilangkan trauma ketika satu percikan api saja bisa mengubah desa menjadi lautan api?
Bupati Seram Bagian Timur, Fachri Husni Alkatiri, yang turun langsung ke lokasi, bahkan harus melakukan video call dengan SKK Migas dan manajemen Kalrez untuk meminta pertanggungjawaban.
Itu menunjukkan betapa daruratnya situasi dan betapa lambannya respons perusahaan terhadap masalah yang jelas-jelas mengancam keselamatan publik.
Sementara gas menyembur dan warga panik, di sisi lain, 94 karyawan Kalrez sebagian besar warga lokal SBT hidup dalam ketidakpastian yang tak kalah mengerikan.
Mereka tidak menerima gaji selama tujuh bulan :
Bayangkan, tujuh bulan tanpa penghasilan, Anak-anak tidak bisa sekolah, Hutang menumpuk, Kredit macet, Hidup bergantung pada urunan bersama.
Para pekerja yang seharusnya menjaga fasilitas produksi (objek vital negara seperti gudang bahan peledak, tangki minyak utama, pembangkit listrik) justru harus mempertaruhkan nyawa mereka tanpa imbalan yang layak.
Pada 22 November 2025, para pekerja yang sudah di ambang keputusasaan mengambil langkah drastic, menutup akses area operasi Kalrez dengan mengelas pintu gerbang.
Mereka menyatakan berhenti bekerja sampai perusahaan membayar hak-hak mereka.
Menteri ESDM dan SKK Migas akhirnya turun tangan, melakukan mediasi.
Pada 3 Agustus 2026, tunggakan gaji tujuh bulan itu dibayarkan.
Tapi pertanyaan besar tetap menggantung, bagaimana dengan pesangon bagi pekerja yang terdampak setelah perusahaan menghentikan operasinya? Bagaimana dengan keadilan jangka panjang bagi mereka yang telah mengabdi.
Mengapa Ini Bisa Terjadi?
Sejarah mencatat bahwa Blok Bula telah berganti-ganti pengelola, dari BPM (kolonial Belanda) pada 1913, ke Jepang pada 1942, ke Permigan, ke Santos, ke Kalrez Petroleum, dan akhirnya ke Hana Mandiri yang membeli Kalrez seharga US$ 600.000 (Rp 9 miliar) pada 2018 sebelum masa kontrak berakhir.
Nilai yang sangat murah untuk sebuah blok minyak yang sudah berproduksi selama puluhan tahun!
Engelina Pattiasina, Direktur Archipelago Solidarity Foundation, dengan tajam mempertanyakan, Saya justru tidak tahu apakah harga ini termasuk sangat murah, layak atau justru kemahalan.
Dan ia menambahkan, dalam setiap kontrak biasanya ada klausul bahwa setelah kontrak berakhir, semua peralatan diserahkan kepada negara.
Lalu, bagaimana dengan transaksi ini? Kontrak harus dibuka ke publik.
Bupati Alkatiri mengaku tidak memiliki informasi yang cukup tentang program CSR yang dilakukan Citic Seram Energy di Blok Seram Non-Bula.
Ini menunjukkan bahwa koordinasi antara perusahaan dan pemerintah daerah sangat buruk.
Program CSR yang seharusnya menjadi salah satu instrumen untuk mensejahterakan masyarakat justru berjalan tanpa pengawasan dan tanpa sinergi dengan program pemerintah daerah.
Sumur shut-in yang mengeluarkan gas hingga 200 PSI di dekat pemukiman adalah bukti nyata kelalaian perusahaan dalam manajemen risiko dan pemeliharaan fasilitas.
Bahkan, vacuum truck milik Kalrez rusak, sehingga mereka harus meminta bantuan kepada Citic.
Ini menunjukkan betapa fragile-nya operasi perusahaan dan betapa mereka tidak siap menghadapi keadaan darurat.
Sebuah pertanyaan yang menggantung, Masyarakat pemilik hak ulayat hanya mau menjadi penonton? Apakah sudah ada studi komprehensif tentang Blok Bula.
Selama hampir 113 tahun minyak diekstraksi di Bula, belum ada studi mendalam yang dipublikasikan tentang dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan dari aktivitas ini, sungguh sangat Ironis.
Blok Bula adalah bagian penting dari sejarah Indonesia.
Seharusnya ini menjadi objek studi dan publikasi ilmiah yang cukup komprehensif.
Namun di tengah gelapnya persoalan ini, ada satu sosok yang menjadi terang. Ibu Engelina Pattiasina, Direktur Archipelago Solidarity Foundation, adalah salah satu putri terbaik Maluku yang pantas mendapatkan penghormatan tertinggi.
Melalui webinar yang diselenggarakan, Ibu Engelina telah mengorbankan tenaga, dana, dan pikiran untuk memberikan edukasi kepada masyarakat Maluku.
Beliau tidak sekadar berbicara, tetapi membongkar fakta-fakta yang selama ini tertutup.
Ibu Engelina mengingatkan kita semua agar tidak membiarkan hak PI 10 persen jatuh ke tangan pemburu rente, Ia juga dengan lantang mempertanyakan sejarah kelam ekstraksi migas di Maluku, di mana rakyat hanya menjadi kuli di negerinya sendiri.
Atas nama masyarakat Maluku, saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Engelina Pattiasina, lSemangat, pengorbanan, dan kecerdasan beliau adalah investasi besar bagi masa depan Maluku.
Beliau adalah teladan bahwa kepedulian sejati bukan hanya tentang kata-kata, tetapi tentang aksi nyata untuk membela keadilan.
Blok Bula adalah cermin bagaimana sumber daya alam bisa menjadi kutukan jika tidak dikelola dengan transparan, adil, dan bertanggung jawab.
Abad ekstraksi telah berlalu, tetapi kemiskinan dan penderitaan masih nyata. Sudah saatnya kita mengakhiri siklus ini.
Jangan biarkan perusahaan hanya mengambil keuntungan dan meninggalkan masalah.
Jangan biarkan rakyat Bula tetap miskin di atas tanah yang kaya minyak. Tutup Wakano (V374)









