- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – SMP YPPI 1 Surabaya menerima kunjungan pendidikan dari guru dan siswa Queensway Secondary School, Singapura, Selasa (2/6/2026). Kegiatan ini menjadi tindak lanjut dari penjajakan kerja sama yang telah dilakukan beberapa bulan sebelumnya, sekaligus menjadi wadah pertukaran budaya, praktik pendidikan, serta penguatan kemampuan komunikasi internasional bagi para siswa.

Kepala SMP YPPI 1 Surabaya, Dra. Titris Hariyanti Utami, M.Si.,

Kepala SMP YPPI 1 Surabaya, Dra. Titris Hariyanti Utami, M.Si., menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan hasil dari komunikasi yang telah terjalin sejak September hingga Oktober tahun lalu ketika perwakilan guru dari Queensway datang untuk melihat potensi kerja sama antar sekolah.

“Hari ini merupakan kunjungan lanjutan dari pertemuan sebelumnya. Kami menampilkan berbagai karya dan program unggulan sekolah yang memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekolah, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia,” ujar Titris.

Dalam kesempatan tersebut, SMP YPPI 1 memperkenalkan berbagai produk hasil karya siswa yang mengusung konsep keberlanjutan dan pemanfaatan lingkungan. Di bidang kuliner, sekolah menampilkan minuman tradisional sinom yang bahan bakunya berasal dari tanaman yang ditanam di lingkungan sekolah, serta cincau dan makanan olahan berbahan dasar daun gedi dan tempe gedi.

ads
Siswa Queensway Secondary School, Singapura mencicipi Cincau dan Sinom

Selain itu, siswa juga memamerkan beragam karya kerajinan berbasis limbah dan bahan alami, seperti kerajinan serat daun pandan, daur ulang plastik, kerajinan daun kering menjadi bunga hias, hingga batik yang menjadi salah satu ikon sekolah.

Menurut Titris, sekolah tidak hanya fokus pada proses produksi, tetapi juga menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam pengelolaan limbah batik.

“Hasil lorotan batik berupa lilin tidak kami buang, tetapi diolah kembali menjadi lilin aromaterapi. Sementara limbah cair batik kami netralkan menggunakan eceng gondok sebelum dimanfaatkan kembali. Bahkan air dari kolam lili nantinya difermentasi menjadi pupuk cair. Jadi prosesnya terus berputar dan ramah lingkungan,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengaku bangga karena kegiatan tersebut menjadi sarana nyata bagi siswa untuk mempraktikkan kemampuan berbahasa Inggris secara langsung dengan penutur asing.

“Saya salut dengan anak-anak. Mereka tidak hanya belajar bahasa Inggris di kelas, tetapi berani berkomunikasi langsung dengan tamu dari luar negeri. Ini menjadi pengalaman berharga yang meningkatkan kepercayaan diri mereka,” katanya.

Menurut Titris, apresiasi dari pihak Queensway terhadap penampilan siswa menjadi bukti bahwa kemampuan dan kreativitas anak-anak SMP YPPI 1 mampu bersaing meskipun berasal dari sekolah yang berada di lingkungan perkampungan.

“Jangan sampai anak-anak minder dengan sekolah-sekolah besar. Mereka harus percaya diri bahwa mereka juga memiliki kemampuan yang luar biasa. Kegiatan seperti ini menjadi motivasi bagi mereka untuk terus berkembang,” tuturnya.

 

Ia berharap program pertukaran kunjungan semacam ini dapat dilakukan secara rutin, setidaknya satu kali setiap tahun, sehingga siswa memiliki kesempatan lebih luas untuk belajar, berinteraksi, dan mengenal budaya internasional.

Dalam kunjungan tersebut, sebanyak 32 siswa dan guru dari Queensway Secondary School turut hadir dan berinteraksi langsung dengan siswa SMP YPPI 1 melalui berbagai sesi presentasi, pameran karya, hingga pertunjukan seni budaya.

Perwakilan Queensway Secondary School Singapura, Mr. Ali

Sementara itu, perwakilan Queensway Secondary School Singapura, Mr. Ali, menyampaikan apresiasinya atas sambutan hangat dan berbagai pengalaman pembelajaran yang diperoleh selama berada di SMP YPPI 1 Surabaya.

Ia mengungkapkan bahwa hubungan antara kedua sekolah bermula sekitar satu tahun lalu melalui jejaring pendidikan yang mempertemukan pihak Queensway dengan YPPI. Kunjungan tersebut kemudian berkembang menjadi kesempatan untuk saling belajar mengenai praktik pendidikan yang inovatif dan berbasis komunitas.

“Kami sangat terkesan dengan keramahan yang diberikan YPPI. Kami melihat bagaimana para siswa belajar mengenai keberlanjutan, memanfaatkan bahan-bahan lokal, menjaga tradisi batik Indonesia, serta menghasilkan berbagai produk yang memiliki nilai guna,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfokus pada akademik dan penyelesaian tugas sekolah, tetapi juga tentang menciptakan pengalaman belajar yang bermakna, membangun karakter, serta membuka ruang pertukaran ide dan budaya.

“Pendidikan adalah tentang membentuk karakter seseorang, bagaimana memperlakukan orang lain dengan baik, dan bagaimana memberikan kontribusi positif kepada masyarakat. Nilai-nilai itu kami lihat di YPPI,” katanya.

Ia juga mengajak para siswa untuk terus mengembangkan kepedulian sosial dan menjadi pribadi yang membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Dalam kesempatan tersebut, Mr. Ali membagikan dua pesan inspiratif kepada para siswa. Pesan pertama adalah, “Mulailah dari hal kecil, lakukan apa yang bisa dilakukan dengan apa yang dimiliki, di mana pun berada.” Sedangkan pesan kedua adalah, “Berusahalah untuk membuat hidup orang lain menjadi lebih baik.”

Kunjungan internasional ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran budaya antara Indonesia dan Singapura, tetapi juga memperkuat komitmen kedua sekolah dalam membangun generasi muda yang kreatif, peduli lingkungan, berkarakter, serta siap menghadapi tantangan global melalui kolaborasi dan pembelajaran lintas negara.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!