
MetroTimes (Kendari) — Kerja sama antardaerah kembali menunjukkan kekuatannya sebagai motor penggerak ekonomi nasional. Hal ini terlihat dalam gelaran Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Sulawesi Tenggara 2025 yang berlangsung di Claro Kendari Hotel & Convention Center. Ribuan peluang bisnis dipertemukan, ratusan pelaku usaha berjejaring, dan ratusan miliar rupiah komitmen transaksi berhasil terjalin hanya dalam beberapa jam.
Acara yang diselenggarakan pada Rabu, 19 November 2025 ini dihadiri langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dan Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, sebagai bentuk komitmen pemerintah kedua provinsi dalam memperkuat kolaborasi strategis, terutama di sektor perdagangan dan investasi.
Dengan menghadirkan lebih dari 250 peserta, mulai dari perangkat pemerintah, asosiasi, organisasi profesi, hingga pelaku usaha berbagai sektor, kegiatan ini menjadi salah satu forum bisnis regional terbesar pada penghujung tahun 2025.
Sinergi Dua Provinsi Maritim yang Saling Melengkapi
Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Timur Khofifah menegaskan pentingnya memperkuat konektivitas perdagangan antardaerah, terutama pada masa ekonomi yang dinamis. Ia menyoroti bahwa Jawa Timur, sebagai salah satu pusat industri dan perdagangan nasional, memiliki basis pengolahan hasil laut yang kuat dan membutuhkan pasokan komoditas maritim dari berbagai daerah.
Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka menyampaikan bahwa provinsinya memiliki kekuatan besar di sektor kelautan dan perikanan, sehingga kolaborasi dengan Jawa Timur merupakan langkah strategis untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai tambah produksi lokal.
“Kita ingin menghubungkan potensi yang ada di daerah produsen dengan pusat pengolahan dan distribusi nasional, agar kedua provinsi saling menguatkan,” ujar Gubernur Sultra.
Transaksi Mengalir: Sektor Kelautan Jadi Primadona
Hingga pukul 11.30 WIB, transaksi perdagangan antar pelaku usaha kedua provinsi terus mengalir. Sektor kelautan dan perikanan mendominasi nilai komitmen perdagangan, dengan total mencapai Rp 213.046.465.800.
Berbagai komoditas strategis menjadi objek kerja sama, mulai dari ikan beku, filet dory, cakalang, tuna, tongkol, rumput laut kering, hingga pakan ikan. Tidak hanya suplai bahan baku, transaksi juga melibatkan produk olahan seperti bakso ikan dan bandeng presto yang menjadi salah satu unggulan Jawa Timur.
Jawa Timur Menjual ke Sultra
▪ CV RUM Seafood – Sidoarjo ↔ CV Ayyash Mandiri (BolunaFood)
Filet dory, bakso ikan, bandeng presto — 1.440 ton/tahun
Nilai: Rp 60 miliar
▪ CV RUM Seafood – Sidoarjo ↔ PT Goutong Material Indonesia
Ikan beku — 720 ton/tahun
Nilai: Rp 25,2 miliar
▪ PT Suri Tani Pemuka – Sidoarjo ↔ Kelompok Pembudidaya Roid
Pakan ikan — 160 ton/tahun
Nilai: Rp 1,92 miliar
Jawa Timur Membeli dari Sultra
▪ PT Sinar Bahari Indonesia – Sidoarjo ↔ CV Adi Jaya Lestari – Kendari
Ikan beku — 720 ton/tahun
Nilai: Rp 23,04 miliar
▪ UD Rahmat Bahari – Surabaya ↔ CV Spinosum – Morowali
Rumput laut kering — 420 ton/tahun
Nilai: Rp 3,36 miliar
▪ PT Aneka Tuna Indonesia – Pasuruan ↔ PT Sultratuna Samudra – Kendari
Tuna & cakalang — 825 ton/tahun
Nilai: Rp 16,862 miliar
▪ PT Mina Jaya Lestari – Surabaya ↔ Suplier Sugeng – Kendari
Tuna, cakalang, tongkol — 371 ton/tahun
Nilai: Rp 5,664 miliar
▪ CV RUM Seafood – Sidoarjo ↔ CV Ayyash Mandiri (BolunaFood)
Ikan beku — 1.728 ton/tahun
Nilai: Rp 77 miliar
Forum Bisnis yang Menghasilkan Dampak Nyata
Forum ini tidak hanya menghadirkan transaksi perdagangan, tetapi juga membuka jalur kolaborasi yang lebih luas pada sektor investasi, logistik, hilirisasi perikanan, dan penguatan rantai pasok. Banyak pelaku usaha mengakui bahwa pertemuan tatap muka langsung memberikan efektivitas lebih tinggi dalam membangun kepercayaan dan negosiasi.
Selain itu, sinergi dua provinsi maritim ini berpotensi menciptakan model kerja sama ekonomi regional yang berkelanjutan. Jawa Timur memiliki infrastruktur industri dan perkapalan yang kuat, sementara Sulawesi Tenggara memiliki sumber daya perikanan melimpah yang belum sepenuhnya diolah menjadi produk bernilai tinggi.
“Pertemuan semacam ini membuat rantai perdagangan menjadi lebih efisien. Kami bisa bertemu langsung dengan buyer dan supplier yang selama ini hanya berkomunikasi lewat perantara,” ujar salah satu pelaku usaha perikanan asal Kendari.
Mendorong Hilirisasi dan Daya Saing Nasional
Kegiatan misi dagang seperti ini diyakini dapat memperkuat daya saing daerah sekaligus mendukung agenda nasional dalam meningkatkan hilirisasi sektor maritim dan memperluas pasar ekspor. Dengan meningkatnya volume perdagangan bahan baku dan produk olahan hasil laut, kedua provinsi diproyeksikan akan mendapatkan dampak ekonomi signifikan dalam jangka menengah.
Gubernur Khofifah menyampaikan bahwa kerja sama Jatim–Sultra merupakan bagian dari upaya memperkuat konektivitas regional untuk mencapai stabilitas ekonomi nasional. “Jika antardaerah saling menguatkan, maka perekonomian nasional juga menjadi lebih tangguh,” ujarnya.
Kolaborasi yang Menghasilkan
Misi Dagang dan Investasi Jawa Timur–Sultra 2025 bukan hanya ajang seremonial, tetapi forum yang menghadirkan hasil konkret melalui terbentuknya jaringan bisnis baru, peluang investasi, serta komitmen transaksi bernilai ratusan miliar rupiah dalam waktu singkat.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan terus diperluas untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya melalui sektor-sektor unggulan seperti kelautan dan perikanan yang menjadi kekuatan bersama kedua provinsi.
(Laban)




