- iklan atas berita -

Metro Times (Jakarta) Pemerintah resmi memulai vaksinasi Covid-19 untuk mempercepat penanganan pandemi. CoronaVac, vaksin buatan Sinovac digunakan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan persetujuan penggunaan darurat vaksin. Namun program vaksinasi ini dapat memunculkan masalah jika masyarakat lantas abaikan 3 M.

Dilansir dari detik.com, seorang peneliti Biomolekuler dari Australian National University (ANU) dan Direktur Utama Lipotek Australia, Dr Ines Atmosukarto mengatakan target Presiden Jokowi yang meminta agar vaksin bisa selesai kurang dari setahun tidak bisa dipaksakan.

Sebagai bagian dari kelompok prioritas penerima vaksin, beberapa tenaga kesehatan di Indonesia mengaku siap dan tidak mengkhawatirkan keamanan vaksin Sinovac.

“Bagi saya pribadi, efikasi vaksin menjadi tidak begitu penting banget. Saya takutnya setelah vaksin ini, protokol kesehatannya menjadi kendur,” tutur dr Andika.

“Kita tetap harus mengurangi mobilitas sosial kita, kita tetap harus pakai masker, dan saat ini aku rasa pakai masker, enggak peduli mau indoor atau outdoor, tetap saja harus pakai masker di Indonesia dengan melihat angka yang [tinggi] begitu,” imbuh Ines.

ads

Berdasarkan hasil uji klinis di Indonesia, vaksin yang dikembangkan di China ini mencatat tingkat efikasi 65,3 persen. BPOM juga menyampaikan potensi efek samping dari vaksin, seperti sakit kepala, gangguan pada kulit, nyeri otot, dan demam, namun dianggap “bukan berbahaya” dan “dapat pulih kembali”.

Sebelumnya, Jumat pekan lalu (08/01) Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan vaksin virus corona buatan Sinovac tersebut halal untuk digunakan.(shp)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!