- iklan atas berita -

 

Oleh : Prof. Dr. Poedji Hastutiek, drh., M.Si. (FKH-Unair)

MetroTimes (Surabaya) – Scabies sebagai Masalah Kesehatan Global. Scabies atau kudis adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Tungau Sarcoptes telah dilaporkan
menginfestasi lebih dari 100 spesies mamalia termasuk manusia dan hewan. S. scabiei var. hominis, penyebab scabies pada manusia telah menginfestasi lebih dari 300 juta orang penduduk setiap tahun. Scabies termasuk dalam emerging/re-emerging parasitic disease yang dapat
mengancam kesehatan hewan dan manusia di dunia, penularan dapat terjadi dari hewan ke manusia hingga termasuk ke dalam daftar penyakit zoonosis. Scabies tertinggi ada di negara-negara beriklim tropis dan padat penduduk yakni Indonesia, Cina, Timor Leste, Vanuatu dan Fiji.

Penularan penyakit scabies melalui kontak langsung orang per orang atau dengan benda yang tercemar sehingga morbiditas tinggi. Scabies pada manusia dapat menimbulkan gejala klinis gatal, oleh karena itu dapat menyebabkan kegelisahan pada penderita. Penyakit epidemi ini banyak dijumpai dikalangan anak-anak, remaja dan lansia dikomunitas miskin serta kurangnya akses perawatan kesehatan. Pada tahun 2017, Scabies dan ektoparasit lainnya secara resmi WHO
menetapkan sebagai penyakit tropis yang terabaikan (neglected tropical disease).

Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan prevalensi scabies sebesar 8,5-9%. Penyakit ini menduduki urutan ke-3 dari 12 penyakit kulit yang sering terjadi di Indonesia.
Timbulnya penyakit ini disebabkan rendahnya tingkat higienitas dan sanitasi serta sosial ekonomi menjadi faktor pemicu penyakit scabies. Kondisi kekurangan air atau tidak adanya sarana
pembersih tubuh, kekurangan makanan dan hidup dalam lingkungan yang tertutup atau berkelompok semakin mempermudah penularan penyakit scabies.

ads

Penyakit ini di Indonesia termasuk penyakit hewan menular dalam daftar B dan telah diatur dalam pencegahan, pemberantasan dan pengobatan penyakit hewan menular sesuai dengan SK Mentan No. 487/KPTD/UM/6/1981. Scabies banyak dijumpai menyerang berbagai jenis hewan
ternak kambing, babi, sapi, kerbau, kelinci dan hewan pet animal yaitu anjing, kucing juga hewan liar seperti wombat, musang, dingo dan hewan liar lainnya. Scabies dengan gejala klinis gatal, luka pada kulit dan bulu rontok yang cenderung sulit disembuhkan.

Pengobatan scabies dengan injeksi ivermectin, sebagai drug of choice sudah sangat tepat karena terbukti efektifitasnya, ternak penderita scabies yang diobati 99 % sembuh, namun obat tersebut mahal, sulit di pasaran, bukan untuk pencegahan, kurang efisien untuk pengobatan massal, bisa terjadi reinfestasi, adanya resistensi terhadap obat-obat dapat menyebabkan kegagalan pengobatan dan meningkatnya biaya pengobatan. Sehingga perlu dilakukan pengembangan vaksin yang spesifik sebagai pilihan untuk kontrol penyakit, namun problem utama yang dihadapi oleh peneliti mengalami kesulitan mendapatkan tungau S.scabiei dalam jumlah banyak.

Penggunaan Tanaman Permot untuk Terapi Scabies. Tanaman liar yang dapat digunakan sebagai obat scabies adalah tanaman Permot (Passiflora foetida Linn). Daun Permot mengandung senyawa metabolit sekunder alkaloid, fenol dan terpenoid. Pemberian secara topikal bentuk formulasi salep crude ekstrak daun Permot tiap hari selama lima hari berturut-turut, pada kelinci scabies yang disebabkan S. scabiei var. cuniculi dengan gejala klinis eritrema, papula, krusta dan alopecia di muka dan telinga, diperoleh hasil pada hari ketiga kelinci menunjukkan keadaan membaik, krusta berkurang dan bulu mulai tumbuh.

Alkaloid alami telah dikembangkan sebagai obat untuk berbagai macam penyakit. Kandungan senyawa aktif Alkaloid memiliki kemampuan bekerja sebagai racun kontak yang baik karena kemampuan untuk menembus kutikula tungau sehingga komponen penyusun lapisan kitin rusak dan mengalami kematian. Pada tungau, alkaloid yang masuk melalui mulut bekerja sebagai
racun perut yang dapat menyebabkan gangguan sistem pencernaan, mengakibatkan sel-sel pada lumen mengalami ruptur sehingga aktifitas makan terhenti (stop feeding action) dan mengalami kematian.

Kandungan senyawa aktif flavonoid (golongan senyawa polifenol) yang masuk melalui kutikula dapat merusak membran sel tungau. Flavonoid juga sebagai antioksidan yang dapat menangkap radikal bebas sehingga mencegah kerusakan sel dan imunomodulator yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh dan memperbaiki sistem imun yang fungsinya terganggu, menghambat pertumbuhan bakteri (pada infeksi sekunder). Sedangkan senyawa isophytol dan phytol, keduanya merupakan bagian dari terpenoid yang bersifat sebagai acarisida dan antibakteri. Senyawa aktif alkaloid, flavonoid dan terpenoid mempengaruhi proses kesembuhan kulit yang bekerja dengan cara merangsang pembentukan sel-sel baru dan mempercepat kesembuhan. Daun Permot berpotensi untuk dikembangkan menjadi bioacarisida untuk scabies yang ramah lingkungan, dapat memberikan manfaat untuk kesehatan ternak dan memaksimalkan pendapatan peternak.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!