
METROTIMES ( MALUKU TENGAH, ) 13 Mei 2026 — Di tanah yang pernah diperebutkan bangsa-bangsa dunia karena rempahnya, pala kini kembali menjadi harapan hidup masyarakat Maluku. Di Dusun Multahu, Desa Negeri Lima, harum pala tak lagi sekadar mengingatkan kejayaan masa lalu, tetapi mulai menghadirkan perubahan nyata bagi kehidupan para petani.
Perubahan itu dirasakan langsung oleh Abidin Talahatu (52), petani pala yang akrab disapa Pak Udin. Di balik senyumnya hari ini, tersimpan cerita panjang tentang kerasnya perjuangan hidup sebagai masyarakat kebun.
Bertahun-tahun lalu, Pak Udin memilih meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke Sumatera demi mencari nafkah. Selama enam tahun ia bekerja sebagai buruh toko dengan penghasilan sekitar Rp30 ribu per bulan. Saat itu, hidup sebagai petani pala dianggap belum mampu memberi kepastian masa depan.
“Dulu hasil pala tidak jelas. Harga sering berubah dan petani bingung mau jual ke siapa. Karena itu saya sampai merantau,” kenangnya, Rabu (13/5/2026).
Sepulang dari rantau, Pak Udin kembali mengurus kebun pala warisan keluarganya. Namun persoalan lama masih terus menghantui petani. Hasil panen dijual secara campuran tanpa melihat kualitas, sehingga pala terbaik pun tetap dihargai murah.
“Semua dicampur jadi satu. Pala bagus ikut jatuh harganya,” ujarnya.
Keadaan mulai berubah sejak masyarakat Negeri Lima menjalin kemitraan dengan PT Kabong Tanipala Maluku (KTM). Dalam dua tahun terakhir, perusahaan tersebut hadir membuka akses pasar sekaligus mendampingi petani meningkatkan kualitas hasil panen.
Tak hanya membeli pala warga, PT KTM juga mengajarkan cara perawatan pohon, proses penjemuran yang baik, hingga pemilahan kualitas pala agar memiliki nilai jual lebih tinggi.
Hasilnya mulai dirasakan masyarakat. Pala kualitas AB kini mampu dijual hingga Rp95 ribu per kilogram, jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya saat seluruh hasil panen dijual campur.
“Sekarang pendapatan lebih baik. Anak sekolah, kebutuhan rumah tangga, semua mulai terbantu dari hasil pala,” kata Pak Udin.
Kehadiran PT Kabong Tanipala menjadi angin segar di tengah besarnya potensi rempah Maluku yang selama ini belum sepenuhnya dinikmati petani. Data Agro Ekologi Zona (AEZ) mencatat Maluku memiliki ratusan ribu hektare lahan potensial untuk pengembangan pala, namun banyak tanaman rakyat kini memasuki usia tua dan rusak.
Sejak berdiri tahun 2020, PT Kabong Tani Pala Maluku telah bermitra dengan ratusan petani dan mulai menerapkan standar mutu ekspor internasional. Bahkan pada Juni 2026 mendatang, perusahaan itu dijadwalkan melakukan ekspor langsung pala dari Ambon ke Belanda, sebuah langkah yang dinilai menjadi sejarah baru bagi perdagangan rempah Maluku.
Bagi masyarakat Negeri Lima, pala kini bukan hanya simbol sejarah kejayaan rempah dunia, tetapi juga jalan menuju kehidupan yang lebih layak.
“Yang penting kerja sama ini terus baik supaya masyarakat bisa maju bersama dari hasil pala,” tutur Pak Udin.
Dari kebun-kebun sederhana di Negeri Lima, harapan itu kini tumbuh kembali. Pala Maluku perlahan bangkit, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, para petani mulai merasakan bahwa kekayaan rempah benar-benar kembali kepada pemilik tanahnya sendiri.( Tasya Patty )




