
Metro Times Kendal – Sejumlah tokoh muda NU yang tergabung dalam wadah organisasi Tunggale Dewe menggagas politik keumatan untuk mendorong pesta demokrasi pada Pilkada Kendal 2020 dapat berlangsung secara kondusif dan damai.
Koordinator Tunggale Dewe (TD), Ahmad Muzaki, mengatakan perbedaan dukungan terhadap bakal calon bupati dan wakil bupati pada Pilkada sebagai bagian dari proses demokrasi perlu disikapi secara arif dan bijaksana. Menurutnya masyarakat Kendal telah dewasa dalam berdemokrasi akan memilih calon pemimpin sesuai pilihan hati nuraninya.
“Khususnya warga nahdliyin, sudah terbiasa dalam menyikapi perbedaan. Meskipun di luar sedang ramai seolah ada benturan kiai struktural lawan kiai kultural, kiai asli lawan kiai dipacai, di bawah insya Allah tetap kondusif,” terangnya.
Ketika ditanya siapa bakal calon bupati atau wakil bupati yang didukung, Gus Zaki menegaskan jika TD yang secara kelembagaan berada di luar struktural NU membebaskan anggotanya untuk memberikan dukungan kepada siapapun. TD, imbuhnya, tidak terafiliasi kepada salah satu partai politik maupun salah satu bakal calon kontestan Pilkada.
“Karena kami ini secara kultural orang-orang yang lahir dari tradisi NU, secara emosional mengutamakan calon dari kalangan kader NU. Mau lewat partai mana pun tak jadi soal,” tegasnya.
Sementara itu, Kiai Mufthon Samroddin Rois, pengasuh pesantren Syafiiyah Salafiyah Gebanganom Wetan, mengatakan kebebasan memberikan dukungan di TD bukan berarti para anggotanya tidak memiliki sikap. Menurutnya sikap TD dalam berpolitik sudah jelas, yakni membebaskan para anggotanya untuk menggunakan hak politiknya.
“Pada prinsipnya, semua didasari semangat yang sama untuk kemaslahatan umat. Dukung siapa, yang punya komitmen pada warga NU. Lebih jelas lagi, dari kalangan kader NU yang selama ini telah berkiprah di Kendal,” terangnya.
Soal garis politik TD, imbuhnya, menempatkan politik tidak semata-mata untuk meraih kekuasaan. Melainkan sebagai jalan untuk merangkum aspirasi umat dalam mengelola birokrasi pemerintahan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat.
“Para kiai sepuh NU telah mengajarkan bagaimana berpolitik dengan etika untuk meraih tujuan yang lebih besar dari sekadar kursi dan jabatan. Bukan politik kekuasaan, tapi politik keumatan,” imbuhnya.
Diketahui, berkumpulnya para tokoh muda NU yang tergabung dalam wadah Tunggale Dewe terjadi secara spontan usai takziah ke almarhum KH Muqodam Assyafii di Desa Gebanganom Wetan, Kecamatan Kangkung, Jumat (19/8/2020). Usai takziah ke mantan anggota DPRD Kendal dari fraksi PKB yang dikenal aktif di NU tersebut, para penggiat TD berkumpul di pondok pesantren Syafiiyah Salafiyah yang berada tidak jauh dari rumah almarhum.
Tampak sejumlah nama yang sudah dikenal seperti Muhammad Makmun, ketua DPC PKB yang juga ketua DPRD Kendal, Muhammad Ulil Amri, bakal calon bupati Kendal penjaringan PDI Perjuangan, Muhammad Labib Muridi penggiat PPP dan sejumlah nama lain yang bergerak di lintas bidang.(Gus)




