- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Penyematan Brevet Kehormatan Penerbang TNI AL kepada Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali yang dihelat di Apron Lanudal Juanda, dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Monumen Kepak Sayap Rajawali Laut, bertempat di depan Museum Penerbangan TNI AL R.E.B.O. Tjokroadiredjo Puspenerbal Sidoarjo, Selasa (12/9/2023).

Brevet Penerbang TNI AL merupakan simbol pengakuan terhadap profesionalisme prajurit penerbang dan sebagai bentuk apresiasi bagi personel di luar Pusat Penerbangan TNI AL baik  militer maupun sipil yang telah berjasa memberikan kontribusi positif bagi kemajuan organisasi. Kegiatan tersebut dimeriahkan juga dengan aksi dua Helikopter AS-565 Mbe Panther dan Fly Pass enam pesawat G-36 Bonanza.

Pada upacara Penyematan Kehormatan Penerbang TNI AL tersebut, Komandan Puspenerbal Laksda TNI Imam Musani menyematkan Brevet kehormatan kepada Kasal Laksamana TNl Muhammad Ali.

Sebelum melaksanakan penyematan brevet, terlebih dahulu Kasal menjalani berbagai prosedur standar operasi penerbang yang meliputi cek kesehatan, menerima briefing dari instruktur, dilanjutkan Free Flight Inspection dan Start Engine dengan dilanjutkan prosesi menerbangkan pesawat Helikopter jenis AS-565 MBe Panther produksi PT. Dirgantara Indonesia.

ads

Kasal dalam sambutannya, menyampaikan bahwa peran Penerbangan Angkatan Laut sebagai komponen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL memiliki kelebihan pada aspek kecepatan dan manuver sehingga efektif sebagai attacking force, patrolling force, projecting force dan supporting force didukung fungsi yang dimiliki saat ini yaitu pengintaian maritim, anti kapal selam, anti kapal permukaan, pendaratan pasrat lintas heli, dukungan logistik cepat dan pengamatan laut dalam rangka penyelenggaraan operasi laut.

Usai penyematan brevet, Kasal melaksanakan peletakan batu pertama pembangunan monumen Kepak Sayap Rajawali Laut yang berlokasi di depan Museum Penerbangan TNI AL.

Monumen tersebut memiliki makna simbolis yang melambangkan awal dari sebuah perjalanan menuju prestasi dan penghormatan bagi para penerbang TNI AL. Monumen ini sebagai penghargaan terhadap semua penerbang TNI AL yang telah berjuang dan berkorban untuk negara, monumen ini akan menjadi titik inspirasi dan pengingat bagi generasi mendatang tentang dedikasi penerbang TNI AL dalam menjaga keamanan dan kedaulatan laut.

Harapannya dengan dibangun monumen ini adalah untuk memperkuat semangat dan rasa kebanggaan dalam kedinasan, serta mempererat ikatan antara anggota penerbangan TNI AL, dan mendukung pembangunan monumen ini sebagai bentuk komitmen untuk terus memajukan Penerbangan TNI AL.

Sejarah Penerbangan Angkatan Laut pernah menjadi kekuatan dan kemampuan yang diperhitungkan sekaligus disegani oleh negara kawasan Asia pada dekade ’60-an hingga ’70-an.

Peran Penerbangan Angkatan Laut sebagai komponen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL memiliki kelebihan pada aspek kecepatan dan manuver sehingga efektif sebagai attacking force, patrolling force, projecting force dan supporting force didukung fungsi yang dimiliki saat ini yaitu pengintaian maritim, anti kapal selam, anti kapal permukaan, pendaratan pasrat lintas heli, dukungan logistik cepat dan pengamatan laut dalam rangka penyelenggaraan operasi laut.

Pentingnya peran TNI AL dalam menjaga stabilitas dan kedaulatan laut, serta menjaga perdamaian di wilayah perairan Indonesia. Oleh karena Program pembangunan Penerbangan Angkatan Laut difokuskan pada kekuatan pesawat udara baik fixed wing maupun rotary wing yang berbasis pada capability dengan mengedepankan teknologi terkini, mission system, pesawat terbang tanpa awak (unmanned Aerial Vehicle/UAV), sesuai fungsi dalam operasi laut dan harus diintegrasikan dengan KRI.

Pembangunan penerbangan juga dimaksudkan sebagai perimbangan kekuatan negara-negara kawasan Asia dan menjaga keamanan serta kedaulatan laut yurisdiksi nasional.

Penerbangan Angkatan Laut dituntut untuk mampu mengembangkan diri seiring dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan pesawat udara maupun sistem kesenjataan yang digunakan sebagai alat pertahanan negara. Aspek keamanan dan keselamatan penerbangan harus menjadi basis utama dalam menjalankan kegiatan operasi dan latihan. Untuk itu sumber daya manusia penerbangan harus dapat ditingkatkan pengetahuan dan keterampilannya serta bersertifikasi.

(nald)