- iklan atas berita -

MetroTimes (Garut) – Petani hortikultura di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mulai memasuki babak baru pertanian berbasis teknologi melalui kolaborasi strategis antara pusat edukasi pertanian Eptilu dan Bank Indonesia. Inisiatif ini mendorong petani mengadopsi sistem pertanian presisi guna meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga stabilitas ekonomi daerah.

Ketua Eptilu Garut, Rizal Fahreza menjelaskan kepada media di acara Capacity Building Media Jawa Timur di Garut – Jawa Barat

Ketua Eptilu Garut, Rizal Fahreza, menjelaskan bahwa dukungan Bank Indonesia berperan penting dalam memperkuat inklusivitas serta implementasi teknologi modern di sektor hortikultura. Pendampingan dilakukan secara terstruktur dari hulu hingga hilir, mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penerapan teknologi produksi presisi, penyediaan input produksi, hingga kepastian akses pasar.

“Bank Indonesia memberikan pendampingan yang terarah, mulai dari capacity building, teknologi produksi secara presisi, penyediaan input produksi, hingga kepastian akses pasar. Ada evaluasi before dan after agar manfaatnya benar-benar terukur,” ujar Rizal saat kunjungan lapangan di pusat edukasi Eptilu, Jumat (14/2).

Dalam agenda yang menjadi bagian dari rangkaian Capacity Building Media Jawa Timur tersebut, Rizal memperlihatkan fasilitas Smart Green House serta kebun petik jeruk yang dijadikan lokasi percontohan. Program ini berfokus pada komoditas strategis seperti cabai, tomat, kentang, dan jeruk.

Ia menegaskan pentingnya mitigasi karakteristik tanah melalui uji laboratorium presisi, mengingat setiap lahan memiliki kebutuhan unsur hara berbeda. Uji tanah dilakukan untuk memastikan kandungan C-organik serta keseimbangan unsur hara sesuai kebutuhan tanaman sehingga produk hortikultura tetap sehat dan kompetitif.

ads

Rizal, yang merupakan lulusan Institut Pertanian Bogor, menambahkan bahwa kolaborasi ini juga menyentuh aspek pasca-panen. Eptilu mengembangkan teknologi pengolahan produk hortikultura agar komoditas seperti cabai tidak hanya dijual segar, tetapi juga diolah guna meningkatkan nilai tambah dan menjaga stabilitas harga saat panen melimpah.

Sebagai agregator bagi 125 petani binaan, Eptilu bertanggung jawab menjaga pengendalian kualitas agar produk memenuhi standar pasar dengan harga yang layak. “Petani tetap pemilik utama produksi. Kami di Eptilu membantu memastikan kualitas terjaga dan produk terserap pasar dengan harga yang baik,” tegasnya.

Modernisasi pertanian ini diharapkan mampu menekan inflasi daerah, khususnya dari komoditas cabai, sekaligus menjadi prototipe transformasi petani tradisional menuju petani modern yang mandiri dan berdaya saing global.

(nald)