
METROTIMES ( Ambon ) 24 Februari 2026 – Rempah legendaris Maluku, pala, kembali menorehkan jejaknya di kancah global. PT Kabong Tani Pala Maluku, salah satu pionir di industri ini, tak hanya fokus pada volume ekspor, tetapi juga pada visi besar untuk menyejahterakan petani dan memperluas jangkauan rempah Nusantara. Dalam wawancara eksklusif di Ambon, Nasytha Anjani Mukadar, Staf Administrasi dan Umum PT Kabong Tani Pala Maluku, membagikan strategi kualitas tak tertandingi dan secara blak-blakan mengungkapkan tantangan krusial yang masih menghambat impian ekspor langsung dari Bumi Rempah ini.
Visi Besar Mengglobal: Menjaga Kualitas, Menyejahterakan Petani
PT Kabong Tani Pala Maluku berdiri dengan visi mulia: “Menjadi pemasok utama rempah Maluku yang dipercaya dunia.” Visi ini diwujudkan melalui misi konkret: menyejahterakan petani, menjaga kualitas dengan standar modern, dan memperluas jangkauan rempah Nusantara. Sebuah komitmen yang tercermin dalam setiap langkah perusahaan.
9,5 Ton Pala Terbang ke Belanda: Dari Dapur Hingga Parfum Kelas Dunia!
Tahun ini, PT Kabong Tani Pala Maluku berhasil mengirimkan 9,5 ton pala ke pasar internasional. “Angka ini terdiri dari 5.500 kg nutmeg ABCD, 2.000 kg nutmeg shrivels, dan 2.000 kg base broken,” rinci Nasytha dengan bangga. Destinasi utamanya? Belanda, gerbang rempah Eropa.
Namun, pala Maluku ini bukan hanya sekadar bumbu dapur. Di tangan industri kreatif Eropa, ia bertransformasi menjadi bahan baku berharga untuk parfum, sabun mandi, dan berbagai produk kecantikan. “Bunga pala, khususnya, sangat diminati karena nilai jualnya tinggi dan multifungsi, terutama untuk industri parfum,” jelas Nasytha, membuka mata akan potensi luar biasa rempah ini. Hingga kini, PT Kabong Tani Pala Maluku telah mencapai sekitar 80% dari target ekspor mereka sejak tahun 2025.
Kualitas Adalah Kunci: Perang Melawan Aflatoksin di Ladang Petani
Di balik capaian ekspor, tersimpan perjuangan keras dalam menjaga kualitas. PT Kabong Tani Pala Maluku memiliki tim sourcing yang turun langsung ke lapangan, tidak hanya untuk membeli, tetapi juga untuk mengedukasi para petani. “Kualitas pala sangat tergantung pada waktu panen. Idealnya 9 bulan. Namun, seringkali petani memanen lebih awal, sekitar 7 bulan, mungkin karena kebutuhan ekonomi,” ungkap Nasytha.
Panen dini ini berisiko fatal: memicu pertumbuhan jamur aflatoksin. “Jika tingkat aflatoksin tinggi, pala tidak akan lolos uji lab dan otomatis tidak bisa diekspor,” tegas Nasytha. Ia menjelaskan perbedaan fisik pala yang dipanen di usia 6 bulan (keriput) dengan yang 9 bulan (bulat dan mulus), menegaskan betapa krusialnya edukasi panen tepat waktu. PT Kabong Tani Pala Maluku bermitra dengan sekitar 500 petani di berbagai desa seperti Jazira, Banda, Seram, dan Pulau Haruku, dengan 200 mitra aktif yang secara konsisten didampingi.
Kendala Fumigasi: Jeritan Eksportir di Tengah Dorongan Pemerintah
Ironi muncul di tengah semangat ekspor. Meskipun pemerintah gencar mendorong ekspor langsung dari Maluku, PT Kabong Tani Pala Maluku masih terbelenggu masalah fumigasi. “Kami terkendala di fumigasi,” aku Nasytha. Fasilitas fumigasi bersertifikasi internasional di Ambon sangat terbatas.
“Akibatnya, kami terpaksa melakukan restuffing barang di Surabaya untuk proses fumigasi di sana,” jelasnya. Perbedaan biaya menjadi alasan utama: mendatangkan fumigator bersertifikasi ke Ambon bisa mencapai Rp 20 juta, sementara di Surabaya hanya Rp 3-4 juta. “Ini membuat kami harus memilih solusi yang lebih ekonomis, meskipun itu berarti mengorbankan impian ekspor langsung dari Maluku,” keluhnya.
Nasytha berharap pemerintah dapat lebih proaktif dengan menempatkan fasilitas fumigasi bersertifikasi atau mendorong keberadaan fumigator yang bisa stay di Ambon secara permanen, asalkan volume ekspor Maluku terus meningkat secara konsisten.
Membangun Masa Depan: Kolaborasi dan Fasilitas Pelabuhan Ramah Produk Pangan
Mengakhiri wawancara, Nasytha menyampaikan harapan besar untuk masa depan. “Semoga pala Maluku menjadi sumber penghasilan utama yang menyejahterakan masyarakat, dan pemerintah dapat berkolaborasi lebih erat dengan kami para eksportir untuk membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi generasi muda Maluku,” harapnya.
Harapan lain ditujukan pada fasilitas pelabuhan. “Karena produk kami adalah bahan makanan olahan, kebersihannya harus terjaga ekstra. Kami sangat berharap ada tempat khusus di pelabuhan untuk kontainer ekspor produk makanan, terpisah dari kontainer produk berbau menyengat seperti kopra atau bahan lainnya yang bisa menyebabkan kontaminasi,” pinta Nasytha, menggarisbawahi komitmen PT Kabong Tani Pala Maluku untuk memastikan pala Maluku tiba di meja konsumen dunia dalam kualitas prima.( Tasya Patty )




