- iklan atas berita -

METROTIMES ( Ambon, ) 24 Februari 2026 – Di tengah pesatnya geliat ekonomi global, Bea Cukai Pelabuhan Yos Sudarso Ambon tampil sebagai garda terdepan dalam merumuskan strategi jitu untuk membawa produk unggulan Maluku langsung ke panggung internasional. Dalam wawancara eksklusif bersama Sunarko kepala seksi pelayanan kepabeanan dan cukai yang juga merupakan dukungan teknis kantor pengawasan dan pelayanan bea dan cukai TMP C Ambon di kantornya, Narko dari Bea Cukai Ambon secara gamblang membeberkan visi ambisius untuk mendongkrak ekspor Maluku, termasuk pala legendaris, dan mengatasi berbagai tantangan logistik.

Dari ‘Numpang Lewat’ Menuju Kemandirian Ekspor

Selama ini, ekspor dari Maluku bagaikan “numpang lewat”. “Dulu, produk seperti damar dan pala, bill of lading-nya (BL) tercetak di Surabaya atau Makassar. Artinya, ekspor Maluku terdaftar di luar provinsi sendiri,” ungkap Narko. Namun, kini Bea Cukai Ambon bersama “Tim Percepatan Ekspor” yang melibatkan Disperindag, dan Karantina, bertekad mengubah paradigma ini. “Kami ingin ekspor tercatat di sini, di Maluku. Ini krusial untuk meningkatkan devisa daerah dan membangkitkan potensi Ambon,” tegasnya.

“Ekspor Lanjut Muat”: Solusi Cerdas Hadapi Keterbatasan Infrastruktur

Ambon memang belum memiliki pelabuhan besar dengan kapal internasional yang langsung berangkat ke luar negeri. Untuk itu, Bea Cukai memperkenalkan kebijakan inovatif “ekspor lanjut muat”. “Barang boleh dikirim menggunakan kontainer lokal hingga Surabaya, lalu di sana di-stuffing ulang ke kontainer internasional,” jelas Narko. Kebijakan ini adalah jawaban pragmatis terhadap volume ekspor Maluku yang masih relatif kecil, yang belum cukup menarik minat pelayaran internasional untuk singgah langsung.

ads

Pelayanan Nol Biaya Demi Devisa Negara

Yang lebih mencengangkan, Bea Cukai Ambon tidak memungut biaya sepeser pun untuk pelayanan ekspor. “Hampir semua barang ekspor dari Maluku tidak dikenakan biaya keluar. Tidak ada PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), segala macam tidak ada,” seru Narko. Ini adalah bentuk komitmen kuat Bea Cukai untuk mendorong perdagangan positif dan meningkatkan devisa negara. “Jika eksportir merasa ada pungutan liar, kami minta segera laporkan!” tambahnya.

Pala, Udang, Minyak Bumi: Harta Karun Maluku Menanti Sentuhan Ekspor

Narko menyoroti berbagai potensi ekspor Maluku:

– Udang Kepala Besar: “Nalsar Indonesia pertama ada di Pulau Seram, di Osi. Ekspor udang ke China dilakukan hampir dua kali dalam tiga bulan,” ujarnya.
– Minyak Bumi: Meskipun ekspornya musiman, minyak bumi dari Kilang Bula pernah diekspor ke Singapura.
– Pala: “Hasil palanya banyak, khususnya dari Pulau Seram, Pulau Buru, dan Ambon,” kata Narko. Namun, ia menyayangkan masih sedikit yang diekspor langsung.

Ia juga menyoroti potensi besar minyak kayu putih Buru dan kopra yang belum tergarap maksimal. “Kopra bahkan belum pernah ada ekspor sama sekali karena belum ada pengolahan di sini,” jelasnya.

Mencetak Eksportir Baru: Kunci Kemakmuran Masa Depan

Bea Cukai tidak hanya mengawasi, tetapi juga aktif memfasilitasi melalui “Klinik Ekspor” dan tim dukungan ekspor internal maupun provinsi. “Kami punya target untuk peningkatan devisa ekspor dan mencetak eksportir perdana UMKM,” tegas Narko.

“Semakin banyak ekspor, multiplier effect-nya akan sangat besar, seperti peningkatan PAD daerah dan lapangan kerja. Kami sangat senang jika bisa menciptakan eksportir baru dari Maluku,” pungkas Narko, optimistis menyambut era kemajuan ekspor Maluku. ( Tasaya Patty )