- iklan atas berita -

Metro Times (Purworejo)-Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Purworejo menggelar Festival Literasi 2025. Bertema “Purworejo Berseri Pinter Bocahe”, kegiatan ini menjadi penanda dimulainya gerakan baru literasi di daerah tersebut.

Festival Literasi dilaksanakan di Halaman Gedung Perpustakaan Daerah dan akan berlansung selama 10 hari sejak 8 Agustus lalu. Beragam lomba dan kegiatan turut memeriahkan Festival Literasi pertama di Purworejo tersebut.

Pada kesempatan itu Bupati Purworejo, Yuli Hastuti sebagai Bunda Literasi melaunching logo baru perpustakaan serta mengukuhkan bunda-bunda literasi dari seluruh kecamatan.

Kepala Dinas Perpusip Purworejo, Stevanus Aan pada kegiatan tersebut, Senin (11/8) mengutarakan terkait literasi ada beberapa hal yang kedepan perlu menjadi gerakan bersama. Gerakan ini selaras dengan visi misi bupati, dimana salah satu program unggulannya adalah pinter bocahe.

“Ini menjadi salah satu yang melatarbelakangi kegiatan ini. Kedua, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Purworejo saat ini masih diangka sedang dengan nilai 78,32. Masih lebih bagus Magelang diangka 80. Maka untuk Purworejo perlu ada gerakan bersama,” ucap Aan.

ads

Ia juga mengemukakan bahwa indikator ketercukupan koleksi di perpustakaan Purworejo baru 46 persen. Masih membutuhkan setidaknya 841 judul buku. Untuk itu pihaknya berharap hal ini menjadi prioritas Purworejo pada 5 tahun kedepan.

“Dengan berbagai kekurangan itu maka kami merancang untuk membuka ruang dengan membuat branding baru dalam gerakan literasi. Dengan branding baru, kedepan Perpustakaan bukan sekadar tempat membaca, lebih dari itu akan menjadi sumber edukasi, literasi dan inklusif. Kita sudah siapkan logo sebagai simbul gerakan yang baru,” ujarnya.

Berikutnya, lanjut Aan, pada 23 mei lalu
ada 9 bunda literasi yang ditunjuk di sembilan kabupaten. Purworejo menjadi salah satu daerah yang mana bunda literasi dijabat langsung oleh bupati. Saat ini bunda literasi pun sudah ada di setiap kecamatan.

“ini tak hanya menjadi simbol tapi juga sebagai semangat baru bagi gerakan literasi sekaligus upaya untuk mendorong peningkatan IPLM Purworejo,” kata dia lagi.

Terkait Festival Literasi, kegiatan ini baru pertama kali dilaksanakan di Purworejo. Ia berharap kedepan menjadi kegiatan rutin yang digelar setiap tahun.

Selain pameran buku, pada festival tersebut panitia juga menyiapkan pameran seni rupa serta berbagai lomba, bedah buku serta kegiatan lain berbasis komunitas. Dewan kesenian pun turut memeriahkan acara tersebut hingga akhir.

“Sebagai salah satu upaya mendorong budaya membaca kami juga sudah menjalin kerja sama dengan SD mutiara ibu untuk melakukan gerakan membaca satu bulan satu buku,” pungkasnya.

Bupati Purworejo pada kesempatan itu mengatakan, festival ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan gerakan membaca, menulis dan berfikir kritis bagi masyarakat. Tema yang diambil dala festival ini bukan sekadar ungkapan namun sebagai tekad bersama untuk membentuk generasi yang cerdas, kreatif dan berdaya saing.

Bupati pun menyambut baik logo baru perpustakaan umum Purworejo. Hal ini dinilai sebagai langkah kecil namun bermakna besar. Logo melambangkan semangat baru perpustakaan sebagai ruang yang inklusif sekaligus membawa pesan bahwa perpustakaan adalah rumah besar bagi gagasan, inovasi dan kolaborasi

Yuli mengajak bunda literasi menjadi penggerak yang aktif serta inspirasi di komunitas masing-masing. Para bunda pun diminta menjembatani gerakan literasi dari desa hingga kota.

“Mari kita jadikan gerakan literasi menjadi lompatan besar menuju Indonesia emas 2045. Ajak seluruh masyarakat mendukung penguatan literasi sebagai investasi masa depan demi membentuk generasi yang berkualitas,” demikian imbau bupati.(tyb)