- iklan atas berita -

Metro Times (Pekalongan) – Pengurus Wilayah Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PW IKA-PMII) Jawa Tengah getol menggelorakan wawasan kebangsaan kepada masyarakat dengan menggelar seminar pendidikan politik di berbagai daerah. Kali ini, seminar digelar di Pekalongan, Minggu (11/6).

Ketua Umum PW IKA-PMII Jawa Tengah, Prof. Dr. H. Musahadi, M.Ag, mengungkapkan, bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan pemahaman kita tentang ideologi Pancasila dan mengokohkan bangunan kebangsaan kita yang sebentar lagi memasuki tahun politik jelang pemilu 2024.
“Sekarang bangsa kita sudah mulai matang dalam berdemokrasi. Reformasi yang sudah 25 tahun telah menjadi pembuka bagi demokratisasi di Indonesia. Sekarang siapa saja bisa menjadi penguasa asal bisa memenangkan kompetisi dalam pemilu. Cuma sistem politik kita yang terbuka ini berbiaya mahal karena para politisi kebanyakan mengunakan cara instan untuk mendapatkan dukungan pemilih misalnya dengan memberi sejumlah uang atau pemberian,” kata Musahadi

Lebih jauh, Prof. Musa menyoroti kecenderungan sekarang yang dominan adalah politisi yang hanya berfikir bagaimana merebut kekuasaan tetapi jarang yang menjadi negarawan untuk menonjolkan politik kebangsaan dan kerakyatan.
“Para politisi yang berebut kekuasaan diharapkan bisa menjadi negarawan dengan menjaga kesatuan bangsa dengan menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Kita sekarang di bulan Juni yang dikenal sebagai bulan lahirnya Pancasila sebagai falsafah dan ideologi bangsa kita,” tuturnya

Anggota DPR RI Drs. H. Bisri Romly, MM mengungkapkan, bahwa berpolitik itu wajib untuk mewujudkan kemaslahatan umat. Dalam agama kita dianjurkan untuk menjaga amanah rakyat.
“Saya sudah tiga periode menjadi anggota dewan di Senayan dan berjuang utuk menyampaikan aspirasi masyarakat. Kita punya cara pandang bahwa NKRI dan bangsa harus dijaga tetap utuh,” tutur Bisri Romly

Pembicara berikutnya adalah seorang aktivis perempuan, Khizanaturrohmah, MSI, mengungkapkan, bahwa budaya politik kita sudah semakin membaik dengan kuota 30% perempuan guna mendorong kesetaraan laki-laki dan perempuan di ruang publik termasuk dengan meningatkan gerakan advokasi terhadap kaum perempuan.
“Namun upaya diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum perempuan masih sering terjadi dan itu yang menjadi motivasi saya untuk terjun berpolitik,” ucap dia.

ads

Sementara itu, Ketua Komisi E DPRD Jateng, Abdul Hamid, S.Pd menyampaikan, bahwa situasi politik kita pemilih semakin cerdas bahwa tidak semua pemilih itu pragmatis yang hanya menjadikan uang sebagai penentu dukungan politik.
”Justru yang paling penting adalah bagaimana para caleg menunjukkan kiprah dan perjuangan untuk masyarakat, dekat dengan rakyat dan selalu hadir di tengah-tengah rakyat sehingga perjuangannya senafas dengan harapan rakyat,” kata dia. (af).