- iklan atas berita -

Orin Craft Gelar Seminar untuk Tingkatkan Wawasan Kebangsaan Bagi Pelajar SLTA dan Santri

Metro Times (Semarang) – Globalisasi ditandai dengan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat. Hampir mayoritas penduduk bumi sudah tergantung dengan internet. Pada masa sekarang ini transformasi ilmu pengetahuan sangat mudah diterima oleh generasi muda seiring dengan pesatnya teknologi informasi (Handphone) maupun pesatnya perkembangan media sosial (Facebook, twitter, Instagram, Tiktok, dan lain-lain) yang dampaknya memudahkan pertukaran informasi di kalangan masyarakat. Berbagai macam ideologi politik dan ekonomi sangat mudah dikonsumsi oleh masyarakat tanpa ada reserve.

Demikian itu disampaikan Arina Rohmah, S.Psi.I, Ketua Perkumpulan Orin Craft Semarang dalam sambutan pembukaan kegiatan seminar penguatan wawasan kebangsaan bagi pelajar SLTA dan santri dengan tema: ”Tantangan Generasi Muda di Era Globalisasi; Meneguhkan Cinta Tanah Air dan Bangsa Bagi Generasi Muda di Era Disrupsi” di Aula Azzahro, Penggaron Kidul Pedurungan Semarang, baru-baru ini.

“Dampak dari internet dan media sosial memang ada sisi positif. Pada satu sisi memudahkan komunikasi dan pembangunan sumberdaya manusia (SDM) tetapi pada saat yang sama juga mudah dipengaruhi berbagai ideologi dan pemikiran yang berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga dunia sekarang mengalami fase era disrupsi (Disruption) atau era post truth dimana kebenaran tidak lagi sesuai dengan kebenaran faktual maupun rasional,” ucap dia.

Narasumber seminar, Hj. Amalia Hamdanah, SIP, selaku Ketua Dewan Pembina Yayasan Azzahro mengungkapkan, bahwa generasi muda usia 15-18 tahun yang sekarang masih duduk di sekolah merupakan generasi masa depan yang harus dibina dengan baik karena rentan dan mudah dipengaruhi oleh ideologi-ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila.

ads

Menurut dia, ideologi-ideologi yang dimaksud adalah ideologi radikal dan fundamentalis baik yang berwajah agama maupun ekonomi politik seperti paham komunisme. Karena itu, keberadaan handphone dan internet harus digunakan untuk memperkokoh kesatuan bangsa.
“Pelajar dan santri akan selalu menjadi bagian garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI, Pancasila, UUD 45 dan Bhinneka Tunggal Ika. Untuk itu, pada bulan Juni yang dijadikan sebagai bulan lahirnya Pancasila ini perlu dipupuk kembali jiwa nasionalisme dan semangat kebangsaan bagi generasi muda,” tutur dia.

Sependapat dengan Hj. Amalia Hamdanah. Kepala SMA At-Thohiriyah, Hj. Ni’matul Aliyah, MSI, mengajak orang tua untuk bisa ikut aktif dalam mendidik anak-anaknya di rumah agar menggunakan media sosial untuk hal-hal yang baik, tidak mudah percaya dengan berita hoax, dan bersama-sama dengan warga lingkungan menjaga dari pergaulan bebas misalnya dengan memperbanyak taman baca masyarakat agar anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu dengan membaca buku daripada main Handphone.

Sementara itu, HM Hendri Wicaksono, S.Pd, dari Yayasan Ikmal menyatakan, bahwa pada tangal 1 bulan Juni kita memperingati hari Pancasila untuk mengenang tokoh-tokoh kita dulu merumuskan falsafah dasar negara Pancasila dan Membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan ideologi Pancasila tersebut.
“Mari kita memupuk rasa solidaritas sosial dan menumbuhkan jiwa tanggung jawab yang tinggi terhadap generasi muda sebagai calon penerus perjuangan bangsa dan negara. Dengan memupuk jiwa cinta tanah air dan bangsa di kalangan generasi muda maka akan membuat masa depan bangsa ini cerah,” ucap Hendri. (af).