
MetroTimes (Surabaya) – Rektor Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Mohammad Nasih, MT., Ak., CA., menyampaikan pandangan strategisnya dalam acara pengukuhan guru besar di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR. Dalam pidatonya, Prof. Nasih menekankan pentingnya kontribusi dunia akademik, khususnya para guru besar, dalam memajukan kesejahteraan bangsa melalui inovasi dan pemikiran strategis yang berdampak nyata bagi masyarakat.
“Dari 174 guru besar UNAIR, 20% di antaranya berasal dari bidang desain kapasitas ekonomi dan bisnis. Ini adalah energi luar biasa yang harus terus kita dorong untuk memberikan kontribusi maksimal terhadap kesejahteraan umat manusia dan bangsa,” ujarnya.
Prof. Nasih menyoroti bahwa kesejahteraan tidak hanya diukur dari meningkatnya pendapatan semata, melainkan juga dari aspek pemerataan dan kualitas hidup, termasuk lingkungan yang sehat, ketersediaan pangan, dan ketahanan ekonomi.
“Lingkungan yang baik adalah indikator kesejahteraan. Tanpa lingkungan yang sehat dan produktif, mustahil kita bisa bicara tentang pangan yang cukup, apalagi tentang produktivitas dan stabilitas ekonomi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa konsep ekonomi hijau (green economy) dan lingkungan hijau (green environment) menjadi penting dalam membangun masa depan yang berkelanjutan.
Solusi Terhadap Gelombang PHK: Investasi sebagai Jawaban
Menanggapi fenomena gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda sejumlah sektor, Prof. Nasih menyatakan bahwa solusi utama untuk mengatasi hal ini adalah melalui peningkatan investasi. “Kalau tidak ada investasi, tidak akan ada lapangan kerja. Inovasi saja tidak cukup tanpa investasi yang membawa produk ke tahap produksi,” katanya.
Ia menilai bahwa perbankan memiliki peran besar dalam mendorong investasi, terutama jika bunga pinjaman untuk industri produktif bisa ditekan. “Dana-dana idle sebaiknya disalurkan untuk mendukung sektor produktif. Jangan hanya mengejar keuntungan finansial, tapi pikirkan juga pertumbuhan ekonomi dan serapan tenaga kerja,” tambahnya.
Prof. Nasih juga mengajak para guru besar untuk aktif menyumbangkan pemikiran dan solusi konkret kepada pemerintah. “Kami akan berkumpul dan menyampaikan konsep terbaik, agar lembaga-lembaga bisa digunakan secara optimal dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.”
Keadilan dan Fair Play dalam Dunia Akademik dan Sosial
Dalam bagian akhirnya, Prof. Nasih menekankan pentingnya menjunjung nilai-nilai keadilan dan fair play, tidak hanya dalam dunia akademik tetapi juga dalam kompetisi sosial secara umum. “Universitas tidak menuntut yang muluk-muluk. Lebih baik tidak mendapatkan piala daripada mendapatkannya dengan cara curang,” tegasnya.
Ia menutup dengan pesan moral agar semua pihak menjunjung solidaritas dan etika dalam berkompetisi: “Menang tidak boleh dengan mencederai keadilan. Fair play adalah dasar dari integritas.”
(nald)




