
MetroTimes (Surabaya) – Reno Halsamer, budayawan, agamawan, kreator, pengusaha, pendiri Minilemon Studio serta Indonesian Heritage Museum, menegaskan bahwa pembentukan karakter anak harus dimulai sejak usia dini melalui pendekatan yang menyentuh hati. Salah satu gagasan yang kini tengah dikembangkannya adalah program Bedtime Story, kumpulan cerita pendek berbasis animasi yang ditujukan untuk membantu orang tua membangun komunikasi sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak sebelum tidur.

Menurut Reno, membentuk karakter remaja jauh lebih sulit karena mereka telah tumbuh bersama gawai dan terpapar beragam konten digital sejak kecil. Karena itu, ia meyakini masa emas pembentukan karakter berada pada rentang usia 4 hingga 12 tahun.
“Kalau anak sudah remaja, mengubah cara berpikirnya jauh lebih berat. Harapan saya, pendidikan karakter dimulai sejak anak usia 4 sampai 12 tahun. Dan itu tidak bisa tanpa peran penuh orang tua,” ujarnya.
Ia mengakui anak-anak saat ini tidak mungkin dipisahkan dari gadget. Namun, menurutnya yang paling penting adalah orang tua hadir sebagai pendamping, bukan sekadar membatasi penggunaan teknologi.
“Anak tidak mungkin dijauhkan dari gadget. Yang bisa dilakukan adalah mendampingi mereka melalui cerita-cerita yang membangun cara berpikirnya,” katanya.
Reno mengenang masa kecilnya yang tumbuh di lingkungan keras. Meski demikian, cerita-cerita yang disampaikan orang tuanya setiap malam sebelum tidur tentang nilai kehidupan dan ajaran agama tetap melekat hingga dewasa.
“Ketika kita kecil, apa yang dituliskan dalam hati kita, itu sulit dihapus. Lingkungan saya keras, tetapi hati saya tetap menerima nilai-nilai baik yang ditanamkan orang tua melalui cerita,” ungkapnya.
Berangkat dari pengalaman tersebut, Reno merancang Bedtime Story sebagai media komunikasi antara orang tua dan anak. Baginya, cerita sebelum tidur bukan hanya hiburan, melainkan ruang membangun kedekatan emosional.
“Dengan membangun cerita kepada anak sebelum tidur, kita membuka ruang agar mereka berani bercerita. Pendekatannya dari hati ke hati, dan itu jauh lebih mudah dilakukan sejak dini,” jelasnya.
Reno menilai animasi memiliki kekuatan besar dalam membentuk karakter karena anak-anak saat ini lebih mudah menerima pesan melalui media visual dibandingkan bacaan.
“Hari ini media yang paling mudah diterima adalah visual. Dari situlah kita bisa menanamkan nilai-nilai positif. Kekuatan gambar ada pada narasi,” katanya.
Karena itu, ia meyakini film animasi bukan sekadar industri hiburan, tetapi juga instrumen pendidikan karakter sekaligus investasi peradaban.
Ia mencontohkan bagaimana karakter animasi dari berbagai negara mampu memengaruhi pola pikir anak-anak hingga menjadi bagian dari budaya populer dunia.
Menurutnya, Indonesia juga harus memiliki karakter animasi nasional yang membawa identitas bangsa sekaligus menyampaikan pesan moral.
“Jangan hanya bangga anak Indonesia terlibat membuat film luar negeri. Kita juga harus melahirkan karya besar untuk bangsa sendiri,” ujarnya.
Konsep Bedtime Story yang sedang dikembangkan Minilemon berbeda dengan film animasi berdurasi panjang.
Jika film layar lebar lebih berorientasi pada industri kreatif, maka Bedtime Story berupa cerita singkat berdurasi sekitar dua hingga lima menit yang berisi satu pesan moral sederhana.
Reno memberi contoh kisah tentang enam sahabat yang mendapat durian dari kakek Togar. Karena tergoda, dua tokoh utama memakan seluruh durian tanpa menunggu teman-temannya. Cerita kemudian berakhir dengan keberanian mengakui kesalahan, meminta maaf, dan belajar memaafkan.
“Pesannya cukup satu saja. Misalnya tentang meminta maaf. Tidak perlu terlalu banyak pesan dalam satu cerita agar mudah dipahami anak,” katanya.
Setiap cerita juga akan dilengkapi penjelasan sederhana yang membantu orang tua menjelaskan nilai moral maupun pengetahuan kepada anak.
Reno menegaskan Bedtime Story tidak disusun secara asal. Minilemon akan melibatkan akademisi dari berbagai perguruan tinggi, terutama bidang budaya dan psikologi, agar setiap cerita sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Cerita nantinya akan dikelompokkan berdasarkan usia, mulai 4–6 tahun, 6–8 tahun, hingga 10–12 tahun, serta disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan karakter masing-masing.
Selain itu, tersedia pula kategori cerita bertema budaya, toleransi, agama, dan nilai-nilai kebangsaan yang dikemas secara inklusif.
“Kami tidak ingin membuat cerita tanpa riset. Semua harus berbasis kajian agar benar-benar menjawab kebutuhan anak pada setiap jenjang usianya,” jelasnya.
Reno berharap pengembangan Bedtime Story mendapat dukungan pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas keagamaan, hingga keluarga.
Menurutnya, perubahan karakter anak tidak mungkin dilakukan oleh satu pihak saja.
Ia juga mengajak industri kreatif Indonesia untuk lebih banyak menghasilkan konten visual yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membangun karakter, toleransi, kepedulian, dan kasih sayang.
“Harapan saya, lahir semakin banyak konten yang disukai anak-anak, tetapi sekaligus mengajarkan mereka menjadi pribadi yang baik, menghormati orang tua, cinta damai, dan menghargai sesama,” tuturnya.
Reno menambahkan, komunikasi sederhana selama sekitar 30 menit sebelum anak tidur dinilai sudah cukup untuk membangun ikatan emosional. Ia mengingatkan bahwa peran tersebut bukan hanya tanggung jawab ibu, tetapi juga ayah.
“Jangan pernah merasa anak baik-baik saja hanya karena diam saat memegang gadget. Orang tua harus hadir, memilihkan tontonan, menyediakan waktu berbicara, dan membangun komunikasi dari hati ke hati. Di situlah karakter anak mulai terbentuk,” pungkasnya.
(nald)




