Sarasehan tersebut menghadirkan Prof. Dr. KH. Asep Saifudin Chalim, MA., sebagai keynote speaker. Sementara itu, Prof. Usep Abdul Matin, S.Ag., MA., MA., Ph.D., dan Yahya Muhammad, S.Fil., M.Fil., hadir sebagai pemateri. Diskusi dipandu Miftah Jauhari, SE., selaku moderator.
- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gubeng, Kota Surabaya, menggelar Sarasehan Santri 2026 pada Jumat, 23 Oktober 2026, di Aula JKSN, Jalan Siwalankerto Utara II Nomor 40 A, Surabaya. Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat peran santri dalam menjaga tradisi keagamaan, menumbuhkan semangat kebangsaan, serta mempersiapkan generasi muda Nahdliyin menghadapi tantangan zaman.

Sarasehan tersebut menghadirkan Prof. Dr. KH. Asep Saifudin Chalim, MA., sebagai keynote speaker. Sementara itu, Prof. Usep Abdul Matin, S.Ag., MA., MA., Ph.D., dan Yahya Muhammad, S.Fil., M.Fil., hadir sebagai pemateri. Diskusi dipandu Miftah Jauhari, SE., selaku moderator.

Prof. Dr. KH. Asep Saifudin Chalim, MA.

Dalam pemaparannya, Kiai Asep menekankan bahwa perjuangan santri dan ulama pada masa kemerdekaan harus dilanjutkan melalui pendidikan, penguatan karakter, serta kontribusi nyata untuk mewujudkan Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur.

Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjuangan para ulama dan santri. Kiai Asep menyinggung peran laskar Hizbullah yang dipimpin KH Zainul Arifin dan Sabilillah yang dipimpin KH Mas Mansur sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa.

ads

Menurutnya, semangat perjuangan tersebut harus terus dihidupkan oleh Nahdlatul Ulama (NU), bukan hanya melalui kegiatan keagamaan, tetapi juga melalui upaya nyata memperbaiki kehidupan masyarakat.

“Keberhasilan cita-cita luhur kemerdekaan adalah terwujudnya kesejahteraan dan tegaknya keadilan,” tegasnya.

Empat Pilar untuk Mewujudkan Indonesia Maju

Kiai Asep menjelaskan, Indonesia membutuhkan empat unsur penting untuk mewujudkan cita-cita menjadi negara yang maju, adil, dan makmur.

Pertama, ulama dan ilmuwan yang memiliki kapasitas keilmuan tinggi, mampu menerangi masyarakat, serta memberikan referensi dan pemikiran bagi penyelenggaraan pemerintahan.

Kedua, birokrat yang adil dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan dan kebijakan pemerintah harus dijalankan berdasarkan kemaslahatan rakyat.

Ia mengutip prinsip tasharruful imam ‘ala ar-ra’iyyah manuthun bil mashlahah, yang bermakna kebijakan pemimpin terhadap rakyat harus berlandaskan kemaslahatan.

Ketiga, pengusaha dan konglomerat yang dermawan serta memiliki kepedulian terhadap pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan ekonomi seharusnya tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang lemah untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Keempat, tenaga profesional yang berkualitas dan bertanggung jawab dalam mendukung pembangunan bangsa.

Kiai Asep juga menyampaikan kritik terhadap praktik korupsi dan oligarki yang dinilai dapat menghambat pemerataan kesejahteraan. Ia mengingatkan bahwa pengelolaan sumber daya alam dan kekuatan ekonomi semestinya diarahkan untuk kepentingan masyarakat luas.

Karena itu, ia mendorong NU mengambil peran dalam mempersiapkan generasi yang mampu mengisi berbagai bidang strategis, mulai dari pendidikan, pemerintahan, ekonomi, hingga profesi profesional.

Pendidikan Santri Harus Melahirkan Ulama dan Pemimpin

Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, Kiai Asep menekankan pentingnya pendidikan yang sungguh-sungguh dan terarah. Santri tidak cukup hanya mengikuti proses pembelajaran, tetapi harus benar-benar menguasai ilmu yang dipelajari.

Ia mencontohkan pendidikan di Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang menekankan kemampuan membaca Al-Qur’an, menghafalkannya, serta memahami kitab-kitab keislaman.

Menurutnya, pendidikan harus menyesuaikan pendekatan dengan kemampuan peserta didik. Santri yang berasal dari latar belakang pendidikan berbeda perlu dibimbing secara bertahap agar mampu mencapai standar kompetensi yang diharapkan.

Kiai Asep juga mendorong generasi muda NU aktif mengikuti organisasi seperti IPNU, IPPNU, PMII, dan Ansor. Melalui organisasi tersebut, para santri dan pelajar dapat belajar kepemimpinan, membangun solidaritas, serta memahami tanggung jawab sosial.

Namun, aktivitas organisasi harus tetap berorientasi pada pengabdian dan tidak meninggalkan nilai-nilai keislaman.

Selain menyiapkan kader ulama dan pemimpin, Kiai Asep mendorong generasi muda agar memiliki kesempatan berkembang sebagai pengusaha dan tenaga profesional. Menurutnya, NU perlu menyiapkan kader yang mampu berkontribusi di berbagai bidang kehidupan.

Ia menegaskan bahwa cita-cita besar harus disertai usaha, kedisiplinan, pendidikan, dan kesungguhan dalam menjalani proses.

Dari Kuli Bangunan hingga Profesor, Kiai Asep Ajak Santri Berani Bercita-cita Tinggi

Dalam sarasehan tersebut, Kiai Asep turut membagikan perjalanan hidupnya untuk memotivasi para santri dan warga NU agar tidak mudah menyerah karena keterbatasan latar belakang.

Ia menceritakan bahwa dirinya pernah bekerja sebagai kuli bangunan sebelum menempuh perjalanan panjang hingga menjadi profesor doktor.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa keadaan seseorang pada masa lalu tidak harus menentukan batas pencapaiannya di masa depan.

“Karena bercita-cita yang tinggi, saya berkembang. Kenapa? Ada cita-cita, ada keinginan keras,” ujarnya.

Ia juga mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ankabut ayat 69 yang menjelaskan bahwa orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan-Nya akan mendapatkan petunjuk menuju jalan-jalan kebaikan.

Melalui pesan itu, Kiai Asep mengajak generasi muda untuk berani menentukan tujuan hidup, bekerja keras, dan terus meningkatkan kapasitas diri.

Ia juga mengapresiasi peran Muslimat NU dan warga NU di kawasan Gubeng. Menurutnya, semangat pengabdian yang tumbuh di wilayah tersebut perlu diperluas ke seluruh kecamatan di Surabaya agar gerakan NU semakin kuat dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

MWCNU Gubeng Perkuat Khidmat dan Program Berbasis Kebermanfaatan

Ketua Tanfidziyah MWCNU Gubeng Surabaya, KH Samsuri

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah MWCNU Gubeng Surabaya, KH Samsuri, mengatakan Sarasehan Santri 2026 menjadi momentum untuk memperkuat semangat pengabdian para pengurus dan penggerak NU.

Ia menjelaskan, pesan Kiai Asep mengingatkan kembali pentingnya melanjutkan perjuangan ulama, termasuk semangat Resolusi Jihad yang menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan NU dan bangsa Indonesia.

Menurut KH Samsuri, seluruh pengurus NU di tingkat kecamatan dan ranting perlu memperkuat persatuan serta menjalankan program yang memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

MWCNU Gubeng menaungi enam ranting yang tersebar di enam kelurahan. Seluruh unsur tersebut diharapkan dapat bersinergi dalam mengembangkan kegiatan keagamaan, pendidikan, sosial, dan kebudayaan.

Sejumlah kegiatan yang menjadi perhatian antara lain Lailatul Ijtima, Lesbumi, Ahad Dhuha, dan Khotmil Qur’an. Program-program tersebut diharapkan menjadi sarana mempererat ukhuwah, meningkatkan pemahaman keagamaan, serta menjaga kesinambungan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah di tengah masyarakat.

KH Samsuri juga menjelaskan bahwa MWCNU Gubeng tengah memperkuat koordinasi kelembagaan seiring perkembangan kebijakan organisasi pascamuktamar NU.

Sejumlah lembaga yang menjadi perhatian untuk diaktifkan dan dikembangkan kembali antara lain Lembaga Bahtsul Masail, Lazisnu, Lesbumi, dan LP Ma’arif.

Selain itu, MWCNU Gubeng berencana menghidupkan kembali kegiatan pengajian dan madrasah diniyah sebagai bagian dari penguatan pendidikan keagamaan.

Menurutnya, keberadaan lembaga dan program tersebut penting agar pelayanan NU kepada masyarakat tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi berlangsung secara berkelanjutan dan menjawab kebutuhan warga.

Hadapi Tantangan Generasi Z dengan Pendekatan yang Relevan

Salah satu perhatian utama MWCNU Gubeng adalah menjaga kedekatan generasi muda dengan tradisi keagamaan dan kegiatan sosial di tengah perkembangan teknologi digital.

KH Samsuri mengakui bahwa generasi Z menghadapi tantangan yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Kemudahan mengakses telepon pintar, media sosial, dan berbagai komunitas digital turut memengaruhi pola interaksi anak muda dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, NU perlu menghadirkan pendekatan yang relevan dengan kehidupan generasi muda tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan dan tradisi Nahdliyin.

Kegiatan seperti shalawat, Lailatul Ijtima, Ahad Dhuha, dan pengajian bersama para masyayikh dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk membangun interaksi sosial, memperkuat spiritualitas, serta belajar menghargai kebersamaan.

Ia mengingatkan para pengurus NU agar tidak berhenti menyosialisasikan amaliah Nahdliyah kepada kalangan muda. Pendampingan harus dilakukan secara konsisten agar generasi muda memahami tradisi yang diwariskan para ulama dan mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau kita berhenti menyosialisasikan amaliah-amaliah kita, mereka akan mengikuti arus yang tidak tahu arahnya. Karena itu, kita harus mendampingi dan mengawal ke mana mereka akan berlabuh, setidaknya berlabuh kepada kebaikan dengan mengikuti tradisi amaliah An-Nahdliyah,” tutur KH Samsuri.

Ia menilai pendekatan kepada generasi muda tidak cukup hanya melalui nasihat atau larangan. NU perlu menciptakan ruang kegiatan yang menarik, membangun komunikasi yang baik, dan memanfaatkan media yang akrab dengan kehidupan mereka.

Media Sosial Bisa Menjadi Sarana Dakwah

Dalam menghadapi perkembangan teknologi, KH Samsuri mendorong agar media sosial dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan positif dan memperkenalkan tradisi Nahdliyin.

Ia mencontohkan penggunaan TikTok yang dapat diarahkan untuk menyampaikan nilai-nilai keagamaan dan amaliah Nahdliyah dengan cara yang sesuai dengan karakter generasi muda.

Menurutnya, generasi muda tidak harus dijauhkan dari perkembangan zaman. Sebaliknya, teknologi perlu dimanfaatkan secara bijak agar menjadi sarana pendidikan, dakwah, dan pembentukan karakter.

“Kami berharap Gen Z, walaupun kalian mau bermain TikTok, bolehlah TikTok, tetapi di situ ada nilai-nilai tradisi An-Nahdliyah,” ujarnya.

Pendekatan tersebut juga diharapkan menjadi bagian dari upaya preventif untuk menghindarkan generasi muda dari perilaku yang merugikan, termasuk judi online dan aktivitas kelompok yang berpotensi membahayakan diri sendiri maupun masyarakat.

KH Samsuri menegaskan bahwa para pengurus NU, baik di tingkat MWC maupun ranting, harus terus mengomunikasikan nilai-nilai keagamaan melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan anak muda.

Dengan begitu, generasi Z diharapkan tetap mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus memiliki pegangan moral, spiritual, dan sosial yang kuat.

Rangkaian Hari Santri Perkuat Kebersamaan Warga NU

KH Samsuri menjelaskan, Sarasehan Santri 2026 menjadi bagian dari upaya MWCNU Gubeng memperkuat kegiatan kaderisasi, pendidikan, dan pengabdian masyarakat.

Dalam rangkaian peringatan Hari Santri yang dijelaskan dalam keterangannya, kegiatan diawali dengan kick-off di lembaga pendidikan SMA Khadijah melalui kolaborasi dengan LKKNU Kota Surabaya.

Selanjutnya, dilaksanakan upacara Hari Santri di Ranting Mojo, tepatnya di SDN Mojo VI, pada 22 Oktober. Rangkaian kemudian dilanjutkan dengan sarasehan kebangsaan dan direncanakan ditutup melalui kegiatan Lesbumi serta Ikrar Santri di Ranting Kertajaya, bertempat di Masjid Al-Muttaqin.

Kegiatan-kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur organisasi NU, termasuk PAC Muslimat NU, PAC Fatayat NU, Pagar Nusa, Ansor, Banser, IPNU, dan IPPNU.

Keterlibatan berbagai badan otonom tersebut diharapkan memperkuat koordinasi antarkader sekaligus membangun komitmen bersama dalam menjalankan program yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Bagi MWCNU Gubeng, peringatan Hari Santri tidak boleh berhenti sebagai agenda tahunan. Momentum ini harus menjadi pengingat untuk memperkuat pendidikan, menjaga tradisi keagamaan, menumbuhkan kepedulian sosial, dan mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan zaman.

Melalui Sarasehan Santri 2026, pesan Kiai Asep mengenai cita-cita tinggi, pendidikan, kepemimpinan, dan keadilan sosial berpadu dengan komitmen MWCNU Gubeng untuk memperkuat kaderisasi serta mendampingi generasi Z.

Harapannya, santri tidak hanya menjadi penjaga tradisi keagamaan, tetapi juga tampil sebagai generasi berilmu, berintegritas, mandiri secara ekonomi, dan mampu berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia yang maju, adil, serta sejahtera.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!