- iklan atas berita -

METROTIMES ( Ambon ) Suasana haru dan sukacita menyelimuti Pantai Pasar Batu Merah, Rabu (9/4/2026). Usai digelarnya seremoni pemancangan tiang pertama (groundbreaking) pembangunan Pasar Apung Negeri Batu Merah, Raja Negeri Batu Merah memberikan keterangan pers yang sarat makna mendalam.

Dalam wawancaranya, Raja Negeri Batu Merah menyambut baik pencanangan pembangunan yang telah diresmikan langsung oleh Gubernur Maluku, Hendri Lewerissa, serta didukung penuh oleh Wali Kota Ambon, Bodewin Wattimena.

“Alhamdulillah, apa yang telah lama kita rencanakan kini mulai berwujud nyata. Pembangunan ini akan segera berjalan mulai hari ini hingga tuntas nanti. Perlu kami sampaikan, pembangunan ini sepenuhnya dibiayai dan ditangani oleh pihak ketiga (swasta/mitra), bukan dari anggaran pemerintah, sehingga kami berharap prosesnya dapat berjalan lancar sesuai target,” ungkap Raja Negeri Batu Merah.

Solusi Akhir Kesemrawutan dan Prioritas Warga Setempat

Pembangunan pasar modern ini merupakan jawaban atas permasalahan klasik yang selama ini dihadapi warga. Raja Negeri Batu Merah menyebutkan bahwa kondisi saat ini, di mana aktivitas perdagangan memenuhi badan jalan, selokan, dan trotoar, sangat tidak layak dan jauh dari standar pasar yang baik. Hal ini seringkali memicu kemacetan panjang di ruas jalan dari Pasar Maliga hingga Ongkolio.

ads

“Kehadiran pasar baru ini adalah solusi terbaik bagi kita. Nantinya, kami dari Pemerintah Negeri Batu Merah akan memprioritaskan para pedagang lama yang ada di wilayah ini untuk menempati kios atau lapak di pasar baru ini. Kami ingin mengembalikan fungsi jalan dan fasilitas umum sebagaimana mestinya,” tegasnya.

Pasar yang dirancang dengan kapasitas hingga 600 lapak ini dinilai cukup luas untuk menampung seluruh pedagang lokal. Bahkan, sisa kapasitas yang ada nantinya juga membuka peluang bagi pedagang dari luar wilayah untuk bergabung, sehingga semakin menghidupkan roda perekonomian di sana.

Ritual Adat: Penyatuan 9 Dati dalam Satu Harapan

Momen yang paling menyentuh hati dan menjadi ciri khas acara tersebut adalah pelaksanaan ritual adat yang kental dengan nuansa persaudaraan. Raja Negeri Batu Merah menjelaskan bahwa saat ini terdapat 9 Dati (kelompok adat) yang masih hidup dan dihormati di Negeri Batu Merah.

Dalam prosesi tadi, setiap Dati melaksanakan ritual adatnya masing-masing, mengambil air, dan kemudian menyatukannya menjadi satu wadah. Air gabungan dari sembilan sumber tersebut kemudian dipercikkan ke lokasi pembangunan sebagai simbol doa restu.

“Air yang tadi kita gunakan adalah simbol penyatuan seluruh elemen masyarakat adat di sini. Apa yang berbeda di hulu, kita satukan di hilir. Ini adalah bukti kebersamaan kita. Selain itu, penggunaan tanah dari Pasal-Pasco (tanah leluhur) dan kain putih tadi memiliki makna mendalam. Tanah Pasal-Pasco adalah identitas asal-usul kita, sedangkan kain putih melambangkan kesucian dan kebersihan hati,” jelasnya.

Harapan Keselamatan dan Dukungan Bersama

Di akhir keterangannya, Raja Negeri Batu Merah berharap simbol kain putih tersebut menjadi doa agar seluruh proses pembangunan berjalan dengan “bersih”, aman, dan jauh dari kendala. Ia memohon perlindungan Tuhan Yang Maha Esa agar para pekerja dan masyarakat sekitar senantiasa diberi keselamatan dari awal pembangunan hingga selesai.

Terakhir, ia juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada rekan-rekan media yang turut hadir. Menurutnya, peran media sangat vital untuk menyebarluaskan informasi ini kepada seluruh lapisan masyarakat, baik di Kota Ambon maupun Provinsi Maluku, agar seluruh pihak dapat bersatu padu mendukung keberhasilan proyek yang membawa perubahan besar bagi Negeri Batu Merah ini.( Tasya Patty )