
METROTIMES ( Cibubur ), 6 Juni 2026 – Suasana penuh kehangatan, haru, dan kebanggaan mewarnai Silaturahmi Akbar Hatuhaha–Tuhaha yang digelar di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu (6/6/2026). Ratusan warga keturunan Hatuhaha dan Tuhaha dari berbagai wilayah Jabodetabek hadir dalam momentum bersejarah yang mengusung tema “Beriringan Alaka Sombar Orang Basudara.”
Kegiatan ini menjadi ruang temu lintas generasi untuk mempererat kembali hubungan persaudaraan yang telah diwariskan para leluhur sejak ratusan tahun silam di tanah Maluku. Lebih dari sekadar ajang silaturahmi, pertemuan tersebut menjadi simbol kebangkitan nilai-nilai persatuan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap sejarah bersama.
Ketua Panitia, AKBP (Purn.) Hendrik Louhenapessy, S.Sos., M.Si, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan ini mempertemukan enam komunitas besar yang memiliki hubungan historis dan adat yang sangat kuat, yakni lima negeri dalam Persekutuan Hatuhaha—Pelauw, Kailolo, Rohomoni, Kabauw, dan Hulaliu—serta Negeri Tuhaha yang terikat dalam hubungan Pela Batu Karang, sebuah ikatan persaudaraan sedarah yang menempati posisi tertinggi dalam tradisi budaya Maluku.
“Pertemuan akbar seperti ini merupakan momentum yang sangat berharga. Ini bukan sekadar ajang berkumpul, tetapi sebuah upaya menghidupkan kembali warisan leluhur yang telah menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan dan persaudaraan masyarakat Maluku,” ujar Hendrik.
Persaudaraan Hatuhaha dan Tuhaha memiliki akar sejarah yang kuat sejak masa Kerajaan Alaka di Bukit Alaka, Pulau Haruku. Dalam catatan sejarah lisan masyarakat, ketika terjadi Perang Alaka melawan penjajah VOC Belanda, para pejuang dari Negeri Tuhaha yang dipimpin Kapitan Patipelohi dan Kapitan Aipasa datang memberikan bantuan kepada saudara-saudara mereka di Hatuhaha.
Pengorbanan para pejuang tersebut hingga kini masih dikenang. Makam para prajurit Tuhaha yang gugur dalam perjuangan masih berdiri di puncak Gunung Alaka dan dihormati sebagai situs bersejarah sekaligus simbol persaudaraan yang tak lekang oleh waktu.
Meski dipisahkan oleh lautan—Hatuhaha berada di Pulau Haruku dan Tuhaha di Pulau Saparua—ikatan persaudaraan itu tetap terjaga dari generasi ke generasi. Namun seiring perkembangan zaman, berbagai tantangan seperti perbedaan pandangan, sengketa batas wilayah adat, hingga dinamika sosial masyarakat kerap menjadi ujian bagi hubungan tersebut.
Karena itu, Silaturahmi Akbar Hatuhaha–Tuhaha dipandang sebagai langkah strategis untuk memperkuat kembali nilai-nilai persaudaraan yang telah diwariskan para leluhur.
Acara tersebut turut mengundang sejumlah tokoh penting, antara lain Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo, Pangdam Jaya, Kapolda Metro Jaya, para tokoh masyarakat, serta tetua adat dari masing-masing negeri yang tergabung dalam ikatan Hatuhaha–Tuhaha.
Kehadiran para tokoh tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian nilai budaya, penguatan identitas masyarakat Maluku di perantauan, serta semangat menjaga persatuan dalam keberagaman.
Menutup sambutannya, Hendrik Louhenapessy menyampaikan sejumlah harapan yang menjadi semangat utama penyelenggaraan kegiatan ini.
Menurutnya, pertemuan tersebut diharapkan mampu memperkuat ikatan Pela Batu Karang agar tidak hanya menjadi kisah sejarah, tetapi benar-benar hidup dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain itu, semangat kebersamaan yang terbangun juga diharapkan mampu mencegah berbagai bentuk perselisihan melalui dialog, penghormatan, dan musyawarah.
Ia juga menekankan pentingnya mewariskan sejarah perjuangan para leluhur kepada generasi muda agar mereka memahami asal-usul, menghargai identitas budaya, serta memiliki kebanggaan sebagai bagian dari masyarakat Maluku yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan.
Lebih jauh, Hendrik berharap nilai-nilai yang hidup dalam hubungan Hatuhaha–Tuhaha dapat menjadi contoh nyata bagi bangsa Indonesia tentang bagaimana keberagaman budaya dapat menjadi kekuatan yang mempersatukan.
“Semoga pertemuan ini menjadi awal dari sebuah tradisi yang terus berlanjut di masa mendatang. Jadilah orang basudara yang saling mendukung dan menguatkan, sebagaimana semboyan kita, Beriringan Alaka Sombar Orang Basudara—berjalan bersama seperti di Bukit Alaka, sebagai saudara yang selalu bersatu dalam suka maupun duka,” tutup Hendrik. ( Hennry.Tuasuun )




