- iklan atas berita -

METROTIMES ( Ambon ) – Suasana penuh kekeluargaan dan kebersamaan mewarnai kegiatan Halal Bi Halal keluarga besar Partai Gerindra Provinsi Maluku beserta para relawan yang digelar di Islamic Center Kota Ambon, Selasa (7/4/2026) malam.

Acara yang mengusung tema besar “Sucikan Hati, Sambung Silaturahmi, Perkuat Persatuan Umat untuk Keamanan dan Kedamaian Bangsa dalam Menghadapi Situasi dan Tantangan Global” ini dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari pimpinan daerah, tokoh agama, hingga kader partai.

Dalam laporannya, Ketua Panitia Penyelenggara, Saodah Tethool, menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan momen suci untuk mempererat tali persaudaraan. Ia menegaskan bahwa seluruh biaya penyelenggaraan acara ini murni berasal dari kontribusi para kader yang bertugas di pemerintahan, legislatif, maupun berbagai profesi lainnya.

“Kegiatan ini menjadi wujud syukur kita kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui momen ini, kami berharap tali silaturahmi senantiasa terjaga, tercipta kedamaian, dan seluruh kader serta relawan terus terkonsolidasi kuat untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur,” ujar Saodah.

Dalam sambutannya yang penuh makna dan menyentuh hati, Gubernur Maluku Hendri Lewerissa mengajak seluruh hadirin untuk merenungi kondisi daerah saat ini. Menurutnya, meski telah 13 bulan 2 minggu memegang amanah, perjalanan memimpin Maluku tidaklah mudah karena masih terjadi gesekan dan konflik horizontal di berbagai daerah.

ads

Mengibaratkan dirinya sebagai Nakhoda Kapal Besar Maluku, Hendri menegaskan bahwa segala tantangan yang datang adalah ujian.

“Kita diuji oleh gelombang dan badai. Tapi pertanyaannya, mampukah kita melewatinya? Jawabannya harus YA, KITA MAMPU! Kita berlayar bersama, tidak ada yang ditinggalkan, dan badai pasti akan berlalu,” tegasnya dengan tegas.

Gubernur menyoroti ironi yang terjadi di Maluku: daerah yang sangat kaya raya dengan sumber daya alam melimpah, namun pengelolaannya belum maksimal. Potensi besar seperti Blok Marsela dan infrastruktur lainnya masih terus dalam proses pengembangan.

“Lantas, untuk apa kita bertengkar? Untuk apa ada konflik yang merusak?” tanyanya.

Hendri mengajak masyarakat untuk bercermin.
“Coba taruh cermin besar di hadapan kalian. Apa bedanya? Wajah sama, kulit sama, dan menyembah Tuhan yang sama. Lalu kenapa harus saling menghancurkan?” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menyelesaikan masalah melalui jalur hukum, bukan main hakim sendiri atau memperbesar masalah pribadi menjadi konflik komunal.

Pesan Menohok untuk Generasi Muda: Jangan Ulangi Sejarah Kelam

Salah satu momen paling mengharukan adalah ketika Gubernur memberikan pesan khusus kepada generasi muda, khususnya mereka yang lahir di atas tahun 2003-2004.

“Kalian tidak pernah merasakan pahitnya konflik. Kami para senior yang merasakan dan menjadi saksi. Ingat pepatah lama: ‘Yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu.’ Tidak ada yang menang dalam pertikaian. Cukup kami yang mengalaminya, kalian jangan mengulanginya,” pesan Hendrik dengan nada tegas namun penuh kasih sayang.

Ia juga mengingatkan seluruh kader dan relawan untuk kembali mengingat semangat perjuangan masa lalu, di mana berbagai kelompok bisa bersatu padu demi satu tujuan.

“Masa dulu Lawanmena, atau kelompok apa pun bisa bersatu demi kemenangan, masa kini kita justru berselisih?” tandasnya.

Di akhir sambutan, Gubernur meminta agar seluruh masyarakat menghentikan budaya saling serang, menyindir, dan menyebarkan berita negatif di media sosial. Menghadapi situasi global yang bergejolak dan ekonomi yang sulit, Maluku justru harus mempromosikan perdamaian, persatuan, dan kesabaran.

“Daripada sibuk mencari kesalahan, mari kita satukan energi positif. Mari jaga Maluku agar tetap aman dan damai,” pungkasnya.

Acara berlangsung hangat dan penuh khidmat, menjadi bukti nyata semangat persatuan dalam keberagaman di Bumi Rempah. ( Tasya Patty )