- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2025, Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) berkolaborasi dengan Yayasan Gugah Nurani Indonesia (GNI) menggelar Seminar Talkshow bertajuk “Ruang Aksi Pemerhati Peduli Anak Nusantara: Mewujudkan Generasi Sehat, Bertanggung Jawab, dan Peduli dengan Lingkungan yang Aman dan Nyaman”. Acara berlangsung di Graha Sawunggaling Lantai 6, Kantor Pemerintah Kota Surabaya.

Kegiatan ini menghadirkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, akademisi, lembaga sosial, dunia usaha, media, komunitas pemerhati anak, hingga anak-anak dan keluarga. Sebanyak 200 peserta hadir, termasuk 22 anak dampingan GNI serta perwakilan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dari 11 kota/kabupaten seperti Padang, Medan, Jakarta, Sukabumi, Yogyakarta, Manggarai Barat, Manggarai Timur, Jeneponto, dan Enrekang.

Tiga Sesi Talkshow Lintas Sektor

Seminar terbagi dalam tiga sesi diskusi interaktif dengan menghadirkan narasumber dari DP3APPKB Surabaya, Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Forum Genre, Forum Anak Surabaya, Fakultas Kesehatan Masyarakat UNAIR, camat dari wilayah Surabaya, serta NGO lokal. Sesi pertama memberi ruang kepada anak-anak melalui Forum Anak, Genre, dan anak dampingan GNI untuk menyuarakan pendapat. Sesi kedua membahas isu kesehatan, sedangkan sesi ketiga fokus pada kebijakan pemerintah kota terkait kampung ramah anak dan perempuan.

ads

Pesan Gugah Nurani Indonesia

Sekretaris Yayasan Gugah Nurani Indonesia, Rina Satdewi

Sekretaris Yayasan Gugah Nurani Indonesia, Rina Satdewi, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam pemenuhan hak anak.
“Pemenuhan hak anak bukan tugas satu pihak saja. Melalui ruang dialog ini, kita berharap lahir kesadaran dan aksi nyata untuk melindungi, mendidik, dan mendampingi anak-anak Indonesia agar mereka tumbuh sehat, bertanggung jawab, serta peduli lingkungan,” ujarnya.

Senada, Direktur Eksekutif GNI, Fransisca Sianturi, menambahkan bahwa momentum HAN 2025 menjadi tonggak penting memperkuat sinergi lintas sektor.
“Kami mengajak setiap pihak untuk berkolaborasi dengan kapasitas masing-masing demi memastikan anak-anak Indonesia merasakan perlindungan yang nyata. GNI siap memperkuat sistem perlindungan anak berbasis masyarakat serta bersinergi dengan mitra di seluruh daerah,” tegasnya.

Komitmen Pemerintah Kota Surabaya

Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Kota Surabaya, Bisukma Kurniawati

Staf Ahli Bidang Kemasyarakatan dan SDM Kota Surabaya, Bisukma Kurniawati, menyampaikan apresiasi atas sinergi GNI dan berbagai pihak dalam memperingati HAN 2025. Ia menegaskan komitmen Pemkot Surabaya menjadikan kota ramah anak melalui sejumlah program unggulan, antara lain:

  • Kampung Zero Stunting yang berhasil menekan angka stunting di bawah rata-rata nasional.
  • Penghargaan Kota Layak Anak kategori Utama dari Kementerian PPPA.
  • Pusfaga Semanggi dan 532 Pusfaga RW yang aktif memberikan layanan konseling keluarga dan pendampingan psikologis.
  • Program Kampung Anak Negeri dan Kampung Aman untuk membangun lingkungan ramah perempuan dan anak.
  • Kebijakan Kampung Pancasila dengan jam malam bagi anak pukul 22.00, sebagai bentuk perlindungan dari risiko negatif pergaulan malam.

“Forum seperti seminar dan talkshow ini bukan sekadar ruang diskusi, melainkan ruang aksi nyata. Anak-anak harus menjadi subjek perubahan, bukan hanya penerima manfaat pembangunan,” tegasnya.

Suara DP3APPKB Surabaya

Direktur Eksekutif GNI, Fransisca Sianturi, dan Kepala DP3APPKB Surabaya, Ida Widayati

Kepala DP3APPKB Surabaya, Ida Widayati, menambahkan bahwa acara ini penting untuk memperkuat jejaring perlindungan anak.
“Pemerintah kota tidak bisa berjalan sendiri. Kita harus menguatkan kolaborasi, khususnya dengan GNI yang selama ini konsisten mendampingi anak-anak dan perempuan di berbagai wilayah. Harapannya, Surabaya bisa menularkan praktik baik ini ke kota lain,” ujarnya.

Harapan Bersama

Melalui momentum HAN 2025, semua pihak berharap lahir kebijakan dan aksi nyata yang lebih berpihak pada anak. Dengan demikian, setiap anak di Indonesia dapat tumbuh sehat, berdaya, terlindungi, dan bahagia dalam lingkungan yang aman dan nyaman.

(nald)