
MetroTimes (Surabaya) — Surabaya kembali menunjukkan potensinya sebagai salah satu destinasi olahraga dan sport tourism di Indonesia. Gelaran Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 yang berlangsung di kawasan Balai Kota Surabaya, Minggu (4/10/2026), bukan hanya menjadi ajang adu ketahanan dan kecepatan para pelari, tetapi juga ikut menggerakkan roda perekonomian Kota Pahlawan.
Memasuki tahun ketiga penyelenggaraan, Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 berhasil menarik hampir 11.000 pelari dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sekitar 9.000 peserta pada penyelenggaraan 2025.
Dari total peserta tahun ini, sebanyak 38,89 persen merupakan pelari dari luar Surabaya. Komposisi tersebut memperlihatkan semakin luasnya daya tarik Surabaya ISOPLUS Marathon sekaligus membuka peluang bagi sektor pariwisata, perhotelan, transportasi, kuliner hingga UMKM lokal.
Dampak ekonominya pun terukur. Kajian Lembaga Penelitian Ekonomi dan Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (LPEP FEB Unair) mencatat, Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 menghasilkan perputaran aktivitas ekonomi sebesar Rp74,78 miliar.
Angka tersebut berasal dari aktivitas pengeluaran peserta dan panitia, mulai dari akomodasi, transportasi, konsumsi hingga kebutuhan operasional. Aktivitas awal itu kemudian memberikan efek berantai melalui keterkaitan antarsektor dan rantai pasok barang serta jasa lokal.
Kepala Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat LPEP FEB Universitas Airlangga, Atik Purmiyati, mengatakan kegiatan olahraga berskala besar tidak berhenti pada aktivitas olahraga semata, tetapi mampu menciptakan nilai tambah ekonomi bagi daerah.
“Selain perputaran aktivitas kegiatan ekonomi, kajian LPEP FEB Universitas Airlangga juga mengestimasi kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Surabaya sebesar Rp41,47 miliar,” ujar Atik.
Menurut dia, nilai tersebut mencerminkan pembentukan nilai tambah ekonomi melalui aktivitas produksi dan kompensasi tenaga kerja. Dengan demikian, event olahraga berskala besar memiliki potensi menjadi salah satu penggerak ekonomi daerah.
Apresiasi terhadap penyelenggaraan Surabaya ISOPLUS Marathon juga disampaikan Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi. Ia menilai semakin banyaknya event olahraga berskala nasional di Surabaya dapat memperkuat posisi kota sebagai destinasi sport tourism.
“Matur nuwun kali ini diadakan kembali Surabaya ISOPLUS Marathon 2026. Ini membuktikan bahwa Surabaya menjadi salah satu kota pilihan untuk lari marathon di Indonesia,” kata Eri.
Menurut Eri, dampak kegiatan tersebut terasa pada berbagai sektor, tidak hanya transportasi dan perhotelan, tetapi juga transaksi lanjutan yang dirasakan pelaku UMKM.
Ia bahkan berharap penyelenggaraan pada tahun berikutnya dapat dikembangkan menjadi rangkaian kegiatan lebih panjang.
“Semoga tahun depan lebih baik lagi, mungkin tidak hanya satu hari tetapi dua hari seperti yang terjadi di kota lain,” ujarnya.
Keselamatan Pelari Jadi Pertimbangan Utama
Di balik tingginya antusiasme peserta, penyelenggara Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 juga menghadapi tantangan kondisi cuaca yang berubah secara ekstrem.
Penyelenggara sejak awal telah melakukan pemantauan kondisi cuaca menggunakan parameter Wet Bulb Globe Temperature (WBGT). Parameter tersebut digunakan untuk membantu mengukur tingkat tekanan panas yang dapat memengaruhi keselamatan dan performa pelari.
Pada saat flag off kategori Full Marathon pukul 04.00 WIB, kondisi cuaca tercatat cukup baik dengan suhu 26,1 derajat Celsius dan kelembapan 86,6 persen. Saat Half Marathon dimulai pukul 04.30 WIB, suhu berada di kisaran 23,1 derajat Celsius.
Kondisi relatif stabil juga terjadi ketika kategori 10K dan 5K diberangkatkan masing-masing pukul 05.00 dan 05.20 WIB.
Namun, situasi berubah memasuki pagi hari. Kenaikan temperatur yang sangat cepat membuat penyelenggara harus mengambil keputusan untuk menghentikan lomba demi keselamatan peserta.
Race Director ISOPLUS Run Series 2026, Safrita Aryana, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah berkoordinasi dengan tim medis dan Running Doctors.
“Pada pukul 08.25, WBGT menunjukkan suhu mulai pukul 08.00 di 33-36 derajat Celsius. Apabila kita merujuk pada peraturan World Athletics, 33 derajat lomba lari harus dihentikan,” jelas Safrita.
Menurut dia, kondisi kemudian meningkat sangat cepat hingga mencapai 42-44 derajat Celsius, bahkan sempat menyentuh 48 derajat Celsius.
“Sehingga saya berkoordinasi dengan Running Doctors dan Koordinator Medis. Untuk keselamatan semuanya maka lomba kami hentikan,” tegasnya.
Meski lomba dihentikan, penyelenggara tetap memberikan dukungan kepada para peserta. Pelari yang ingin melanjutkan perjalanan menuju garis finis diperbolehkan berjalan kaki, sementara fasilitas water station tetap disediakan.
Para peserta yang mencapai garis finis juga tetap mendapatkan status finisher, medali, dan jaket finisher.
“Bukan kesalahan pelari, tetapi kondisi yang tidak memungkinkan,” ujar Safrita.
Bukan Sekadar Race, Bangun Ekosistem Gaya Hidup Aktif
Head of Ready to Drink Beverages WINGS Food, Joshua Gunawan, mengatakan ISOPLUS Run Series tidak hanya diarahkan sebagai kompetisi lari, tetapi juga bagian dari edukasi mengenai gaya hidup aktif dan sehat.
Konsep Complete Running Experience diterapkan untuk mengakomodasi kebutuhan pelari dari berbagai level, mulai pemula hingga pelari profesional.
Pendampingan bahkan diberikan jauh sebelum race day melalui program 21 Weeks Training yang dapat diakses melalui akun Instagram @isoplus7ion.
Program tersebut mencakup latihan fisik, edukasi nutrisi, pengaturan porsi makanan, menu menjelang perlombaan hingga strategi hidrasi.
“ISOPLUS tidak hanya hadir mendampingi peserta saat perlombaan, tetapi melangkah bersama para pelari sejak awal masa persiapan melalui edukasi fisik, nutrisi, dan kecukupan cairan yang menyeluruh,” kata Joshua.
ISOPLUS juga menggandeng professional running coach dan sports nutritionist untuk memberikan edukasi yang dapat diterapkan peserta baik ketika mempersiapkan perlombaan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Dorong Event Olahraga yang Lebih Berkelanjutan
Selain aspek olahraga dan ekonomi, penyelenggaraan tahun ini juga membawa agenda lingkungan melalui kampanye #PilahDariSekarang bersama Yayasan WINGS Peduli.
Sebanyak 28 unit tempat sampah terpilah kategori organik dan anorganik ditempatkan di kawasan race village. Fasilitas tersebut ditujukan untuk mendorong peserta memilah sampah sejak dari sumbernya.
Menariknya, papan yang digunakan pada fasilitas tersebut merupakan bagian dari upaya pemanfaatan kembali material, dengan menggunakan bahan daur ulang dari sekitar 200 ribu tutup botol ISOPLUS dan AQUVIVA melalui kolaborasi Yayasan WINGS Peduli dengan Recycle Studio ATMI Cikarang.
Sampah yang terkumpul kemudian dikelola berdasarkan kategorinya melalui TPS 3R bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Pemerintah Kota Surabaya.
Konsep keberlanjutan juga dipadukan dengan race village yang dirancang sebagai ruang berkumpul peserta dan keluarga. Setelah menyelesaikan perlombaan, peserta dapat menikmati pertunjukan musik, booth sponsor, makanan, minuman serta berbagai aktivitas hiburan.
Sementara itu, Bank Multiarta Sentosa (Bank MAS) kembali menjadi sponsor utama ISOPLUS Run untuk tahun ketiga. Bank MAS membawa kampanye #JadiAndalan Kejar Tujuan dengan berbagai aktivitas bagi peserta sejak Race Pack Collection hingga race day.
Bersama Bank Indonesia, Bank MAS juga mendorong pemanfaatan QRIS melalui berbagai aktivitas di booth. Peserta berkesempatan memperoleh hadiah melalui permainan dan transaksi QRIS.
Rangkaian kegiatan semakin meriah dengan lelang running gear di main stage, yang menghadirkan sejumlah perlengkapan olahraga dari berbagai merek.
Dengan kombinasi olahraga, edukasi kesehatan, keberlanjutan dan penguatan ekonomi lokal, Surabaya ISOPLUS Marathon 2026 menunjukkan bahwa sebuah event lari dapat berkembang menjadi ekosistem yang memberikan manfaat lebih luas bagi kota dan masyarakat.
(nald)










