- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) — Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) kembali menggelar program Sustainable Energy and Green Technology Applications (SEGTA) yang diikuti peserta dari sembilan negara. Kegiatan yang berlangsung pada 6–14 Agustus 2025 ini menggabungkan riset teknologi, pengabdian masyarakat, serta pertukaran budaya.

Dekan III FTMM UNAIR, Prof. Dr. Retna Apsari, M.Si.

Dekan III FTMM UNAIR, Prof. Dr. Retna Apsari, M.Si., menjelaskan bahwa program ini mengusung enam klaster kegiatan, yakni pemanfaatan panel surya untuk mendukung pertanian, penanaman kelapa dan pemupukan lahan, edukasi energi surya, pemantauan kualitas air, pembangunan solar shelter, dan penggunaan drone untuk mendukung pariwisata.

“Produk-produk ini sudah kami aplikasikan di Pulau Gili Iyang dan Kalianget. Selain itu, peserta juga mendapatkan academic lecture dan mengikuti workshop di laboratorium. Di Bromo, kami memperkenalkan bagaimana teknologi dapat menopang pariwisata berkelanjutan,” jelasnya.

Program SEGTA juga terintegrasi dengan Airlangga Community Development Hub yang sejak 2022 aktif melakukan pengembangan di desa-desa mitra. Tahun ini, UNAIR menandatangani lima perjanjian kerja sama, termasuk dengan desa di Kalianget dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Gili Iyang.

ads
Myra Anne Miranda dari Malaysia

Salah satu peserta, Myra Anne Miranda dari Malaysia, mengungkapkan bahwa ia tertarik mengikuti SEGTA setelah melihat poster program tersebut di grup Telegram sekolahnya.
“Saya mengambil jurusan Teknik Kimia dan berencana berkarier di bidang energi terbarukan. Program ini tidak hanya memberikan kuliah dan kelas daring, tetapi juga survei komunitas dan pengabdian masyarakat. Semua kegiatan terorganisir dengan sangat baik,” ungkap Myra.

Selama sepekan, peserta mengunjungi Surabaya, Pulau Madura, Pulau Gili Iyang, dan Gunung Bromo. Myra mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat dan kekayaan kuliner Indonesia. “Semua orang sangat ramah, bahkan di warung-warung sekalipun. Itu sesuatu yang patut dibanggakan,” ujarnya.

Dalam pengabdian masyarakat, Myra memilih topik pemantauan kualitas udara secara real-time di Pulau Gili Iyang, yang dikenal memiliki konsentrasi oksigen tertinggi kedua di dunia.
“Kami mengoperasikan papan sirkuit listrik dan melakukan pemrograman (coding). Ini kesempatan untuk menerapkan ilmu yang kami pelajari sekaligus mendapatkan pengalaman langsung di lapangan,” tambahnya.

Prof. Retna menegaskan bahwa SEGTA bukan sekadar kegiatan tahunan, tetapi bagian dari misi UNAIR untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), seperti energi bersih, infrastruktur berkelanjutan, pengentasan kemiskinan, air bersih dan sanitasi, hingga kemitraan global.
“Manfaatnya tidak hanya bagi peserta, tetapi juga bagi warga setempat. Di Gili Iyang, bahkan ada warga yang menyumbangkan satu hektare lahannya untuk pengembangan kelapa hibrida,” pungkasnya.

Tahun ini, SEGTA melibatkan 62 mahasiswa asing, 31 staf asing, serta puluhan dosen dan mahasiswa UNAIR. Setelah program lapangan, peserta masih melanjutkan pembelajaran hybrid hingga Desember 2025 dengan kesempatan memperoleh dua SKS.

(nald)