
MetroTimes (Surabaya) – Universitas Airlangga (UNAIR) resmi mengukuhkan mahasiswa baru program pendidikan pascasarjana tahun akademik 2025/2026, mencakup jenjang doktor, subspesialis, magister, spesialis, dan profesi. Pengukuhan ini bukan hanya mencerminkan jumlah, tetapi juga keberagaman, semangat, dan harapan masa depan pendidikan Indonesia.

Rektor UNAIR, Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin., menyampaikan bahwa mahasiswa baru kali ini terdiri dari 763 mahasiswa magister (53,24%), 246 mahasiswa doktor (17,17%), 68 mahasiswa profesi (4,75%), 313 mahasiswa spesialis (21,84%), dan 43 mahasiswa subspesialis (3%). Keseluruhan mahasiswa ini tersebar di 94 program studi di 14 fakultas, dengan dominasi dari Fakultas Kedokteran (275 mahasiswa), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (168 mahasiswa), dan Fakultas Hukum (162 mahasiswa).
“Mayoritas mahasiswa baru kami adalah perempuan, yakni 62% atau 886 orang. Sedangkan laki-laki sebanyak 547 orang atau 38%. Ini membuktikan bahwa perempuan Indonesia semakin percaya diri melanjutkan pendidikan hingga jenjang pascasarjana,” ujar Prof. Madyan.
Mahasiswa baru kali ini juga berasal dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk dari Aceh, Papua, NTT, NTB, Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, serta dari luar negeri seperti Palestina, Malaysia, Pakistan, Sudan, dan Tanzania. Total terdapat 24 mahasiswa asing yang diterima, dan 13 di antaranya menerima Airlangga Development Scholarship (ADS), beasiswa khusus bagi mahasiswa dari negara berkembang.
Tahun ini juga menjadi istimewa karena UNAIR menerima tiga mahasiswa disabilitas, di antaranya penyandang tuli dan amputasi. “Mereka datang dengan semangat luar biasa. Ini menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus dan bisa diakses oleh semua,” tambahnya.
Dua Dokter Palestina, Komitmen Tinggi untuk Belajar dan Mengabdi

Dua mahasiswa spesialis dari Palestina, Dr. Ibrahim M. M. Abusalem (program Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik) dan Dr. Ahmed Eliaan Shaker Abuajwa (program Ilmu Bedah Saraf), turut dikukuhkan sebagai bagian dari keluarga besar UNAIR.
Dalam wawancara, Dr. Ahmed menyampaikan motivasinya belajar di UNAIR sebagai pilihan yang sangat berarti.
“Saya memilih UNAIR karena merupakan salah satu pusat pendidikan terbaik di Indonesia untuk ilmu bedah saraf. Ini adalah kebanggaan besar bagi saya, karena di Gaza kami sangat membutuhkan dokter spesialis bedah saraf,” ungkapnya.
Ahmed juga menjelaskan bahwa dirinya datang ke Indonesia dengan niat kuat dan komitmen penuh, menyadari bahwa kondisi di Gaza sangat berat. “Saya sudah diskusikan ini dengan keluarga. Saya mungkin tidak bisa kembali sebelum menyelesaikan pendidikan dan membawa bukti kelulusan. Gaza saat ini mengalami krisis kemanusiaan besar. Rumah saya hancur. Keluarga kini berada di pengungsian,” ujarnya haru.
Meski menghadapi kesulitan luar biasa, Ahmed tetap termotivasi oleh dorongan keluarga untuk tetap fokus belajar. “Mereka selalu menyemangati saya untuk tetap lanjut. Mereka bilang, ‘Jangan pikirkan kami, yang penting kamu belajar dan bisa membawa ilmu yang bermanfaat bagi kami semua’.”
Terkait biaya pendidikan, Dr. Ahmed menjelaskan bahwa ia saat ini masih berstatus mahasiswa mandiri namun telah mengajukan permohonan beasiswa dari UNAIR.
“Kami bukan hanya belajar, tetapi juga sepenuhnya fokus pada pendidikan dan pelatihan di rumah sakit. Tidak ada waktu untuk bekerja di luar karena memang sangat intensif,” jelasnya.
Sebagai penutup, Prof. Madyan menyatakan harapan besar dari pengukuhan ini. “Mahasiswa-mahasiswa ini adalah agen perubahan. Dari kampus ini, mereka akan berkontribusi bagi masyarakat, bangsa, bahkan dunia. Bersama, kita siapkan generasi untuk menyambut Indonesia Emas 2045.”
(nald)




