
MetroTimes (Surabaya) — Universitas Airlangga (UNAIR) mencatat tingginya persaingan dalam Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) 2026. Dari total 69.620 pendaftar, hanya 2.771 peserta yang diterima di 62 program studi yang tersedia. Tingkat keketatan seleksi mencapai 4 persen atau rasio 1:25.
Data tersebut disampaikan dalam paparan Ikhtisar SNBT 2026 UNAIR yang juga menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap program vokasi. Dalam kesempatan itu, Rektor Muhammad Madyan menilai tren tersebut dipengaruhi orientasi mahasiswa terhadap kesiapan kerja setelah lulus kuliah.
“Sekarang ini sudah memilih vokasi atau memperkaya vokasi di Universitas Airlangga. Masyarakat saat ini juga berpikir setelah lulus apakah mereka bisa cepat mendapatkan pekerjaan. Vokasi memang dipokuskan pada keterampilan vokasional, artinya mempersiapkan mereka agar bisa bekerja lebih cepat,” ujar Prof. Madyan.
Dalam data rerata nilai UTBK program vokasi, Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja menjadi yang tertinggi dengan rerata nilai 659,76. Disusul D4 Teknik Informatika dengan nilai 656,35 dan D4 Teknologi Laboratorium Medik 654,53.
Selain itu, UNAIR juga mencatat sebanyak 15.467 peserta KIP Kuliah mengikuti SNBT 2026, dengan 470 peserta diterima melalui jalur tersebut. Jumlah mahasiswa perempuan yang diterima mencapai 1.785 orang atau sekitar 64,42 persen dari total mahasiswa diterima. Sebaran mahasiswa yang lolos berasal dari 32 provinsi di Indonesia.

Prof. Madyan menambahkan, mayoritas peminat vokasi ternyata menempatkan program tersebut sebagai pilihan ketiga saat pendaftaran SNBT.
“Karena saat ini mahasiswa bisa memilih program studi S1 maupun D3 dan D4 sekaligus. Sebagian besar vokasi itu ternyata pilihan ketiga mereka. Tetapi akhirnya mereka diterima di vokasi,” katanya.
Sementara itu, terkait kasus perjokian yang sempat terjadi pada pelaksanaan SNBT nasional, pihak UNAIR memastikan akan memperketat sistem pengawasan dalam seleksi mandiri mendatang.
Pihak kampus menyebut, langkah antisipasi telah dipersiapkan secara maksimal untuk mencegah terjadinya kecurangan akademik.
“Kasus perjokian kemarin menjadi langkah antisipasi yang sangat bagus dari panitia pusat. Untuk seleksi mandiri, kami sudah mempersiapkan mekanisme pencegahan semaksimal mungkin,” ungkap pihak panitia penerimaan mahasiswa baru UNAIR.
Pengawasan akan dilakukan melalui pemeriksaan ketat menggunakan metal detector, verifikasi dokumen dan wajah peserta, hingga sejumlah langkah pengamanan lain yang tidak dipublikasikan secara terbuka.
“Kejahatan akademik seperti perjokian ini luar biasa, sehingga pengawasan harus diperketat,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, UNAIR juga memastikan kuota penerimaan jalur mandiri maksimal mencapai 50 persen, meski beberapa program studi memiliki kuota berbeda, mulai 20 hingga 30 persen tergantung akreditasi dan kebijakan masing-masing program studi.
Program studi Kedokteran masih menjadi jurusan dengan tingkat keketatan tertinggi, baik pada jalur SNBP maupun diperkirakan kembali terjadi pada jalur mandiri.
Terkait biaya pendidikan, UNAIR memastikan tidak ada kenaikan Iuran Pengembangan Institusi (IPI). Tahun ini sistem pembayaran dibuat lebih sederhana dengan skema tarif tunggal.
“Sekarang jadi single tarif. Tidak ada lagi tingkatan-tingkatan seperti sebelumnya. Yang menentukan diterima tetap nilai peserta, bukan besaran biaya,” tegas Prof. Madyan.
UNAIR juga terus memperkuat pengembangan pendidikan vokasi melalui pembaruan kurikulum berbasis kebutuhan industri. Kampus kini menggandeng berbagai praktisi untuk menciptakan link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
“Kami sedang mengundang praktisi untuk memperbarui kurikulum agar link and match dengan industri benar-benar tercapai,” pungkasnya.
(nald)






