- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) — Universitas Airlangga (UNAIR) resmi menyambut 9.347 mahasiswa baru dari program D3, D4, dan S1 tahun akademik 2025/2026. Mahasiswa tersebut tersebar di 63 program studi dan diterima melalui beragam jalur seleksi.

Berdasarkan data, mahasiswa baru UNAIR terdiri dari 604 mahasiswa D3, 1.664 mahasiswa D4, dan 7.079 mahasiswa S1. Adapun jalur penerimaan terbagi menjadi:

  • Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP): 2.359 mahasiswa
  • Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT): 2.743 mahasiswa
  • Jalur Mandiri Reguler: 3.944 mahasiswa
  • Jalur Mandiri Internasional: 262 mahasiswa
  • Program Afirmasi Adik Papua: 15 mahasiswa
  • Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN): 19 mahasiswa
  • Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL): 5 mahasiswa

Dari sisi sebaran wilayah, UNAIR semakin menunjukkan jangkauan nasional dan internasional. Tercatat 1.060 mahasiswa berasal dari luar Pulau Jawa, serta 54 mahasiswa dari luar negeri yang mayoritas berasal dari Malaysia, Tiongkok (Hunan), Mekah (Arab Saudi), dan Abu Dhabi (Uni Emirat Arab).

ads

Komposisi gender tahun ini kembali didominasi mahasiswa perempuan, yaitu 6.415 orang, sementara mahasiswa laki-laki berjumlah 2.932 orang. Tren ini relatif stabil dari tahun ke tahun.

Tahun ini, UNAIR memperkenalkan inovasi baru dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), yakni penerapan absensi berbasis Face Recognition (FR). Teknologi ini merupakan lanjutan dari sistem registrasi biometrik yang telah lebih dulu digunakan. FR dipasang di setiap pintu masuk gedung untuk mendukung akurasi, efisiensi, dan keamanan kegiatan akademik.

Wawancara dengan Rektor UNAIR, Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin.

Rektor UNAIR, Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin., menegaskan bahwa kehadiran 9.347 mahasiswa baru ini menjadi momentum penting bagi UNAIR dalam melangkah menuju visi Indonesia Emas 2045.

“Kami menyambut dengan penuh optimisme generasi baru ini. Mereka bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga diharapkan adaptif, berjiwa sosial, dan memiliki semangat kolaboratif. UNAIR berkomitmen membentuk mahasiswa yang siap membawa perubahan positif, tidak hanya untuk bangsa, tetapi juga untuk dunia,” ungkap Prof. Madyan.

Beliau juga menekankan bahwa penerapan teknologi face recognition merupakan langkah nyata UNAIR dalam menjaga integritas akademik.

“Selama ini isu penjokian menjadi salah satu tantangan besar dalam penerimaan mahasiswa baru. Dengan face recognition, kami bisa memastikan keaslian identitas mahasiswa sejak pendaftaran hingga kegiatan perkuliahan. Alhamdulillah, tahun ini kami pastikan tidak ada mahasiswa hasil penjokian yang lolos masuk UNAIR,” jelasnya.

Lebih lanjut, Prof. Madyan menambahkan bahwa inovasi ini tidak hanya berhenti di PKKMB, tetapi juga akan digunakan dalam berbagai kegiatan akademik termasuk ujian.

“Transformasi digital ini akan terus kami kembangkan agar setiap aktivitas di UNAIR lebih akurat, efisien, dan transparan. Dengan demikian, UNAIR bisa menjadi role model perguruan tinggi yang berintegritas dan unggul di tingkat global,” pungkasnya.

Dengan tema “Fun, Humanis, Akademis”, PKKMB 2025 UNAIR menekankan pembentukan generasi baru yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga adaptif, berjiwa sosial, dan kolaboratif. UNAIR optimis para mahasiswa baru akan menjadi bagian dari generasi emas Indonesia 2045.

(nald)