- iklan atas berita -

Metro Times (Surabaya) – Vinsensius Awey kelahiran Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau, sejak berkecimpung di dunia kemahasiswaan banyak hal yang didapatkan terkait dengan persoalan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Vinsensius Awey Caleg DPR RI Dapil Jatim 1 nomer urut 5 dari Partai NasDem, mengatakan, saya terdorong untuk ikut ambil bagian dalam mewarnai dan menentukan nasib bangsa untuk kehidupan yang lebih baik melalui jalur politik. Kendati saya menggeluti dunia bisnis selama 15 tahun, namun dorongan untuk terjun di panggung politik tidak pernah surut.

Lanjutnya, pada bulan April 2014 saya nyatakan ikut dalam kontestasi Pemilu 2014 di level DPRD Kota Surabaya, dari Partai NasDem. Dan pada bulan Agustus 2014 dilantik menjadi anggota DPRD Kota Surabaya. Saat itulah saya berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya bukan lagi milik kelompok orang akan tetapi saya milik seluruh warga kota Surabaya tanpa terkecuali.

Siapapun warga kota Surabaya yang datang menyampaikan aspirasi ya maka wakil rakyat wajib hadir untuk menjawab persoalan dan optimal dalam memperjuangkan aspirasi mereka sejauh keinginan mereka itu konstitusional.

ads

“Ada banyak kegiatan pengawalan dan sikap politik yang saya lakukan selama 4 tahun dalam memenuhi harapan warga kota Surabaya,” ungkap Awey, “Antara lain :
1. Perjuangan lewat PDAM merealisasi di kawasan Keputih – Sukolilo, kemudian RW 02 dan 03 Waru Gunung, dan RT 04 RW 03 Sambi Sari – Gadel di aliri air PDAM setelah puluhan tahun warga menanti air bersih.

2. Perjuangan lewat Pemkot Surabaya merealisasi pembangunan drainase, pavingisasi, PJU (Penerangan Jalan Umum), dan pagar makam di Kelurahan Sambi kerep, Kelurahan Made, Kelurahan Lontar, Kelurahan Beringin, dan Pembangunan GSG (Gedung Serba Guna) di beberapa tempat.

3. Perjuangan lewat Pemkot merealisasi belanja dana hibah untuk sarana dan prasarana kelompok masyarakat di kawasan Kelurahan Manukan, Kelurahan Dukuh Kupang, Kelurahan Kedurus, dan Kelurahan Babatan.

4. Perjuangan lewat Pemkot merealisasi dana hibah bagi sejumlah rumah ibadah yang nilainya mencapai Rp. 3 M.

5. Sikap politik secara pribadi (satu-satunya anggota Dewan) menolak pemberian mobil inventaris dinas dari Pemkot.

6. Sikap politik secara pribadi (satu-satunya anggota Badan Anggaran) menolak anggaran pembelian mobil dinas baru.

7. Sikap politik secara pribadi dan walk out pada rapat Paripurna DPRD Kota Surabaya untuk menolak perubahan nama sebagian jalan Gunung Sari dan Dinoyo pada bulan Agustus 2018.

8. Menggelar berbagai dengar pendapat dengan warga terkait persoalan yang ada baik melalui Forum Hearing Komisi C, maupun secara pribadi.”

“Saya sadari bahwa sebagai anggota DPRD Kota Surabaya tidaklah mudah, dikarenakan tingkat kepercayaan publik terhadap anggota Dewan sangatlah rendah, namun di sisi lain Api harapan untuk kemajuan kota Surabaya, tentunya tidak boleh padam. Kita harus percaya bahwa masih ada sejumlah pengurus Parpol atau wakil rakyat yang terus menerus memperjuangkan kebenaran,” jelas Awey optimis.

Orang-orang dan kelompok seperti itu perlu didorong, diberi ruang untuk mewujudkan ide-ide dan karyanya, sehingga semakin banyak manfaatnya dan menjadi panutan masyarakat luas.

Saya mengakui bahwa keberadaan saya selama menjadi wakil rakyat belumlah optimal dalam memenuhi harapan warga kota Surabaya, lanjut Awey, memang tidaklah mudah merubah kebiasaan buruk yang ada di lembaga legislatif maupun eksekutif, memang tidak mudah merubah air kopi hitam menjadi bening. Namun keberadaan saya di lembaga legislatif tidak menambah kepekatan air kopi itu.

“Dalam kesempatan ini, saya mohon doa restu dari warga kota Surabaya, bahwa pada bulan April 2019 untuk mengijinkan dan mendukung saya maju Caleg DPR RI Dapil Jatim 1 (Surabaya-Sidoarjo) nomer urut 5, dengan kendaraan parpol yang sama yaitu Partai NasDem,” pungkas Awey. (nald)