- iklan atas berita -

Metrotimes (Purworejo)-Warga dua dusun di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah kehilangan sumber air bersih sejak proyek pembangunan Bendungan Bener dimulai. Saat ini warga terpaksa memanfaatkan air hujan untuk dikonsumsi dan untuk sekadar mandi dan mencuci baju mereka menggunakan air keruh.

Kondisi tersebut menimpa warga Dusun Kalipancer I dan Kalipancer II,1 Desa Guntur Kecamatan Bener, Purworejo. Sejak awal proyek tersebut dimulai yakni tahun 2018 hingga saat ini mereka masih mengalami kesulitan.

Persoalan ini mengemuka dalam kunjungan calon wakil bupati nomor urut 02, Dion Agasi Setiabudi di Desa Nglaris Kecamatan Bener pada acara pertemuan Masterbend (Masyarakat Terdampak Bendung Bener) pada Sabtu (30/11)

“Warga Kalipancer khususnya RT 3 RW 5 kesulitan air karena akibat dari pekerjaan Bendungan Bener. Itu terjadi sejak awal PT mengerjakan mulai dari tahun 2018,” kata Tri Indrayatno, warga Kalipancer.

Menyusul persoalan itu sudah ada upaya dari perusahaan pelaksana proyek dengan memberikan bantuan mesin untuk memompa air dari sungai Bogowonto namun upaya itu belum bisa mencukupi kebutuhan air bagi warga. Terlebih saat musin hujan tiba air dari sungai tersebut sangat keruh sehingga jauh dari kata layak untuk dikonsumsi.

ads

Di dua dusun tersebut, imbuh Tri terdapat sekitar 400 kepala keluarga (KK) meliputi Kalipancer I dan Kalipancer II. Masalah ini menjadi persoalan serius bagi warga karena sangat berperngaruh terhadap kondisi kesehatan.

Warga pun mendesak agar perusahaan pelaksana proyek untuk menambah mesin pompa bagi warga. Jika tidak, warga minta agar mereka difasilitasi untuk pembuatan sumur bor agar memperoleh air yang layak untuk dikonsumsi.

Ia mengungkapkan bahwa, aktivitas pembangunan proyek strategis nasional (PSN) tak hanya merusak sumber air bersih yang selama ini dimanfaatkan warga. Lebih dari itu, sumur-sumur warga pun kini mengering diduga karena pergerakan tanah akibat aktivitas blasting.

“Dulu ada kali Turusan yang biasa kami manfaatkan sebagai sumber air bersih. Saat proyek itu dimulai sudah tidak bisa karena timbunan material tanah dan sebagainya. Sumur pun dulu tak pernah kering, setelah ada blasting kok sumur mengering. Mungkin ya akibat getaran yang mengakibatkan pergerakan tanah sehingga sumber-sumber air di sumur warga tertutup,” ungkapnya.

Demi memperoleh air yang layak untuk dikonsumsi, warga Kalipancer selama ini harus mendatang air dari Wonosobo. Untuk saat ini sebagian warga bertahan dengan memanfaatkan air hujan untuk dikonsumsi.

“Kami berharap perusahaan segera memberikan solusi terbaik untuk menyelesaikan persoalan ini. Ini masalah air, masalah hajat hidup kami warga Kalipancer,” katanya.(tyb)