
METROTIMES ( AMBON, ] 18 Agustus 2026 β Pengawal pribadi Gubernur Maluku menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada publik dan kalangan mahasiswa terkait pernyataan yang dinilai menyinggung, yakni mengucapkan kata βmonyetβ saat pelaksanaan pengamanan pada upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Minggu (17/8/2026). Langkah ini diambil sebagai bentuk itikad baik untuk meredakan ketegangan dan menjaga situasi tetap kondusif di Kota Ambon.
Kejadian bermula setelah rangkaian upacara bendera selesai dan Gubernur Maluku hendak turun dari tribun. Sebagai petugas pengamanan, pengawal bersama tim bertugas mengatur ruang gerak agar Gubernur dapat menuju kendaraan dengan aman dan lancar. Di sekitar lokasi saat itu terdapat awak media dan masyarakat umum, ketika tiba-tiba muncul sekelompok pemuda yang membawa spanduk serta salah seorang di antaranya memegang potongan bambu.
βKami sebagai pengawal hanya menjalankan tugas. Kami meminta agar penyampaian aspirasi dilakukan dengan cara yang baik dan tidak mengganggu jalur yang akan dilalui pimpinan,β ungkap pengawal tersebut.
Dalam situasi tersebut, ia mengakui secara jujur telah keceplosan mengucapkan kata yang tidak seharusnya terlontar. Ia menegaskan tidak memiliki maksud untuk merendahkan ataupun menghina mahasiswa maupun kelompok tertentu. Tindakan pengamanan yang dilakukan semata-mata berkaitan dengan tanggung jawab menjaga keselamatan pejabat negara.
βSebagai manusia biasa, saya akhirnya keceplosan mengucapkan kata yang tidak seharusnya saya sampaikan. Untuk itu saya meminta maaf. Ucapan itu merupakan kekeliruan dan tidak mencerminkan niat untuk menghina mahasiswa maupun kelompok mana pun,β jelasnya.
Pengawal itu juga menjelaskan telah berupaya memfasilitasi mahasiswa yang ingin bertemu langsung dengan Gubernur Maluku. Ia bahkan telah mengarahkan agar mahasiswa datang ke kantor Gubernur untuk menyampaikan aspirasinya secara resmi.
βSaya sudah beberapa kali menyampaikan, kalau mereka ingin bertemu, saya akan fasilitasi. Silakan datang ke kantor. Saya bukan bermaksud menghalangi mereka untuk menyampaikan aspirasi,β tegasnya.
Sebagai petugas pengamanan, ia menjelaskan setiap orang yang mendekati Gubernur perlu diperhatikan demi memastikan keselamatan. Apalagi saat itu ia belum mengetahui secara pasti identitas maupun maksud kelompok yang datang membawa spanduk dan bambu tersebut.
βSaya tidak punya tujuan lain. Saya hanya menjalankan tugas sebagai pengawal. Siapa saja yang datang mendekati pimpinan tentu harus kami perhatikan karena menyangkut keamanan beliau,β ujarnya.
Ia kembali menegaskan bahwa ucapan tersebut adalah kekeliruan murni dan tidak bermaksud menghina siapa pun. Ia berharap persoalan ini tidak berkembang menjadi permasalahan yang lebih luas.
βSaya datang ke sini untuk menyampaikan permintaan maaf kepada publik. Saya tidak punya tujuan untuk menghina siapa pun. Saya berharap persoalan ini tidak lagi dipelintir dan tidak berkembang ke persoalan lainnya,β ungkapnya.
Pengawal itu juga mengajak mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat di Kota Ambon untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan tersebut secara damai. βSaya berharap kita semua dapat mencari solusi yang baik. Tujuan saya adalah kedamaian. Kalau mereka ingin bertemu dan menyampaikan aspirasi, saya siap menerima,β pungkasnya.
Hingga saat ini, ia mengaku belum mengetahui secara pasti identitas mahasiswa yang terlibat dalam kejadian tersebut, namun tetap membuka ruang komunikasi dan siap memfasilitasi pertemuan untuk menyelesaikan persoalan secara baik-baik. ) Tasya Patty )









