- iklan atas berita -

Metro Times (Purworejo)- Perjuangan panjang melawan penyakit harus dialami Shinta Ambarsari (40), seorang ibu rumah tangga warga kampung Ngrapah RT 4 RW 4 Kelurahan Doplang, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo. Tumor Lipoma  tumbuh di paha kaki kirinya sebesar kepala orang dewasa.

Nestapa wanita single perents ini kian terasa karena juga harus menghidupi anak semata wayang dan sang ibunda dalam keterbatasan ekonomi. Setiap hari Shinta hanya menggantungkan rezekinya dengan mencari daun pisang di kebun tetangganya untuk dijual.

Namun, hidup dalam kondisi serba kekurangan tak membuatnya patah semangat. Shinta tetap berusaha agar bisa berobat ke dokter demi kesembuhan penyakitnya.

Ketika ditemui metrotimes di rumahnya, Shinta mengisahkan bahwa dirinya pernah bekerja. Hanya saja, tumor yang ada di pahanya itu semakin lama semakin membesar. Karena merasa malu dengan teman-teman dan orang yang ia temui, Shinta memutuskan keluar dari pekerjaannya dan mengurung diri di rumah dengan harapan penyakitnya itu segera sembuh.

ads

“Saya sempat malu dengan kondisi penyikit saya,” kata Shinta, Rabu (19/12) pagi.

Waktu terus berjalan dan penyakitnya semakit membesar. Shinta pun semakin bingung dengan penyakitnya itu. Mau berobat ke dokter takut biayanya mahal, kartu BPJS-nya pun tak berdaya digunakan karena selama 5 tahun tidak terbayar iurannya. Hingga beberapa pekan yang lalu, di bulan Desember 2018, Rumahnya didatangi oleh ibu RW-nya bernama Diana yang juga anggota Sedekah Seribu Sehari (S3).

Saat itu, Diana datang dan meminta dirinya menjadi peserta BPJS Kesehatan. Dengan begitu, dirinya bisa memperoleh pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter dengan biaya ditanggung BPJS Kesehatan.

“Saya jawab saya sudah punya BPJS, tapi tidak bisa digunakan karena 5 tahun tidak bayar iuran. Selama ini saya tidak punya uang untuk bayar iuran,” sebutnya.

Keluhan Shinta mpun ditidaklanjuti oleh Diana bersama rekan-rekan di S3 untuk menutup tunggakan BPJS milik Shinta. Setelah tunggakan dilunasi oleh S3 dan bisa digunakan lagi,  Shinta lalu segera mengunjungi pusat pelayanan masyarakat untuk mendapatkan rujukan ke RSUD Tjitrowardojo Purworejo. Betapa terkejutnya ia mengetahui bahwa pada hari itu juga ia harus menjalani operasi untuk mengangkat tumor yang ada di paha kirinya itu. Ada kesedihan, tapi ada juga secercah harapan.

“Saya dioperasi hari Jumat tanggal 14 Desember kemarin, itupun setelah Teman dari S3 membayar semua tunggakan saya. Sekarang berobat ke Rumah Sakit tanpa harus merogoh kocek lagi, sebab mulai dari biaya administrasi, konsultasi dokter dan obat, sudah termasuk dalam tanggungan BPJS Kesehatan,” bebernya.

Menurut Shinta, pada saat kartu BPJS-nya tidak bisa digunakan karena iuran bulanannya tidak dibayar, ia harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk berobat untuk satu kali kunjungan. Tak terhitung jumlahnya.

Kini, ia mengaku lega karena bisa menjalani operasi tanpa biaya sepeserpun.

“Sempat tidak percaya operasi bisa ditanggung oleh BPJS Kesehatan, hanya dengan membawa KTP dan kartu BPJS, ternyata tumor sebesar kepala orang dewasa itu berhasil dioperasi secara gratis. Tentu ini sangat bermanfaat bagi saya, tidak ditarik biaya macam-macam. Lima Tahun Menderita Tumor Lapoma, BPJS Kesehatan Jadi Jawabannya,” ungkapnya.

Shinta tidak bisa menepis manfaat BPJS Kesehatan.  Menurutnya, ini program yang bagus dan sangat membantu masyarakat umum yang berpenghasilan menengah ke bawah. Shinta berharap, program jaminan kesehatan yang dikelola BPJS Kesehatan dapat terus membantu masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang lebih baik di seluruh wilayah Indonesia.

“Terima kasih BPJS Kesehatan,” pungkasnya.  (Daniel)