
MetroTimes (Surabaya) – Ketua Asosiasi Pengusaha Perlengkapan Pernikahan (AP3), Jeffrey Lim, menilai pelaku industri pernikahan perlu memiliki semangat kuat, inovatif, dan kolaboratif untuk menghadapi tantangan ekonomi pada 2026 hingga menuju 2027.
Ia menggambarkan semangat tersebut seperti filosofi kuda dalam tradisi Qing Chinese—kuat, tangguh, dan penuh tenaga—yang diharapkan mampu menjadi motivasi bagi para pelaku usaha wedding agar terus bekerja keras, menciptakan ide-ide baru, serta menghadirkan layanan inovatif di tengah penurunan minat pernikahan.
Menurut Jeffrey, tren pernikahan saat ini mengalami penurunan karena berbagai faktor, terutama kondisi ekonomi generasi muda yang belum stabil. Banyak calon pasangan memilih menunda menikah karena harus menyiapkan rumah, pekerjaan, serta penghasilan yang lebih mapan. Selain itu, gaya hidup praktis juga membuat sebagian generasi muda enggan menghadapi kerumitan prosesi pernikahan.
Karena itu, ia menilai dukungan pemerintah sangat dibutuhkan, baik melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan keterampilan, pelatihan, hingga program yang mendorong generasi muda memiliki penghasilan stabil. Dukungan tersebut diharapkan mampu menghidupkan kembali minat menikah sekaligus menggerakkan industri terkait.
Jeffrey juga menekankan pentingnya membuka peluang pasar internasional agar karya pelaku industri pernikahan di Indonesia dapat dikenal lebih luas. Ia berharap ada kerja sama antarnegara, setidaknya dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam, yang saat ini dinilai mengalami perkembangan pesat.
Selain ekspansi pasar, kolaborasi antarpelaku usaha dalam negeri juga menjadi kunci. Ia menilai kerja sendiri-sendiri tidak akan cukup untuk membawa kemajuan industri. Sinergi antarsesama vendor, ditambah dukungan kebijakan dan pendanaan dari pemerintah, diyakini dapat memperkuat ekosistem pernikahan nasional.
“Faktor utama memang ada pada pendanaan dan dukungan kebijakan. Pemerintah memiliki anggaran serta peran strategis untuk membantu industri ini berkembang, termasuk melalui sektor pariwisata,” ujar Jeffrey.
Ia berharap ke depan terdapat perhatian lebih besar dari instansi terkait agar industri pernikahan dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata nasional. Dengan inovasi, kolaborasi, serta dukungan pemerintah, AP3 optimistis sektor pernikahan masih memiliki peluang tumbuh di tengah tantangan ekonomi global.
(nald)




