
Liputan Khusus : Jaques Anthonius Latuhihin
MetroTimes(Gunungkidul)-Kabupaten Gunungkidul sukses mencatatkan diri sebagai tuan rumah yang gemilang dalam gelaran Apel Besar Peringatan Hari Pramuka ke-65 Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Tahun 2026. Bertempat di Alun-Alun Pemda Gunungkidul, Sabtu (22/08/2026), perhelatan ini menjadi simbol kekuatan dan kebersamaan Gerakan Pramuka se-DIY.
Apel yang dipimpin langsung oleh Gubernur DIY selaku Ketua Majelis Pembimbing Daerah (Mabida) Gerakan Pramuka DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, berlangsung dengan khidmat, tertib, dan penuh semangat kebangsaan. Sebanyak 6.610 peserta hadir memadati lokasi, yang terdiri dari 5.000 peserta didik, 540 perwakilan kwartir ranting, jajaran Kwarda dan Kwarcab se-DIY, serta para Ketua Kwartir Cabang, Majelis Pembimbing Cabang, pembina, pelatih, hingga partisipasi antusias dari peserta Jambore Nasional.

Pesan Filosofis Sri Sultan HB X: Ketangguhan, Pramuka Pembangunan, dan Lumbung Mataraman
Dalam amanatnya yang mengusung tema “Memantapkan Langkah Organisasi Mendukung Swasembada Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”, Sri Sultan HB X memberikan refleksi mendalam mengenai filosofi kehidupan di tanah Gunungkidul. Beliau mengingatkan kembali gagasan Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada Kongres Kepanduan di Tokyo 1971 melalui pidato “The Trend in Scouting”, di mana Pramuka dididik tidak hanya menjadi warga negara yang baik, tetapi juga manusia pembangunan yang andal.
Sri Sultan menekankan bahwa alam karst dan tantangan musim kemarau di Gunungkidul adalah “guru” bagi setiap Pramuka:
“Kita berhimpun hari ini di bumi Gunungkidul. Tanah yang mengajarkan keteguhan. Batu karst, musim kemarau panjang, keterbatasan air, telah menjadi guru bagi masyarakatnya,” ujar Sri Sultan.
“Dari tanah seperti inilah manusia belajar, bahwa daya tahan tidak lahir dari kelimpahan, melainkan dari ketekunan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan,” tutur Sri Sultan.
Lebih lanjut, beliau mengajak Pramuka DIY untuk menerapkan falsafah Hamemayu Hayuning Bawana serta ajaran leluhur tentang Lumbung Mataraman, yaitu konsep ‘mangan apa sing ditandur, nandur apa sing dipangan’ (makan apa yang ditanam dan menanam apa yang dipangan). Hal ini diharapkan menjadi landasan bagi anggota Pramuka untuk mandiri secara pangan, menjadikan pekarangan sebagai ruang produksi, dan keluarga sebagai simpul ketahanan pangan.
Tokoh Penting yang Hadir
Kehadiran para pimpinan menjadi motivasi tersendiri bagi para anggota Pramuka yang hadir. Berdasarkan pantauan di lokasi, apel besar ini turut dihadiri oleh para tokoh penting gerakan kepanduan di Yogyakarta, di antaranya:
-
Sri Sultan Hamengkubuwono X selaku Ketua Mabida DIY.
-
Gusti Kanjeng Ratu Hayu selaku Ketua Kwarda DIY.
-
Endah Subekti Kuntariningsih, S.E., M.P. selaku Bupati Gunungkidul sekaligus Ketua Mabicab Gunungkidul.
-
Nunuk Setyowati, S.Pd., M.M. selaku Ketua Kwarcab Gunungkidul.
-
Jajaran Forkopimda Gunungkidul.
Apresiasi dan Penghargaan

Momentum peringatan ini juga diisi dengan penyerahan bantuan simbolis berupa 500 bibit tanaman nangka dan sengon untuk lima kabupaten/kota se-DIY (dengan alokasi khusus bagi Kapanewon Rongkop, Wonosari, dan Panggang) yang diserahkan kepada para Ketua Majelis Pembimbing Cabang se-DIY.
Prestasi anggota Pramuka juga mendapat apresiasi melalui penganugerahan 40 Penghargaan Anggota Gerakan Pramuka Tahun 2026 berupa Lencana Melati, Lencana Dharma Bakti, dan Lencana Teladan, yang diserahkan langsung oleh Gubernur DIY didampingi Ketua Kwarda DIY GKR Hayu. Kwarcab Gunungkidul mendominasi perolehan penghargaan dengan 27 medali (termasuk untuk Bupati Gunungkidul), disusul Bantul dengan 5 penghargaan, Kulon Progo 4 penghargaan, dan Kwartir Daerah 2 penghargaan.
Refleksi Bupati Gunungkidul

Bupati Gunungkidul menyampaikan rasa syukur atas kelancaran acara yang sukses berkat kerja keras bersama. Ia juga menyoroti pesan penting Gubernur terkait kewaspadaan terhadap potensi bencana, khususnya kebakaran hutan di tengah musim kemarau. “Contoh untuk menjadi manusia yang tangguh, warga Gunungkidul sudah terlatih. Tadi beliau berpesan agar kita bersatu padu, jangan sampai ada satu puntung rokok pun jatuh di area hutan yang ada di Kabupaten Gunungkidul karena itu bisa menyebabkan kebakaran,” tegas Bupati.
Rangkaian Acara Yang Memukau
Kemeriahan acara dimulai dengan Pawai Budaya Pramuka Gunungkidul yang melibatkan 18 Kwartir Ranting (Kwarran) se-Gunungkidul. Penampilan apik dari Drumband Gita Buana Smakadano serta tarian kolosal dari 420 penari Pentul Tembem semakin menambah semarak suasana, memukau para tamu undangan dan masyarakat yang hadir.
Selain apel utama, peresmian Bazar Pramuka Kreatif Gunungkidul menjadi daya tarik tersendiri. Bazar ini menampilkan kreativitas luar biasa melalui:
-
Stan Kwarran: Menawarkan produk UMKM binaan, kuliner khas seperti tiwul, gatot, dan keripik, serta aneka kerajinan tangan.
-
Stan Saka/Sako: Memberikan edukasi interaktif dan pameran bidang kesakaan.
-
Stan Kreatif: Wadah bagi karya kewirausahaan dan penerapan teknologi tepat guna.
Antusiasme juga terlihat di area bazar. Salah seorang penjaga Stan Kreatif mengungkapkan kegembiraannya atas antusiasme pengunjung yang luar biasa terhadap produk teknologi tepat guna dan karya kewirausahaan yang dipamerkan. “Kami sangat bangga bisa ikut ambil bagian. Produk inovasi dan hasil karya kewirausahaan anak-anak Pramuka mendapat apresiasi yang luar biasa dari pengunjung yang datang silih berganti sejak pagi,” ujarnya.
Kesan Peserta dan Masyarakat
Kemeriahan acara ini tidak hanya dirasakan oleh para tamu undangan, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta apel dan warga sekitar.
Bagi para peserta apel, pengalaman bisa berbaris bersama ribuan anggota Pramuka dari berbagai daerah serta membaurnya peserta Jambore Nasional memberikan energi positif tersendiri. “Senang dan bangga sekali bisa ikut apel akbar di Gunungkidul ini. Bisa bertemu banyak teman baru sesama Pramuka dari berbagai daerah dan merasakan atmosfer kedisiplinan yang luar biasa,” ungkap salah seorang peserta didik.
Sementara itu, masyarakat yang hadir memadati area sekitar alun-alun turut merasakan semaraknya hiburan rakyat, pawai budaya, hingga sajian kuliner khas di bazar. Warga menilai kegiatan ini memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal sekaligus tontonan edukatif yang menghibur. “Acara tahun ini sangat meriah, anak-anak juga senang bisa melihat pawai budaya dan drumband secara langsung. Semoga Pramuka semakin jaya ke depannya,” tutur salah satu warga yang hadir.
Dengan suksesnya perhelatan ini, yang ditutup dengan Pentas Potensi Pramuka Gunungkidul, Gunungkidul sekali lagi membuktikan kapasitasnya sebagai tuan rumah yang mampu mengorganisir kegiatan berskala besar dengan tertib, meriah, dan sarat akan makna bagi masa depan generasi muda Indonesia.(JQ)













