- iklan atas berita -

METROTIMES ( Jakarta )Tenun Ikat Mawar Tembus Belanda dan Amerika, Tampil di Karya Kreatif Indonesia 2026

AMBON. — Dari rumah produksi sederhana di Ambon, Tenun Ikat Mawar perlahan membawa kain khas Maluku menembus pasar hingga ke Belanda dan Amerika Serikat. Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi usaha keluarga tersebut setelah mendapat kesempatan mengikuti Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026, sekaligus memperluas jejaring dan peluang pasar produk wastra Maluku.

Owner Tenun Ikat Mawar, Lusi Kormasela, mengatakan usaha tenun yang dijalankannya merupakan usaha keluarga yang telah dimulai sejak 2019.

Tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun oleh sang mama.
Menurut Lusi, pengembangan usaha tidak hanya mengandalkan kemampuan produksi, tetapi juga dukungan pembinaan, pelatihan, akses pasar hingga permodalan yang diperoleh melalui Bank Indonesia (BI).

“Kita selalu diberikan pelatihan terkait pengembangan produk, perpajakan, kemudian juga keuangan dan manajemen keuangan,” kata Lusi.

ads

Ia mengatakan BI juga membantu pelaku UMKM membuka akses permodalan melalui program business matching dengan perbankan. Dalam skema tersebut, BI berperan menjadi jembatan antara pelaku UMKM dan perbankan.

“Untuk permodalan kita biasanya business matching. Jadi pihak BI bekerja sama dengan perbankan dan BI menjadi jembatan antara pihak perbankan dengan UMKM,” ujarnya.

Selain pelatihan dan permodalan, Lusi menyebut pelaku UMKM juga beberapa kali mendapat kesempatan untuk melihat langsung perkembangan produk UMKM di Pulau Jawa.

Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan pengembangan produk.

Ikut Karya Kreatif Indonesia 2026

Dukungan dan pembinaan tersebut turut membuka peluang bagi Tenun Ikat Mawar untuk tampil dalam Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026.

Keikutsertaan dalam KKI 2026 menjadi kesempatan bagi Tenun Ikat Mawar untuk memperkenalkan produk tenun Maluku kepada pasar yang lebih luas, sekaligus membangun jejaring dengan pelaku usaha dan calon pembeli dari berbagai daerah.

Bagi Lusi, kesempatan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Tenun Ikat Mawar untuk tidak hanya dikenal di Maluku, tetapi juga mampu bersaing di pasar nasional hingga internasional.

Dari sisi pemasaran, Tenun Ikat Mawar juga mulai memanfaatkan platform digital. Produk dipasarkan melalui Instagram dan TikTok dengan nama akun Tenun Ikat Mawar.

Sementara pemasaran secara offline masih dilakukan dari rumah produksi yang menjadi pusat aktivitas usaha.

“Sejauh ini pemasarannya cukup baik, terutama karena online. Jadi sudah digitalisasi,” katanya.

Menariknya, Tenun Ikat Mawar tidak hanya mengangkat motif khas Tanimbar. Karena berbasis di Ambon, Lusi mencoba mengembangkan sejumlah motif yang berasal dari berbagai daerah di Maluku.
Beberapa di antaranya adalah motif patung dari Maluku Tenggara, motif Kakehan dari Pulau Seram, serta motif Embal dari Tual.

“Kita tidak berfokus untuk tenun yang motif Tanimbar saja. Kita berusaha mencari beberapa motif yang ada di beberapa daerah di Maluku,” jelasnya.

Untuk harga, produk Tenun Ikat Mawar dengan nilai tertinggi mencapai sekitar Rp3,5 juta untuk ukuran kain 2 x 1 meter.

Meski belum masuk dalam skala ekspor secara formal, produk Tenun Ikat Mawar telah beberapa kali dikirim ke luar Indonesia, terutama ke Belanda dan Amerika Serikat.

“Belum sampai skala ekspor, tapi memang kita sudah rutin beberapa kali kirim ke luar daerah, bahkan ke luar Indonesia, terutama ke Belanda sama Amerika,” ungkap Lusi.

Pasar tersebut terutama berasal dari kolektor wastra serta masyarakat Maluku yang tinggal di Belanda. Pesanan dari luar negeri menjadi salah satu peluang bagi Tenun Ikat Mawar untuk memperkenalkan produk Maluku kepada masyarakat internasional.

Bagi Lusi, keberlanjutan tenun Maluku sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Ia berharap semakin banyak anak muda yang mau mencintai, menggunakan, sekaligus melestarikan produk budaya daerah.

“Kalau tidak generasi muda yang mencintai dan melestarikan produk Maluku sendiri, mungkin produk Maluku akan hilang seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi,” tuturnya.

Lusi juga menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia yang dinilai telah membantu pelaku UMKM memperluas akses pasar.

“Kepada Bank Indonesia kami ucapkan banyak-banyak terima kasih karena sudah membina kami dan membuka akses pasar sehingga kami tidak hanya di Maluku, tetapi kami bisa lebih dikenal secara nasional hingga internasional,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!