- iklan atas berita -

Metro Times, Purworejo), Kodim 0708 Purworejo ikut memeriahkan peringatan HUT RI Ke-72 yang digelar di Alun-Alun Kota Kutoarjo dengan membawakan Drama lahirnya Kota Purworejo, Kamis (17/8/17).

Drama kolosal dimulai dengan menampilkan replika atau simbol potensi Kabupaten Purworejo seperti Replika Durian, Manggis, Geblek, Clorot serta Kambing Ettawa yang menjadi andalan untuk dipasarkan ke luar daerah Purworejo.

Ditampilkan juga sosok tokoh asli dari Purworejo yang ikut berjuang pada masa Kemerdekaan RI, antara lain Jenderal Urip Soemoharjo, Jenderal Sarwo Edi Wibowo, Jenderal Ahmad Yani dan WR. Soepratman.

ads

Drama kolosal berlanjut dengan cerita Nyai Bagelen yang mempunyai nama asli Dewi Roro Wetan dan bersuami dengan Raden Joko Cokropamono atau Ki Bagelen yang berasal dari Desa Awu-awu.

Pada suatu musim panen raya, Nyai Bagelen mencari kedua putrinya, Roro Taker dan Roro Pitrah namun tidak ketemu. Setelah mencari dimana-mana tidak bertemu, akhirnya Nyai Bagelen menyuruh Ki Bagelen untuk mencari kedua putri mereka, namun juga tidak ketemu.

Karena waktu sudah mulai sore dan kedua putrinya tidak ketemu, kesabaran Nyai Bagelen pun habis. Sambil membawa wliro ( sebuah teropong untuk menenun kain ), dipukulnya sebuah gunungan padi, hasil panen yang ditumpuk oleh Ki Ageng. Karena kesaktian Nyai Ageng, gunungan padi tersebut pecah berantakan hingga ke mana-mana.

Ternyata, Roro Taker dan Roro Pitrah bermain di dalam gunungan padi dan mereka tertidur. Akibatnya, Roro Taker dan Roro Pitrah terpental akibat pukulan wliro dari Nyai Begelen. Roro Taker dan Roro Pitrah tewas seketika. Kejadian ini membuat Nyai Bagelen dan Ki Bagelen sangat sedih dan saling bercek cok diantara keduanya.

Nyai Bagelen menyalahkan Ki Bagelen karena telah membuat gunungan padi dan melakukan kegiatan dihari sial yaitu Seloso Wage, sedangkan Ki Bagelen menyalahkan Nyai Bagelen memakai jarit dengan motif bangun luntak sehingga tak bisa mengendalikan hawa amarah. Karena percekcokan yang tak kunjung reda dan saling menyalahkan, akhirnya mereka sepakat untuk bercerai. Setelah perceraian, Ki Bagelen pulang kembali ke desanya, yaitu Awu-awu langit.

Karena perasaan sedih akibat perceraian, Ki Bagelen hidup sendiri dan bertapa hingga usia tua dan meninggal dunia. Berita kematian Ki Bagelen didengar oleh Nyai Bagelen. Kemudian Nyai memanggil putranya untuk pamitan ke alam baka, menyusul Ki Bagelen. Sampai tiba saatnya, Nyai Begelen pun meninggal dunia dan dimakamkan di Dusun Bedug, Kecamatan Bagelen, Purworejo.

Setelah perang jawa meletus Bagelen di jadikan markas oleh Pangeran Diponegoro yang berpusat di Kedung Kebo dengan medan perang antara sungai Bogowonto dan Sungai Progo. Pangeran Diponegoro adalah sahabat satu perguruan Cokronegoro Bupati Pertama Purworejo dan kemajuan Purworejo tidak lepas dari jasa beliau,.

Namun dengan tertangkapnya P.Diponegoro di kota Magelang perang Jawa berakhir dan kesunanan Surakarta diambil alih oleh pihak koloni Belanda tahun 1831 dan dibentuk karisidenan Bagelen yang beribukotakan di Purworejo yang meliputi Tanggung (Purworejo), Semawung (Kutoarjo), Remo Jatinegoro (Karanganyar), Kutawinangun (Kebumen), Ledok (Wonosobo), Ambal.

Langkah pertama yang dilakukan Cokronegoro setelah diangkat menjadi Bupati adalah menggabungkan 2 kota lama Brengkelan dan Kedungkebo yang diberi nama Purworejo yang artinya Awal Kemakmuran

Tahun 1831 dibentuk Karisidenan Bagelen yang beribukota di Purworejo.(Daniel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!