
Metro Times (SEMARANG) – Tawa dan tepuk tangan warga pecah di arena sederhana Kampung Pucung, Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Minggu (30/8/2026). Puluhan bapak-bapak dan ibu-ibu beramai-ramai mengikuti lomba panjat debok untuk memeriahkan HUT ke-81 RI.
Berbeda dengan panjat pinang yang licin karena oli, warga RT 8/RW 12 memilih panjat debok. Bukan kecepatan ke puncak yang dicari, tapi kebersamaan saat saling tarik, saling bantu, dan tertawa bersama.
Ratusan warga dari anak-anak hingga sesepuh tumplek blek menyaksikan. Arena lomba jadi titik temu warga yang sehari-hari sibuk dengan rutinitas masing-masing.
Ketua panitia Misbah Udin mengatakan kegiatan ini sengaja dikemas sebagai ruang silaturahmi.
“Ini sebagai ikhtiar silaturahmi agar warga semakin guyup rukun dan memiliki semangat gotong royong,” kata Misbah.
Bagi Misbah, kemerdekaan tidak harus selalu dirayakan dengan acara besar. Di kampung, kemerdekaan dimaknai dengan warga mau berkumpul, saling mengenal, dan menjaga kerukunan.
Apresiasi juga datang dari Lurah Pudakpayung Nuryati Purwaningsih. Didampingi Babinsa dan Bhabinkamtibmas, ia menilai kegiatan ini penting untuk merawat kekompakan.
“Ini bagian dari mengisi kemerdekaan Indonesia. Semangat gotong royong, guyup rukun dan kekompakan tercipta di acara ini,” ujarnya.
Nuryati berharap semangat kebersamaan itu tidak hanya muncul saat 17 Agustus, tapi terus dipelihara dalam kehidupan sehari-hari. Sebab kerukunan adalah modal penting selain pembangunan fisik.
Warga Haffil S Ihsan mengaku senang bisa berinteraksi lebih dekat dengan tetangga.
“Semoga ke depan Kota Semarang semakin maju dan warganya semakin guyub rukun,” harapnya.
Di Kampung Pucung, panjat debok menjadi simbol kecil bahwa setelah 81 tahun merdeka, semangat gotong royong masih bisa dirawat dari lingkungan paling dekat: tempat kita bertetangga.(aw)










