- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Upaya dekarbonisasi industri baterai dan kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Transisi menuju energi bersih tidak boleh hanya berhenti pada penggunaan teknologi ramah lingkungan, tetapi juga harus memastikan proses produksi dan rantai pasoknya memenuhi prinsip keberlanjutan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Publik bertajuk “Dekarbonisasi dan Environmental Paspor untuk Industri Baterai dan EV Menuju Daya Saing Berkelanjutan” yang diselenggarakan hasil kolaborasi antara Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan Center for Environmental, Social, and Governance Studies (CESGS) Universitas Airlangga di Surabaya.

Wakil Dekan III Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR), Novrys Suhardianto, S.E., M.S.A., Ak., Ph.D., menyampaikan apresiasinya kepada seluruh pihak yang hadir dalam seminar tersebut, termasuk akademisi, peneliti, serta perwakilan Dinas Lingkungan Hidup.

Menurutnya, perspektif lingkungan perlu dilibatkan sejak awal dalam pembangunan industri, bukan hanya menangani dampak yang muncul di kemudian hari.

ads

“Kita perlu lebih aware sejak awal. Karena kalau tidak, Dinas Lingkungan Hidup hanya akan menjadi pihak yang menyapu sisa-sisa polusi. Oleh karena itu, perspektif lingkungan harus hadir sejak proses perencanaan dan pengembangan industri,” ujarnya.

Novrys juga menyoroti pentingnya melihat industri kendaraan listrik secara utuh. Ia mengingatkan bahwa klaim kendaraan listrik sebagai solusi ramah lingkungan perlu dibuktikan dengan praktik nyata di seluruh rantai pasoknya, termasuk aktivitas pertambangan mineral yang menjadi bahan baku baterai.

Ia berharap pengalaman dan perspektif internasional yang disampaikan para narasumber dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana industri EV dapat berkembang secara bersih dan berkelanjutan, bukan sekadar menjadi slogan.

Dalam kesempatan yang sama, Executive Director Center for Strategic and International Studies (CSIS), Yose Rizal Damuri, Ph.D., mengungkapkan rasa senangnya dapat kembali berkolaborasi dengan Universitas Airlangga setelah hampir satu dekade tidak menggelar kegiatan bersama di lingkungan FEB UNAIR.

Ia berharap seminar tersebut menjadi awal dari kerja sama yang lebih intensif antara CSIS dan Universitas Airlangga, khususnya dalam bidang riset dan pengembangan kebijakan terkait keberlanjutan.

Yose menjelaskan bahwa isu keberlanjutan atau sustainability kini semakin mendapat perhatian global karena setidaknya tiga faktor utama.

Pertama, dampak perubahan iklim yang kini semakin nyata dirasakan masyarakat. Menurutnya, fenomena cuaca ekstrem yang sebelumnya jarang terjadi di Indonesia kini mulai muncul dan menunjukkan bahwa ancaman perubahan iklim tidak lagi bersifat abstrak.

“Dulu perubahan iklim terasa seperti sesuatu yang jauh. Tetapi sekarang dampaknya sudah sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita tidak bisa lagi mengabaikan persoalan ini,” katanya.

Faktor kedua adalah meningkatnya tuntutan pasar global terhadap produk yang diproduksi melalui proses yang berkelanjutan. Permintaan tersebut datang dari konsumen, lembaga keuangan, hingga mitra dagang internasional yang semakin memperhatikan aspek lingkungan dalam rantai produksi.

Ia mencontohkan berbagai komoditas Indonesia, mulai dari kelapa sawit hingga produk baja dan bahan baku industri lainnya, yang kini dituntut memiliki proses produksi yang lebih ramah lingkungan agar tetap kompetitif di pasar internasional.

“Kalau industri kita tidak mampu memenuhi tuntutan tersebut, maka daya saing kita akan menurun karena dunia semakin mengutamakan produk yang sustainable,” ujarnya.

Faktor ketiga adalah hubungan erat antara keberlanjutan dan ketahanan ekonomi. Yose menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap energi fosil membuat banyak negara rentan terhadap gejolak geopolitik global. Sebaliknya, energi terbarukan dan praktik produksi berkelanjutan dinilai mampu meningkatkan ketahanan energi maupun ketahanan pangan dalam jangka panjang.

Karena itu, ia menilai dekarbonisasi industri, khususnya industri baterai dan kendaraan listrik, menjadi langkah penting dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan.

Namun demikian, Yose mengingatkan bahwa pengembangan industri EV juga memiliki tantangan besar. Proses ekstraksi mineral, produksi baterai, hingga pengembangan kawasan industri sering kali masih menyisakan persoalan lingkungan yang serius.

Ia mencontohkan kondisi di sejumlah kawasan industri berbasis nikel seperti Morowali dan Halmahera yang masih menjadi perhatian berbagai pihak terkait dampak lingkungan yang ditimbulkan.

“Industri baterai dan EV seharusnya mendukung keberlanjutan. Tetapi proses ekstraksi mineral, produksi baterai, dan pengembangan industrinya juga harus mengikuti kaidah-kaidah sustainability. Jangan sampai konsep ekonomi hijau hanya menjadi slogan tanpa perubahan nyata di lapangan,” tegasnya.

Melalui seminar ini, para akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan pelaku industri diharapkan dapat merumuskan langkah konkret untuk memastikan transisi energi berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Pada akhir sambutannya, Yose juga mengundang para dosen dan peneliti Universitas Airlangga untuk berpartisipasi dalam berbagai program riset dan call for proposal yang rutin diselenggarakan CSIS terkait isu keberlanjutan, pembangunan ekonomi, industri, dan perdagangan.

“Semoga kolaborasi ini menjadi awal yang baik untuk memperkuat penelitian dan kebijakan yang mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” pungkasnya.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!