- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Sidoarjo) — Badan Karantina Indonesia (Barantin) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, salah satunya melalui pengawasan ketat terhadap kedatangan hewan ternak impor asal Australia. Selain untuk memasok ketersediaan protein hewani, pemasukan hewan ternak ini juga ditujukan untuk memperbaiki dan memperkaya keanekaragaman hayati.

Deputi Bidang Karantina Hewan, Sriyanto, menegaskan bahwa setiap pemasukan ternak wajib dipastikan kesehatannya melalui pemeriksaan fisik hingga laboratorium sebelum dilepaskan.

“Seluruh tahapan pemeriksaan dilakukan secara komprehensif untuk memastikan hewan yang masuk dalam kondisi sehat serta bebas dari Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK),” ujarnya.

ads

Sebagai informasi, ratusan hewan ternak impor asal Australia masuk melalui Bandar Udara Internasional Juanda, Jawa Timur, pada Senin (30/3) pukul 19.29 WIB menggunakan pesawat kargo. Ternak yang didatangkan terdiri atas 23 ekor sapi perah, 35 ekor unta, serta 145 ekor domba dari jenis Texel, Suffolk, dan Dorper.

Setibanya di Surabaya, seluruh ternak langsung dibawa ke Instalasi Karantina Hewan (IKH) milik Karantina Jawa Timur di Tandes untuk menjalani masa karantina. Selama periode tersebut, dilakukan pemeriksaan dan pengawasan kesehatan secara ketat guna memastikan seluruh ternak bebas dari penyakit hewan menular strategis, seperti brucellosis, paratuberculosis (Para TB), enzootic bovine leucosis (EBL), bovine viral diarrhea (BVD), serta lumpy skin disease (LSD). Jika sudah dipastikan kesehatannya maka dilakukan akan dilakukan pelepasan.

Sriyanto menjelaskan, kehadiran sapi perah impor diharapkan dapat mendukung peningkatan produksi susu nasional sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan khususnya ketersediaan protein hewani. Menurutnya ketersediaan produk peternakan, khususnya susu dan daging juga berperan penting dalam mendukung program pemerintah terkait pemenuhan gizi masyarakat, termasuk program makan bergizi gratis (MBG). Pasokan bahan pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal menjadi kunci dalam memastikan keberhasilan program tersebut.

“Kami memastikan setiap ternak yang masuk telah melalui pengawasan ketat, sehingga produk turunannya dapat berkontribusi dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat secara aman dan berkelanjutan,” jelasnya.

Selain mendukung pemenuhan kebutuhan protein hewani, masuknya domba Texel, Suffolk, dan Dorper juga dinilai dapat memperbaiki dan memperkaya keanekaragaman genetik ternak di Indonesia.

Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur (Karantina Jawa Timur), Sokhib menambahkan bahwa kebutuhan terhadap sapi perah masih cukup tinggi, sehingga impor menjadi salah satu langkah jangka pendek untuk menjaga ketersediaan pasokan. Hal tersebut dapat dilihat dari data impor pada sistem layanan digital Best Trust Badan Karantina Indonesia sepanjang 2025 yang mencatat sebanyak 2.863 ekor sapi perah, serta 265 ekor domba yang terdiri atas 230 ekor domba Dorper dan 35 ekor domba Suffolk impor masuk ke Jawa Timur.

Sriyanto menambahkan bahwa pengawasan lalu lintas hewan impor merupakan bagian penting dalam menjaga keamanan hayati nasional. Melalui pengawasan yang optimal, ternak impor yang masuk diharapkan dapat memberikan manfaat maksimal bagi pengembangan sektor peternakan nasional serta mendukung program swasembada pangan secara berkelanjutan.

“Kami memastikan seluruh prosedur karantina dilaksanakan sesuai standar, sehingga risiko masuk dan menyebarnya penyakit hewan dari luar negeri dapat dicegah,” tutupnya.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!