Oplus_16908288
- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Krista Exhibitions kembali menggelar EastFood Indonesia International Food Expo (IIFEX) 2026 dan ALLPACK Surabaya 2026 (EastPack Surabaya) sebagai upaya memperkuat ekosistem industri makanan, minuman, pengolahan, pengemasan, serta UMKM di Jawa Timur. Pameran berskala internasional tersebut akan berlangsung di Grand City Convention Hall Surabaya, dengan EastFood Indonesia Expo digelar pada 18-21 Juni 2026, sementara ALLPACK Surabaya dan East Beauty Pack Expo berlangsung pada 1-4 Juli 2026.

Chief Executive Officer (CEO) Krista Exhibitions, Daud D. Salim, menjelaskan bahwa EastFood Indonesia Expo tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-16 di Surabaya dan menghadirkan lebih dari 180 peserta dari dalam maupun luar negeri. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 peserta merupakan pelaku UMKM yang diberikan ruang untuk memperluas pasar dan mengembangkan usaha.

Daud mengatakan, tahun ini terdapat sejumlah pembaruan, termasuk penggunaan dua lantai area pameran di Grand City Convention Hall untuk mengakomodasi meningkatnya jumlah peserta. Selain itu, ALLPACK Surabaya kini diselenggarakan secara terpisah dari EastFood agar lebih fokus pada teknologi pengolahan makanan dan minuman, teknologi pengemasan, bahan kemasan, percetakan kemasan, hingga industri kosmetik.

ads

“Kami optimistis pameran ini dapat terus mendorong pertumbuhan ekonomi regional, membuka peluang investasi baru, serta mempertemukan produsen, distributor, buyer, dan konsumen dari berbagai negara. Tahun ini juga hadir kompetisi Bakat Boga yang mendapat antusiasme luar biasa dari para pelaku kuliner,” ujar Daud.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur, Yudi Ariyanto, mengapresiasi konsistensi Krista Exhibitions yang selama bertahun-tahun menghadirkan pameran industri di Jawa Timur.

Menurut Yudi, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada Triwulan I 2026 mencapai 5,96 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen. Struktur ekonomi Jawa Timur didominasi sektor industri pengolahan, dengan industri makanan dan minuman menjadi kontributor terbesar.

“Nilai PDRB industri makanan dan minuman Jawa Timur pada tahun 2025 mencapai Rp451 triliun. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan rata-rata 11,6 persen per tahun dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Karena itu, penyelenggaraan EastFood Indonesia Expo sangat relevan dalam memperkuat sektor unggulan Jawa Timur,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur, Dr. Haryo Bimo Bramantyo, menyampaikan bahwa pameran ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam mendorong UMKM naik kelas.

Ia mengungkapkan bahwa Jawa Timur memiliki lebih dari 4,5 juta UMKM dan sekitar 99 persen masih berada pada kategori usaha mikro. Menurutnya, kegiatan seperti EastFood Indonesia Expo memberikan kesempatan bagi UMKM untuk memperluas jaringan usaha, memperoleh mitra strategis, serta meningkatkan kapasitas bisnis.

“Kehadiran pameran ini memberikan optimisme bagi pelaku UMKM. Mereka tidak hanya dapat mempromosikan produknya, tetapi juga berkesempatan bertemu buyer potensial dan menjalin kerja sama bisnis yang berkelanjutan,” ujarnya.

Business Development Director Indonesia Packaging Federation (IPF), Ariana Susanti, menyoroti pentingnya industri kemasan dalam mendukung pertumbuhan industri makanan dan minuman. Menurutnya, kemasan tidak hanya berfungsi melindungi produk, tetapi juga menjadi bagian penting dalam branding dan distribusi.

Ariana menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam industri kemasan, termasuk memberikan kemudahan bagi UMKM untuk memproduksi kemasan dalam jumlah terbatas dengan kualitas yang semakin baik.

“Packaging memiliki peran strategis dalam rantai industri. Melalui ALLPACK Surabaya, pelaku usaha dapat memperoleh wawasan mengenai teknologi pengemasan terbaru, keberlanjutan industri kemasan, serta penerapan konsep circular economy,” tuturnya.

Dukungan juga datang dari Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI). Pengurus GAPMMI Bidang Kerja Sama Luar Negeri, Iwan Winardi, menilai pameran ini menjadi sarana penting untuk mempertemukan sektor hulu dan hilir industri makanan dan minuman.

Menurutnya, teknologi pengolahan dan pengemasan yang ditampilkan dalam pameran mampu meningkatkan nilai tambah produk pangan sehingga lebih kompetitif di pasar.

“Dengan adanya teknologi pengolahan dan pengemasan, komoditas pertanian dan perikanan dapat memiliki umur simpan yang lebih panjang serta nilai ekonomi yang lebih tinggi. Pameran ini juga dapat melahirkan wirausaha baru yang kreatif dan inovatif,” katanya.

Salah satu program unggulan EastFood Indonesia Expo 2026 adalah Bakat Boga Challenge 2026 yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di Surabaya. Ketua Komite Bakat Boga Surabaya 2026, Chef Tius Faisal Martadinata, menjelaskan bahwa kompetisi tersebut dirancang untuk meningkatkan keterampilan, kreativitas, dan profesionalisme para pelaku kuliner.
Chef Tius menyebutkan bahwa delapan kategori kompetisi yang diperlombakan mendapatkan respons luar biasa dari peserta, terutama pada kategori masakan khas Indonesia seperti Soto Ayam, Rawon, dan Chicken Main Course Indonesian Style.

“Antusiasme peserta sangat tinggi hingga beberapa kategori harus ditutup lebih cepat karena kuota telah terpenuhi. Ini menunjukkan kuliner Indonesia masih menjadi sumber inspirasi yang kuat bagi para chef profesional maupun pelajar kuliner,” ujarnya.

Kepala Bidang Program dan Acara Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (APKRINDO) Jawa Timur, Andre Setiawan W., mengatakan bahwa industri kuliner tetap menjadi salah satu penggerak utama perekonomian nasional.

Menurut Andre, kolaborasi antara pelaku usaha kuliner, supplier, pemerintah, dan penyelenggara pameran menjadi faktor penting dalam menciptakan ekosistem bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
“Kami berharap EastFood Indonesia Expo dan ALLPACK Surabaya dapat menjadi wadah kolaborasi yang memperkuat industri kuliner dan memperluas peluang usaha bagi para pelaku bisnis di Jawa Timur,” katanya.

Wakil Ketua Bidang Hukum dan Legal BPD PHRI Jawa Timur, Rumadhono Sumanto, menambahkan bahwa penyelenggaraan pameran berskala internasional juga memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan perhotelan.

Menurutnya, meningkatnya mobilitas pelaku usaha dan pengunjung pameran akan berdampak langsung terhadap tingkat hunian hotel dan aktivitas ekonomi pendukung lainnya.

“Semakin banyak kegiatan berskala nasional dan internasional di Surabaya, maka semakin besar pula manfaat yang dirasakan sektor perhotelan dan restoran di Jawa Timur,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua DPD Jawa Timur Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Bambang Sumarsono, menilai pameran ini menjadi platform strategis untuk mempertemukan produsen, distributor, UMKM, buyer, hingga investor dalam satu ekosistem bisnis.

Ia menegaskan bahwa APRINDO mendukung penuh penyelenggaraan EastFood Indonesia Expo, ALLPACK Surabaya, dan East Beauty Pack Expo karena mampu memperluas akses pasar produk lokal sekaligus meningkatkan daya saing pelaku usaha nasional.

“Pameran ini bukan sekadar promosi produk, tetapi juga sarana membangun kemitraan bisnis yang berkelanjutan, memperkuat rantai pasok, serta menciptakan peluang investasi baru bagi pelaku usaha Indonesia,” katanya.

Selain menghadirkan pameran produk dan teknologi, EastFood Indonesia Expo 2026 juga akan menyelenggarakan Cooking & Baking Demo, seminar industri, workshop, business matching, serta hosted buyer program yang mempertemukan peserta dengan calon pembeli dari dalam dan luar negeri.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, EastFood Indonesia Expo dan ALLPACK Surabaya 2026 diharapkan mampu memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri makanan, minuman, pengemasan, dan UMKM terbesar di Indonesia.

(nald)