- iklan atas berita -

Metrotimes (Purworejo)–Embun Alifaturrenaisan (16), atlet sekaligus pilot paralayang dari Kabupaten Purworejo tampil anggun mengenakan kostum Dolalak pada Paragliding Culture Festival 2026 Hari Jadi Kabupaten Wonosobo 25-26 Juli lalu.

Pada ajang itu paralayang perempuan pertama dari Purworejo itu menampilkan tarian di hadapan dewan juri sebelum akhirnya mengudara menerbangkan parasutnya sambil membawa identitas budaya tanah kelahirannya. Langit Desa Lengkong, Kecamatan Garung, Wonosobo menjadi saksi perpaduan olahraga dirgantara dan seni budaya.

Bagi Embun, festival ini bukan sekadar ajang terbang. Ini adalah pengalaman perdana setelah menyelesaikan pendidikan sekolah paralayang di Glide and Fly Yogyakarta bersama instruktur Capung Indrawan.

“Seru sih, senang bisa terbang dengan pakaian Dolalak, tarian kebanggaan warga Purworejo, bisa membawa seni adat budaya asli Purworejo. Saya juga belum pernah terbang di sini, jadi ini pengalaman yang luar biasa buat saya,” ujar pemilik nomor lisensi pilot PG04568 itu.

Perjalanan Embun menuju langit ternyata berawal dari rasa penasaran. Remaja kelahiran 24 Agustus 2010 itu pertama kali melihat para siswa Glide and Fly berlatih ground handling di Pantai Ketawang, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo. Sejak saat itu, ketertarikannya terhadap olahraga dirgantara terus tumbuh.

ads

Ia kemudian mengikuti latihan bersama instruktur Capung Indrawan hingga akhirnya melakukan first jump dari Take Off Level 1 Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri. Selama musim angin barat daya, Embun yang mengawali terbang di usia 14 tahun atau di kelas VIII SMP ini semakin intensif mendalami teknik terbang di Bukit Paralayang Watugupit, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Perjuangannya tidak singkat. Ia harus mengikuti ujian teori di Wonogiri, menjalani praktik terbang dari Puncak Joglo Wonogiri, serta memenuhi syarat sedikitnya 40 kali penerbangan di tiga lokasi berbeda sebelum dinyatakan layak memperoleh lisensi.

Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Embun resmi mengantongi lisensi PL1 yang diterbitkan Federasi Aerosport Indonesia (FAI).”Saya kemudian rutin latihan di Girisembung, Kalibawang, Kulon Progo bersama para senior. Kebetulan idola saya, Teh Liz Adriana, juara dunia paralayang perempuan Indonesia, juga terbang di sana sebagai tandem master. Banyak senior dari TNI AU dan atlet nasional lainnya, jadi banyak sekali ilmu yang saya dapat,” katanya.

Ketika mengetahui akan digelar Paragliding Culture Festival 2026, informasi itu datang dari sang ayah. Meski bukan perlombaan ketepatan mendarat seperti cabang yang ingin ia tekuni ke depan, Embun tetap antusias mengikuti festival tersebut.

Saat panitia memperbolehkan peserta mengenakan pakaian adat daerah masing-masing, ia langsung memilih busana Tari Dolalak. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Selain bangga terhadap budaya Purworejo, Embun memang pernah belajar menari sejak kecil.

“Kata panitia boleh mengenakan pakaian adat asal, akhirnya saya pakai pakaian Dolalak. Saya kebetulan juga suka menari dulu, jadi tanpa latihan saya masih ingat gerakan-gerakannya. Seru sih bisa mengenalkan Dolalak di Wonosobo,” tutur siswi kelas X SMA Negeri 7 Purworejo tersebut.

Di balik senyumnya yang tenang saat mengudara, Embun menyimpan mimpi besar. Ia ingin mengikuti jejak para seniornya menjadi atlet sekaligus penerbang paralayang perempuan berprestasi. Ia juga ingin membuktikan bahwa olahraga dirgantara bukan hanya milik kaum laki-laki.

Prinsip itu selalu ia pegang dari pesan sang instruktur, Capung Indrawan, yang hingga kini terus terngiang dalam benaknya. “Pakde Capung selalu bilang, paralayang itu butuh disiplin tinggi dan ketenangan. Harus mengikuti SOP untuk zero accident. Kita bermain di luar habitat kita yakni di udara. Syaratnya cuma satu, fokus, disiplin, dan mau terus belajar, insya Allah aman. Saya dulu juga takut ketinggian. Kata Pakde Capung, justru itu syarat untuk latihan, karena kalau terlalu percaya diri dan tidak takut ketinggian malah bisa berbahaya dan melanggar SOP,” pungkasnya.

Melalui penampilannya di langit Wonosobo, Embun tidak hanya menerbangkan selembar sayap kain. Ia juga mengangkat nama Purworejo, memperkenalkan Tari Dolalak kepada masyarakat luas, sekaligus menunjukkan bahwa keberanian, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap budaya dapat terbang berdampingan di angkasa.(toyib)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!