
MetroTimes (Surabaya) – Gereja Isa Almasih (GIA) menggelar Sidang Sinode ke-24 pada 28–30 Juli 2026 di Hotel Harris Gubeng, Surabaya. Pertemuan empat tahunan tersebut menjadi momentum strategis bagi para hamba Tuhan dan utusan jemaat dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri untuk mengevaluasi pelayanan, menyusun program kerja, serta memilih kepengurusan baru Majelis Sinode yang akan memimpin organisasi gereja selama empat tahun mendatang.
Sidang Sinode diikuti sekitar 150 gereja anggota GIA dari berbagai wilayah di Indonesia, serta dihadiri perwakilan gereja dari Amerika Serikat, Kenya, Kamboja, Meksiko, Suriname, dan Belanda. Kehadiran peserta internasional tersebut menunjukkan perkembangan pelayanan Gereja Isa Almasih yang kini telah menjangkau berbagai negara.

Kegiatan Umum Majelis Sinode Gereja Isa Almasih, Pdt. Budi Cahyono Hartono, S.Th., menjelaskan bahwa Sidang Sinode ke-24 merupakan forum tertinggi organisasi gereja untuk menentukan arah pelayanan dan kebijakan strategis empat tahun ke depan.
“Tujuan sidang ini adalah mengambil keputusan-keputusan strategis yang bermanfaat bagi perkembangan Gereja Isa Almasih, baik pelayanan di gereja-gereja lokal, tingkat nasional, maupun internasional. Kami berharap keputusan yang dihasilkan dapat membawa kemajuan bagi gereja ke depan,” ujarnya.
Menurutnya, salah satu fokus pelayanan GIA ke depan adalah memperkuat pembinaan generasi muda agar mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai iman. Selain itu, gereja juga akan memperluas pelayanan melalui media sebagai sarana menjangkau masyarakat yang semakin berkembang di era digital.
“Kami ingin mempersiapkan generasi yang tidak mudah terbawa arus perkembangan zaman, tetapi menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan karakter yang kuat. Gereja juga ingin terus menjadi berkat melalui pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat di setiap daerah,” katanya.
Pdt. Budi menambahkan, pelayanan sosial yang selama ini dilakukan Gereja Isa Almasih mencakup bidang pendidikan, kesehatan, hingga pembangunan sarana umum. Beberapa gereja lokal telah mengelola poliklinik, mendirikan sekolah, serta membangun fasilitas umum seperti MCK di wilayah Sumba sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat.
Ia berharap pelayanan serupa dapat diperluas ke berbagai daerah lain sehingga keberadaan gereja benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat tanpa memandang latar belakang.
Menanggapi kondisi nasional dan dinamika global saat ini, Pdt. Budi mengajak seluruh umat Kristiani menjaga persatuan serta tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memecah belah kehidupan berbangsa.
“Kita hidup di tengah situasi geopolitik dunia yang tidak mudah. Dampaknya juga dirasakan Indonesia. Karena itu jangan sampai kita saling curiga antarumat beragama. Kita harus menjaga harmonisasi, mendukung program-program pemerintah yang bermanfaat bagi masyarakat, serta tetap merawat persaudaraan sebagai satu bangsa Indonesia,” tegasnya.
Ia juga berharap pemerintah, khususnya melalui Kementerian Agama dan tokoh-tokoh agama, semakin memperkuat pendidikan toleransi hingga ke tingkat akar rumput agar kehidupan beragama di Indonesia tetap damai dan harmonis.
“Kita semua lahir di Indonesia. Walaupun berbeda keyakinan, kita tetap satu bangsa. Karena itu pendidikan tentang toleransi harus terus diperkuat agar masyarakat semakin menghargai perbedaan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Departemen Pembinaan Anggota Jemaat (PAJ) Kategorial 2 Sinode GIA sekaligus pelayan di GIA Pringgading Semarang, Pdt. Lukas Budijana, S.E., M.A., menjelaskan bahwa hari pertama Sidang Sinode diawali dengan ibadah pembukaan yang dilanjutkan sidang pleno.
Ia menerangkan bahwa Sidang Sinode merupakan forum empat tahunan yang mempertemukan seluruh gereja anggota untuk mengevaluasi pelayanan sekaligus menyusun langkah-langkah strategis menghadapi perkembangan zaman.
“Kami berharap akan lahir berbagai terobosan baru untuk mengantisipasi tantangan zaman, sehingga pelayanan Gereja Isa Almasih semakin relevan dan berdampak bagi masyarakat,” katanya.
Pada malam penutupan nanti, lanjutnya, seluruh peserta akan mengikuti pemilihan perangkat kepemimpinan Sinode yang baru. Setiap gereja memiliki hak satu suara untuk menentukan kepemimpinan organisasi selama empat tahun ke depan.
Menurut Pdt. Lukas, gereja memiliki tanggung jawab moral untuk ikut membangun bangsa melalui pembinaan karakter, penguatan nilai-nilai moral, dan pelayanan kepada masyarakat.
“Gereja dipanggil menjadi garam dan terang dunia. Karena itu kehadiran gereja harus membawa manfaat bagi masyarakat luas, bukan hanya membangun iman jemaat tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus menjaga semangat toleransi, saling menghormati antarumat beragama, serta memperkuat kerja sama lintas agama berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
“Kita harus tetap memiliki sikap inklusif, saling menghargai, dan bekerja sama lintas agama demi membangun Indonesia yang damai dan harmonis,” katanya.

Pandangan senada disampaikan Andreas Pesik, cucu pendiri Gereja Isa Almasih, Pdt. Tan Hok Tjoan, sekaligus putra Pdt. Eliezer Pesik. Ia mengingatkan pentingnya menjaga semangat persatuan di antara para pendeta dan seluruh jemaat agar tetap berjalan sesuai visi para pendiri gereja.
“Kami dari keluarga pendiri berharap seluruh hamba Tuhan tetap bersatu, saling mengasihi, dan bersama-sama membangun Gereja Isa Almasih sehingga setiap keputusan yang dihasilkan dalam persidangan ini benar-benar memuliakan nama Tuhan,” ujarnya.
Andreas mengungkapkan bahwa Gereja Isa Almasih yang berdiri sejak 80 tahun lalu, tepatnya diperingati pada 21 Juli 2026, berawal dari pelayanan di Kota Semarang. Kini GIA telah berkembang menjadi sekitar 162 gereja yang tersebar di Indonesia maupun luar negeri.
Menurutnya, momentum Sidang Sinode ke-24 sekaligus menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali visi dan misi para pendiri agar tetap relevan bagi generasi penerus.
“Kami ingin nilai-nilai yang diwariskan pendiri tetap dijaga. Generasi sudah berganti, tetapi semangat untuk menjangkau jiwa-jiwa, melayani masyarakat, dan menjadi terang bagi bangsa harus tetap diteruskan,” katanya.
Ia juga berharap gereja semakin aktif menjangkau generasi muda agar tidak terpengaruh oleh berbagai dampak negatif perkembangan zaman, sekaligus menjadi bagian dari pembangunan bangsa melalui pelayanan kasih dan kepedulian terhadap sesama.
Melalui Sidang Sinode ke-24 ini, Gereja Isa Almasih berharap lahir berbagai keputusan strategis yang memperkuat pelayanan, mempererat persatuan jemaat, meningkatkan kontribusi sosial, serta memperkokoh komitmen gereja dalam menjaga toleransi, persaudaraan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
(nald)




