
Metrotimes (Purworejo)-Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Purworejo kembali menggelar Festival Literasi untuk mengkampanyekan gerakan literasi masyarakat di daerah tersebut.
Beragam kegiatan disiapkan pada festival yang akan berlangsung selama 11 hari sejak Jumat (14/8/2026) hingga 24 Agustus mendatang tersebut. Festival ini juga akan menghadirkan penulis buku best seler dari Gramedia serta sejarawan terkait Perang Jawa serta Babad Kedung Kebo.
Kepala Perpustakaan Purworejo, Stevanus Aan Isa Nugraha pada pembukaan kegiatan tersebut mengatakan, seiring perubahan metodologi perhitungan Perpusnas Indek Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Purworejo tergolong rendah. Untuk itu perlu gerakan bersama guna meningkatkan IPLM maupun TKM di daerah ini.
Ragam kegiatan yang disiapkan panitia pada festival itu antara lain Fair Book dari Gramedia, Mizan serta Paguyuban Penerbit Jogja, pameran lukisan, pameran UMKM, Lomba-lomba, Pameran Perpustakaan Desa dan Taman Baca Masyarakat, pentas seni, Talk Show, Seminar hingga pelatihan dan Bimtek
“Pentas seni akan tampil secara terjadwal mulai besok hingga hari terakhir 24 Agustus mendatang. Ada 46 penampil dari sekolah dan komuntas,” ucap Aan.
Pada pembukaan kegiatan Dinpusip Purworejo sekaligus melakukan penandatangan kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk melaksanakan Gerakan Membaca Satu Buku Sebulan (Gema Sebuku). Selama ini gerakan ini baru dilaksanakan di SD Mutiara Ibu. Gerakan serupa diharapkan dapat diterapkan di seluruh sekolah.
Pada seminar nanti Dinpusip menyiapkan dua tema yakni gastronomi Tanah Bagelen yang akan mengupas catatan dari naskah-naskah kuno dan arsip Purworejo mengenai ragam masakan kuliner tanah Bagelen dari masa ke masa. Tema kedua Menuju IKON: Babad Kedung Kebo, perang jawa dari sudut pandang liyan.
Aan mengemukakan bahwa Purworejo memiliki satu naskah kuno yang tersimpan rapi di Belanda yang telah didapat secara digital saat penelurusan hari jadi Purworejo. Naskah-naskah tersebut juga telah menjadi koleksi Perpustakaan Nasional.
Naskah itu berjudul Babad Kedung Kebo yang itulis oleh Bupati Purworejo pertama, RAA. Tjokronegoro I sekitar tahun 1842-1843. Naskah Kedung Kebo menceritakan Perang Jawa dari sudut pandang pelaku sejarah lain, yaitu penjaga tanah Bagelen yang merupakan wilayah Kasunanan Surakarta waktu itu. Perang Jawa melalui Babad Diponegoro, pada 21 Juni 2013 lalu telah diakui oleh UNESCO sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World).
“Sehingga menjadi sangat strategis ketija Babad Kedung Kebo yang juga menceritakan tentang perang Jawa diangkat untuk menjadi Warisan Ingatan Nasional (Ingatan Kolektif Nasional). Pada seminar ini akan dihadirkan sejarawan dari Perpusnas yakni Prof. Peter Carey serta, Dr. Aditya Gunawan sebagai narasumber,” Aan menambahkan.
Pada pembukaan Festival itu sekaligus dilakukan pengukuhan para bunda Literasi dari 16 kecamatan di Kabupaten Purworejo. Keterlibatan mereka diharapkan mampu menggelorakan gerakan literasi di seluruh wilayah daerah ini.(toyib)









