
Metro Times (Semarang) Memasuki bulan suci ramdhan tentunya umat islam akan selalu menjaga lapar dan dahaga. Namun untuk membangkitkan selera makan saat berbuka, tidak ada salahnya mencoba kue buatan Fransisca Rima Khristiany. Melalui tangan kreatif-nya, ia mampu membuat kudapan pemanis mulut seperti puding dengan hiasan yang sangat menggugah rasa lapar
Puding buatannya tak sekadar rasa yang enak, kreativitas dan bentuk yang lucu juga selalu disuguhkan, sehingga bisa membangkitkan kenikmatan berbuka semangat bulan puasa maupun menggeser penikmat roti tart, saat ulang tahun dan momentum penting lainnya.
“Khusus edisi puasa, saya masih mengerjakan pesanan kue kering saja mas, tapi ada sesekali juga buat puding, yang kebanyakan puding buah karena segar, buahnya fresh, sehingga bisa dibuat stok di kulkas,”kata wanita yang akrab disapa Rima itu, kepada Metrotime.news, Kamis (24/5/2019).
Wanita yang juga beprofesi sebagai arsitek kelahiran Semarang ini, mengaku mempelajari pembuatan kue tersebut secara otodidak dari internet. Karena menurutnya internet menjadikan guru yang cukup komplit dalam bisnis kue, yang menyediakan banyak referensi menarik terkait pembuatan puding hias. Ia sendiri tergerak, karena melihat saat ini banyak kalangan yang merasa bosan merayakan momen penting seperti ulang tahun dengan kue tart. Kemudian dengan bekreasi puding dijadikan alternatif yang tetap manis, namun bisa meramaikan peristiwa penting demikian.
Bahkan terbukti, usahanya yang diposting dalam media sosial dengan nama @happykitchen81 sudah mulai dikenal luas. Untuk puding hias, diakuinya, pertama kali saat dirinya ingin membuat kue ulang tahun ibundanya, kemudian justru membawanya pada bisnis puding hias yang sudah setahun terakhir dilakoni.
Terkait cara pembuatan, tak dipungkirinya, cukup mudah, namun demikian, tetap membutuhkan kreativitas pembuatannya, karena dituntut untuk bisa membuat sebuah sajian puding yang cantik dipandang dan tetap enak untuk disantap.
”Konsumen saya kebanyakan dari Semarang sekitar, biasanya mereka memesan momentum ulang tahun anak-anak. Banyak konsumen saya minta dibuatkan puding bertema khusus seperti Little Pony, Frozen atau tema-tema yang sedang digandrungi saat ini,” jelasnya.
Selain puding, ia juga memasarkan penjualan roti kering, yang langsung dibuat dari kreasinya. Misalnya seperti kue nastar, kastengel, ada pula pai buah, proll tape, dan kue kering. Diakuinya, modal awal usahanya tersebut tak terlalu banyak, yakni sekitar Rp 500 ribu. Namun demikian, ia sendiri sudah memiliki beberapa peralatan yang dibutuhkan, seperti cetakan puding standar serta bahan bakunya.
Karena baginya, yang sangat penting adalah seni dalam berpromosi, karena penjualannya juga hanya condong melalui media sosial. Yang saat ini fokus melalui Instagram dan Facebook. Beberapa produk yang dibuatnya seperti puding hias dan puding kaca yang kaya dengan warna warni buah sehat serta pie buah berukuran besar yang dipasarkannya secara daring.
Dari semua kreasinya itu, Rima mengaku mampu menambah pundi-pundi uang. Namun demikian, dalam usaha tak dipungkirinya mengalami pasang surut. Hanya saja, hingga kini puding buatannya cukup banyak peminat. Bahkan Desember lalu, yang bertepatan dengan Natal, ia cukup kewalahan mengerjakan pesanan puding dan meraup omzet hingga Rp 15 juta.
Terkait harga, konsumen tak perlu khawatir, karena puding hias buatannya dipatok mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 250 ribu, semuanya tergantung dengan tingkat kesulitan dan bahan baku pendukung yang digunakan.
”Biasanya, kalau memang sudah full saya terpaksa menolak pesanan karena saat ini masih bekerja sendiri sehingga harus membagi waktu dengan profesi utama. Mudah-mudahan ke depan bisa memiliki gerai atau outlet sendiri,” jelasnya.
Untuk memaksimalkan service kepada konsumennya, Rima mengaku sebisa mungkin membina hubungan lebih dekat. Salah satunya menyesuaikan keinginan konsumen. Menurutnya, hal itu dilakukan agar pengerjaan puding hias bisa lebih detail dan memuaskan. Adapun cara yang dilakukannya, seperti menentukan angle foto yang menarik untuk setiap kreasi puding yang diunggahkan di Instagram atau Facebook.
“Supaya ndak disalahgunakan saya memberikan watermark sebagai penanda, jadi kelihatan kreasinya,”ujarnya. (jon)




