
MetroTimes (Surabaya) – Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan (PKB) Paru ke-23 kembali digelar dengan mengangkat tema “Building Resilient in Respiratory Health for a Better Life”. Kegiatan ilmiah yang terdiri dari simposium dan workshop ini menjadi forum pembaruan ilmu pengetahuan sekaligus penguatan kolaborasi tenaga medis dalam menangani berbagai persoalan kesehatan respirasi pascapandemi COVID-19.
Ketua kegiatan, dr. Wiwin Is Effendi, Sp.P(K), Ph.D., menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih sebagai upaya membangun kembali ketahanan dan kesatuan dalam penanganan penyakit respirasi yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di Indonesia.
“PKB Paru ini sekarang sudah memasuki penyelenggaraan ke-23. Tahun ini kami mengambil tema Building Resilient in Respiratory Health for a Better Life. Kami mencoba membangun kembali resiliensi dan menyatukan langkah dalam penanganan kasus-kasus respirasi agar kualitas hidup masyarakat menjadi lebih baik,” ujarnya.
Ia menegaskan, persoalan penyakit paru dan respirasi masih sangat kompleks, mulai dari kebiasaan merokok, infeksi saluran pernapasan, hingga kanker paru yang terus menjadi perhatian dunia medis.
Dalam kegiatan tersebut, berbagai isu terkini turut dibahas, termasuk upaya berhenti merokok, perkembangan diagnosis dan tata laksana kanker paru, hingga penanganan penyakit paru kronik seperti asma dan PPOK.
“Kami berusaha memberikan update terbaru baik dari sisi diagnosis maupun tata laksana penyakit respirasi, termasuk penyakit-penyakit yang saat ini menjadi perhatian utama,” katanya.
PKB Paru ke-23 diikuti sekitar 300 peserta simposium dan sekitar 100 peserta workshop. Para peserta berasal dari berbagai kalangan tenaga kesehatan, mulai dokter umum, dokter spesialis paru, hingga tenaga kesehatan lainnya, dengan dominasi peserta dari Jawa Timur dan sebagian berasal dari luar daerah.
Selain simposium utama, rangkaian kegiatan juga mencakup workshop intervensi paru bertajuk Surabaya Intervention Pulmo yang dilaksanakan secara terpisah.
Menurut dr. Wiwin, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembaruan ilmu pengetahuan, tetapi juga ajang mempererat silaturahmi antar tenaga medis dan alumni.
“Peserta kegiatan ini banyak juga alumni kami, jadi selain kegiatan ilmiah, ini juga menjadi ajang temu kangen dan memperkuat jejaring profesional,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, dr. Wiwin juga menyoroti persoalan polusi udara yang dinilai menjadi salah satu faktor utama meningkatnya berbagai penyakit paru. Polusi, baik di dalam ruangan seperti asap rokok maupun polusi luar ruangan, disebut berkontribusi terhadap munculnya kanker paru, asma, PPOK, hingga infeksi saluran pernapasan.
“Polusi indoor maupun outdoor sama-sama menjadi pemicu berbagai penyakit paru. Karena itu kami berharap para peserta nantinya dapat menjadi agen perubahan dengan menyampaikan edukasi kesehatan kepada keluarga dan masyarakat,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk mulai menerapkan pola hidup sehat di tengah kualitas udara yang dinilai belum ideal.
“Kalau ingin berolahraga di luar ruangan, masyarakat sebaiknya memperhatikan indikator kualitas udara. Jika kualitas udara sedang buruk atau masuk kategori merah, lebih baik berolahraga di dalam ruangan,” pesannya.
dr. Wiwin diketahui merupakan staf pengajar di Universitas Airlangga serta bertugas di Rumah Sakit Universitas Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo.
(nald)




