- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) — Kasus infeksi paru, khususnya pneumonia, masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Dr. dr. Tutik Kusmiati, Sp.P(K), FAPSR, konsultan infeksi dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo dalam workshop infeksi pada rangkaian Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Paru ke-23 di Surabaya.

Menurut Dr. Tutik, workshop infeksi tahun ini mendapat antusiasme tinggi dari para peserta karena materi yang dibahas sangat aplikatif dan dibutuhkan dalam praktik medis sehari-hari.

“Alhamdulillah workshop infeksi hari ini penuh sekali, karena memang kasus infeksi benar-benar kita butuhkan untuk aplikasi di lapangan. Teman-teman sangat memerlukan update bagaimana diagnosis dan tata laksana terbaru,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pneumonia hingga kini masih masuk dalam 10 besar penyakit terbanyak yang dirawat di rumah sakit, termasuk di RSUD Dr. Soetomo. Penyakit ini juga menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat infeksi paru.

ads

“Pneumonia adalah radang akut pada paru-paru. Penyebabnya bisa bakteri, jamur, maupun virus. Kalau tidak segera ditangani, perburukannya bisa sangat cepat dan meningkatkan risiko kematian,” katanya.

Dalam workshop tersebut, seluruh aspek penanganan pneumonia dibahas secara menyeluruh, mulai dari diagnosis, terapi, penanganan komplikasi hingga rehabilitasi medik pasca-perawatan.

Menurut Dr. Tutik, pasien pneumonia berat sering kali harus menjalani perawatan intensif di ICU akibat gagal napas hingga syok. Kondisi itu membuat pasien membutuhkan bantuan ventilator.

“Kalau pasien terlalu lama tirah baring, bisa terjadi penumpukan dahak. Bila dahak menyumbat saluran napas, pasien akan kesulitan bernapas dan kadar oksigen turun. Kalau oksigen konvensional tidak cukup, maka harus menggunakan ventilator,” jelasnya.

Ia menambahkan, rehabilitasi medik menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pasien pneumonia agar kondisi fisik dan fungsi paru dapat kembali optimal setelah menjalani perawatan panjang di rumah sakit.

“Pasien setelah opname tidak langsung kembali normal. Otot bisa melemah, aktivitas terganggu, sehingga perlu rehabilitasi medik supaya pasien tetap fit dan bisa kembali beraktivitas seperti sediakala,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Dr. Tutik juga menjelaskan perbedaan pneumonia dengan tuberkulosis (TBC). Menurutnya, TBC bersifat kronis dan berkembang perlahan, sedangkan pneumonia bersifat akut dengan progres yang jauh lebih cepat.

“Kalau TBC biasanya infeksinya sudah berlangsung berbulan-bulan baru terdeteksi. Sedangkan pneumonia harus segera diberi antibiotik karena perburukannya cepat,” katanya.

Kelompok usia lanjut dan balita disebut menjadi kelompok paling rentan mengalami pneumonia berat, terutama bila memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, kanker, gagal ginjal, stroke, maupun HIV.

“Usia di atas 65 tahun dengan komorbid sangat rentan terkena infeksi paru dan komplikasinya bisa lebih berat,” tambahnya.

Sebagai langkah pencegahan, Dr. dr. Tutik mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, menggunakan masker saat diperlukan, menghindari rokok, menjaga pola makan bergizi, serta melakukan vaksinasi.

“Kita sudah belajar dari COVID-19. Masker itu pencegahan paling murah dan efektif. Selain itu sekarang sudah ada vaksin pneumonia dan vaksin influenza, terutama dianjurkan untuk usia lanjut,” pungkasnya.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!