
MetroTimes (Surabaya) – Kompleksitas perpajakan internasional menjadi sorotan utama dalam ajang The 12th International Tax Conference (ITC) 2025 yang digelar di Surabaya, Rabu (27/8). Mengusung tema “Navigating International Tax Complexities in the Age of Technology Innovation and Economic Volatility”, konferensi ini membahas tantangan besar dunia perpajakan di tengah disrupsi teknologi digital dan ketidakpastian ekonomi global.
Ajang tahunan yang mempertemukan pakar pajak, regulator, akademisi, dan praktisi bisnis dari berbagai negara ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk merespons perubahan lanskap perpajakan global yang kian dinamis.
Peran Indonesia dalam Tata Kelola Pajak Global

Direktur Jenderal Pajak Indonesia, Bimo Wijayanto, Ph.D., menyoroti perkembangan teknologi digital—mulai dari big data, artificial intelligence hingga platform digital—yang membawa peluang sekaligus tantangan bagi tata kelola perpajakan. Di sisi lain, ketidakpastian ekonomi global menuntut strategi fiskal yang adaptif dan berkelanjutan.
“Konferensi ini menjadi ruang diskusi strategis untuk mencari solusi atas kerumitan pajak lintas negara. Harapannya, Indonesia dapat berperan lebih besar dalam mendorong sistem perpajakan global yang adil,” ungkapnya.
Pesan Presiden IAI

Sementara itu, Dr. Ardan Adiperdana, Presiden Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), menyampaikan apresiasi atas dukungan berbagai pihak, termasuk Kantor Wilayah IAI Jawa Timur sebagai tuan rumah. Ia menegaskan bahwa konferensi ini hadir pada momentum penting, ketika inovasi teknologi dan volatilitas ekonomi mengubah cara bisnis beroperasi lintas negara.
“Kita sedang menghadapi era transformasi digital yang revolusioner, yang menuntut pendekatan baru dalam kebijakan pajak, kepatuhan, dan penegakan hukum. OECD dengan Pillar 2 Inclusive Framework adalah upaya penting menuju sistem pajak global yang lebih adil dan transparan,” ujar Ardan.
Ia menekankan bahwa profesi akuntan memiliki peran vital, tidak hanya secara teknis, tetapi juga dalam menjaga integritas, kualitas audit, dan tata kelola di tengah perubahan besar tersebut. Generasi muda akuntan pun disebut sebagai garda depan untuk memastikan kualitas dan keandalan sistem perpajakan ke depan.
Dukungan Global dan Perspektif Lintas Negara

Konferensi ini turut menghadirkan perwakilan dari tujuh negara Asia, regulator, praktisi internasional, serta lembaga global. Salah satunya, Roy Chan, Head of Corporates and Government (ASEAN) Moody’s, yang menekankan pentingnya perspektif lintas negara dalam merumuskan kebijakan pajak internasional.
“Konferensi ini adalah wadah refleksi, elaborasi, dan kemajuan. Mari kita jadikan forum ini bukan hanya ajang diskusi teknis, tetapi juga upaya bersama membangun sistem pajak yang kuat, kolaboratif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Menjadi Bagian dari Agenda Global
Selain membahas perkembangan kebijakan pajak internasional, isu yang diangkat meliputi implementasi Pillar 2 OECD, tantangan transaksi lintas batas di era ekonomi digital, transfer pricing, hingga pengaruh dinamika geopolitik terhadap strategi fiskal global.
Konferensi ini juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan 68 tahun IAI yang puncaknya akan digelar pada IFA Connect Asia-Pacific 2025 di Jakarta, Desember mendatang.
Dengan kehadiran akademisi, praktisi, mahasiswa, hingga pembuat kebijakan, forum ini diharapkan melahirkan rekomendasi nyata untuk memperkuat transparansi, meningkatkan kepatuhan, serta memastikan sistem perpajakan tetap relevan di era digital dan krisis ekonomi global.
(nald)







