
MetroTimes (Surabaya) — Ikatan Perawat Ortopedi dan Traumatologi Indonesia (IPOTI) menggelar kegiatan Pelatihan Keperawatan Ortopedi Dasar pada 4–6 Februari 2026 di Hotel Santika Gubeng, Surabaya. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi dan pemerataan pengetahuan perawat ortopedi di seluruh Indonesia agar pelayanan kepada pasien dapat dilakukan sesuai standar yang sama, baik di daerah maupun di perkotaan.

Ketua PP Ikatan Perawat Ortopedi dan Traumatologi Indonesia hingga tahun 2028 (IPOTI), Ismaharjuni Islamuddin, menjelaskan bahwa pelatihan tersebut menjadi ruang berbagi ilmu terbaru bagi perawat ortopedi dari berbagai wilayah. Peserta kegiatan berasal dari sejumlah daerah di Pulau Jawa, Sulawesi, hingga Kalimantan, meski diakui partisipasi dari wilayah Sumatera masih terbatas karena kendala informasi.
“Kami berharap teman-teman perawat ortopedi di seluruh Indonesia memiliki kompetensi dan keilmuan yang setara. Dengan adanya kegiatan ini, kita bisa melakukan sharing ilmu yang terbarukan sehingga pelayanan kasus ortopedi menjadi lebih terstandarisasi,” ujarnya.
Menurutnya, di sejumlah daerah yang belum memiliki dokter konsulen ortopedi, tindakan penanganan kasus ortopedi kerap dilakukan oleh dokter bedah umum. Karena itu, IPOTI membuka kesempatan bagi perawat di daerah-daerah tersebut untuk bergabung dalam pelatihan guna memperbarui pengetahuan dan keterampilan.
“Perawat di daerah yang belum ada layanan ortopedi tetap bisa bergabung dengan kami untuk meng-update ilmu. Tujuannya agar pelayanan kepada pasien tetap sesuai standar,” tambahnya.
Pada hari terakhir pelatihan, peserta juga mengikuti uji kompetensi yang bekerja sama dengan CBP INA, lembaga akreditasi di bawah naungan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). Sertifikat yang diterbitkan diharapkan memiliki pengakuan luas, baik secara nasional maupun internasional.
Dalam praktik klinis, Ismaharjuni menyebutkan kasus ortopedi yang paling sering ditemui adalah fraktur atau patah tulang, terutama pada tulang panjang seperti femur, tibia, fibula, radius, ulna, dan humerus. Penyebabnya beragam, mulai dari kecelakaan atau trauma, tumor tulang, hingga osteoporosis akibat proses penuaan.
Ia menambahkan, pencegahan osteoporosis dapat dilakukan melalui pola hidup sehat, terutama dengan rutin berolahraga guna menjaga kepadatan tulang. Sementara untuk tumor tulang, faktor penyebabnya masih belum dapat dipastikan, meski sejumlah faktor risiko seperti kebiasaan merokok dan konsumsi makanan cepat saji diduga turut berperan.
Ke depan, IPOTI berharap pemerataan kompetensi perawat ortopedi dapat terus ditingkatkan sehingga kualitas pelayanan kesehatan ortopedi di Indonesia semakin baik dan merata.
“Harapannya, di mana pun perawat ortopedi berada, kompetensi dan keilmuannya sama rata sehingga pelayanan kasus ortopedi benar-benar terstandarisasi,” pungkas Ismaharjuni yang akrab disapa Pak Heri.
(nald)




