
MetroTimes (Surabaya) — Jawa Timur menegaskan diri sebagai Gerbang Baru Nusantara melalui penguatan sinergi antara Karantina Jawa Timur, Pemerintah Daerah, dan media. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam menjaga keamanan lalu lintas hewan, ikan, dan tumbuhan sekaligus mempercepat peningkatan ekspor komoditas strategis asal Jawa Timur.
Acara yang digelar di Surabaya tersebut menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kepala Bappeda Provinsi Jawa Timur Ir. Mohammad Yasin, M.Si., Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur Drh. Hari Yuwono Ady, M.Si., serta Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur Dr. Ir. Indyah Aryani, MM.
BKHIT Jatim Ungkap Modus Penyelundupan Terbaru
Kepala BKHIT Jatim, Drh. Hari Yuwono Ady, menjelaskan sejumlah kasus penindakan yang telah diselesaikan sepanjang 2025. Dua kasus berstatus P21, yaitu pemasukan anjing dari NTT serta pemasukan burung dari Banjarmasin/Makassar. Selain itu, ada kasus pengeluaran kalajengking yang dihentikan melalui penerbitan SP3 karena tersangkanya meninggal dunia.
Menurut Hari, modus pelaku penyelundupan terus berkembang:
“Ada yang mengemas media pembawa dengan sangat rapat hingga tidak terdeteksi, atau melalui jalur pemasukan dan pengeluaran yang tidak ditetapkan,” ujarnya.
Untuk memperkuat pengawasan, BKHIT meningkatkan kecakapan petugas, memperluas koordinasi dengan instansi pelabuhan dan bandara, serta mengoptimalkan penegakan hukum karantina.
Hari menegaskan bahwa karantina bukan hanya mencegah masuk dan keluarnya HPHK, HPIK, serta OPTK, tetapi juga fasilitator perdagangan guna memperlancar ekspor komoditas Jawa Timur.
Bappeda Jatim: Pertumbuhan Ekonomi Kuat dan Potensi Besar Sebagai Gerbang Nusantara
Kepala Bappeda Jawa Timur, Ir. Mohammad Yasin, menyampaikan paparan strategis berjudul “Potensi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara”.
Yasin menekankan bahwa Jawa Timur memiliki posisi ekonomi yang sangat penting:
Kontribusi pada ekonomi nasional: 14,54%, tertinggi kedua setelah Jawa Barat.
Pertumbuhan ekonomi 2025 mencapai 5,65%, di atas rata-rata nasional (5,04%).
Jawa Timur melayani 80% kebutuhan logistik Indonesia Timur, termasuk rute tol laut yang mencapai 21 dari 39 rute nasional.
Total penduduk mencapai 42 juta jiwa dengan 38 kabupaten/kota.
Dalam sektor pangan, Jawa Timur menjadi lumbung nasional :
- Beras: 17,4% produksi nasional
- Jagung: 30,36%
- Cabai: 36,27%
- Daging sapi: 20,31%
- Telur: 31,79%
- Susu: 57,98%, tertinggi nasional
Industri pengolahan makanan dan minuman juga menjadi tulang punggung ekonomi, menyumbang 54% dari total industri pengolahan.
“Dengan potensi pangan dan logistik ini, Jawa Timur sangat layak menjadi hub nasional dan gerbang utama menuju Ibu Kota Nusantara ke depan,” jelas Yasin.
Dinas Peternakan: Karantina Berperan Strategis bagi Ekonomi
Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Indyah Aryani, menegaskan pentingnya peran karantina tidak hanya dalam aspek kesehatan hewan tetapi juga ekonomi.
Indyah menekankan bahwa karantina menjadi faktor krusial dalam:
- Melindungi daerah dari masuknya penyakit hewan, ikan, dan tumbuhan.
- Memastikan lalu lintas komoditas aman.
- Memperkuat daya saing ekspor sektor peternakan dan pangan.
Indyah menambahkan bahwa sektor peternakan memiliki kontribusi signifikan dalam pemenuhan kebutuhan protein nasional, termasuk daging sapi, telur, dan susu.
“Peran karantina bukan hanya proteksi, tetapi juga penggerak ekonomi terutama dalam kelancaran pergerakan komoditas,” katanya.
Sinergi Karantina – Pemda – Media Diperkuat
Ketiga narasumber sepakat bahwa sinergi antarsektor sangat penting untuk memperkuat pengawasan sekaligus mendukung ekspor Jawa Timur.
Media, dalam pandangan mereka, berperan penting dalam:
- Edukasi publik terkait perkarantinaan
- Mengawal program pemerintah
- Mengurangi praktik penyelundupan
- Mendorong transparansi dan kolaborasi
Acara ini menjadi momentum mengintegrasikan peran karantina, pemerintah daerah, dan media dalam menjaga ketahanan pangan serta meningkatkan daya saing produk Jawa Timur menuju Gerbang Baru Nusantara.
(nald)




