
Metro Times (Kebumen) Genap lima tahun Budi Irianto (68) warga Desa Semanding, Kecamatan Sempor, Kabupaten Kebumen malakukan terapi cuci darah. Ia menceritkan, sekitar tahun 2019 lalu, ia divonis menderita penyakit gagal ginjal. Semenjak itu, ia pun rutin setiap dua minggu sekali melakukan cuci darah di Rumah Sakit Pembina Kesejahteraan Umat (PKU) Muhammadiyah Gombong.
“Sudah lima tahun ini setiap hari Selasa dan Jumat, bolak balik ke RS PKU Muhammadiyah Gombong untuk cuci darah, ditemani istri dan kadang juga anak saya,” cerita Budi, Selasa (04/07).
Budi merupakan pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) sehingga ia dan keluarganya telah terdaftar sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Hal itu sangat ia syukuri karena selama lima tahun ini ia merasakan langsung manfaat dari Program JKN. Ia menyadari untuk memperoleh layanan cuci darah, diperlukan uang yang tidak sedikit. Ia juga mengaku, selama ia mendapatkan layanan cuci darah, ia tidak mengeluarkan uang satu peser pun. Semua biaya cuci darah selama lima tahun ini telah dijamin oleh Program JKN.
“Program JKN ini sangat-sangat membantu, khususnya bagi kami pasien hemodialisa. Kita tahu biaya cuci darah tidaklah murah. Entah sudah berapa banyak nominal uang yang saya keluarkan jika tidak dibantu JKN,” ujar Budi.
Ia juga mengatakan, selama ini dirinya tidak pernah mendapatkan perlakuan yang berbeda dari pihak rumah sakit lantaran ia menggunakan JKN. Menurutnya, saat ini layanan di rumah sakit sudah sangat baik. Rumah sakit membantu pasien-pasien cuci darah agar terus mampu bertahan dan melawan sakit yang diderita. Bahkan pihak rumah sakit juga menginisiasi pembentukan komunitas hemodialisa di lingkungan RS PKU Muhammadiyah Gombong. Komunitas tersebut dijadikan ajang silaturahmi dan saling menguatkan antar sesama pasien cuci darah.
“Jadi salah satu kunci agar terus bertahan adalah bisa mengelola stres. Salah satunya dengan melakukan aktifitas positif bersama komunitas. Selain itu, program JKN ini juga membuat saya tidak khawatir masalah biaya untuk cuci darah,” ungkap Budi.
Budi mengetahui biaya pengobatanya yang dijamin Program JKN, merupakan bentuk gotong royong seluruh peserta JKN. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta JKN yang telah rutin membayar iuran dan BPJS Kesehatan yang telah mengelola Program JKN dengan sangat baik. Ia juga mengingatkan agar peserta JKN senantiasa memastikan status kepesertaannya aktif, agar tidak terkendala saat hendak mengakses pelayanan kesehatan. Menurutnya, iuran yang dibayarkan tidaklah sebanding dengan manfaat yang akan didapatkan nantinya.
“Sudah saya rasakan sendiri. Mungkin seluruh iuran saya dikumpulkan dari saat aktif jadi ASN sampai sekarang pun belum cukup buat menutup biaya pengobatan ini, apabila saya jadi pasien umum,” jelasnya.
Budi juga menceritakan, sewaktu awal mula ia divonis gagal ginjal, anaknya pernah merekomendasikan agar dirinya menggunakan asuransi swasta untuk pengobatannya. Namun dirinya lebih memilih Program JKN, karena ia mengetahui layanan Program JKN sudah sangat baik. Selain itu, akses ke fasilitas kesehatan dengan menggunakan Program JKN juga lebih banyak dibandingkan asuransi swasta di wilayah Gombong.
“Jadi saya yakinkan anak saya waktu itu untuk pakai JKN karena lebih mudah akses ke rumah sakitnya,” sebut Budi.
Ia melanjutkan layanan cuci darah dengan memanfaatkan Program JKN juga sangat mudah dan tidak ribet. Dengan adanya simplifikasi layanan, ia tidak perlu memperbarui rujukan setiap tiga bulan ke Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Untuk mendapatkan layanan ini, ia cukup melakukan verifikasi sidik jari (fingerprint) di loket pendaftaran. Ia juga tidak perlu antri menunggu terlalu lama untuk mendapatkan tindakan cuci darah karena sudah dijadwalkan oleh pihak rumah sakit.
“Layanan pendaftaran sudah dilakukan sendiri di RS PKU Muhammadiyah Gombong ini melalui mesin pendaftaran. Langkah-langkah pendaftarannya juga tergolong sangat mudah bagi orangtua seperti saya,” ujarnya. (Dnl)




