Oplus_16908288
- iklan atas berita -

 

MetroTimes (Surabaya) – Dosen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Nur Aini Hidayati, menegaskan bahwa transisi energi bukan sekadar perubahan teknis dari energi fosil menuju energi terbarukan, melainkan transformasi besar yang menentukan arah ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global dan gejolak geopolitik dunia.

Hal tersebut disampaikan Nur Aini dalam kegiatan diskusi dan pemaparan materi bertema transisi energi dan resiliensi ekonomi yang diikuti mahasiswa serta peserta dari berbagai kalangan akademik. Dalam paparannya, ia mengajak peserta melihat isu energi dari perspektif ekonomi secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi teknologi.

“Transisi energi itu bukan sekadar bicara panel surya atau mengganti PLTU. Ini menyangkut perubahan struktur ekonomi, daya saing, investasi, fiskal, lapangan kerja, hingga ketahanan nasional,” ujarnya.

Ia menilai tema transisi energi saat ini menjadi sangat relevan karena dunia sedang menghadapi ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik, krisis energi, perubahan iklim, hingga tekanan ekonomi internasional yang berdampak langsung terhadap stabilitas negara berkembang, termasuk Indonesia.

ads

Menurutnya, mahasiswa ekonomi perlu memahami bahwa energi memiliki posisi strategis dalam sistem perekonomian. Energi bukan hanya persoalan teknis kelistrikan, melainkan input dasar yang menentukan keberlangsungan industri, distribusi logistik, aktivitas produksi, hingga daya beli masyarakat.

“Ekonomi yang resilien bukan ekonomi yang diam dan kaku, tetapi ekonomi yang mampu menyerap guncangan, beradaptasi, dan bertransformasi,” tegasnya.

Energi Terbarukan Buka Ruang Ekonomi Baru

Dalam pemaparannya, Nur Aini menjelaskan bahwa era energi terbarukan membuka banyak peluang ekonomi baru melalui tumbuhnya green jobs, green industry, hingga green finance.

Ia mencontohkan mulai berkembangnya festival green jobs di Jawa Timur yang menunjukkan bahwa transformasi energi telah melahirkan kebutuhan tenaga kerja baru di berbagai sektor.

“Ini membuka ruang ekonomi baru. Mahasiswa harus mulai membaca peluangnya, karena masa depan ekonomi dunia bergerak ke arah ekonomi hijau,” katanya.

Ia menambahkan, arah baru perekonomian Indonesia saat ini juga semakin berkaitan dengan hilirisasi industri, transformasi digital, ekonomi kreatif, serta penguatan ketahanan pangan dan energi nasional.

Menurutnya, ekonomi masa depan tidak bisa lagi hanya bergantung pada komoditas mentah. Negara harus memperkuat nilai tambah, inovasi, serta ketahanan sosial agar mampu bersaing secara global.

Indonesia Punya Potensi Besar Energi Terbarukan

Nur Aini menyebut Indonesia sebenarnya memiliki potensi energi baru terbarukan yang sangat besar, mulai dari tenaga surya, panas bumi, hidro, bioenergi, hingga angin dan energi laut.

Namun di sisi lain, Indonesia masih sangat bergantung pada energi fosil yang mencapai sekitar 82 persen dari total bauran energi nasional.

“Masalah kita bukan tidak punya potensi. Potensi energi terbarukan Indonesia sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana potensi itu bisa menjadi listrik yang andal, harga yang terjangkau, investasi yang berjalan, dan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Ia menilai banyak masyarakat menganggap transisi energi sebagai proses sederhana, padahal implementasinya sangat kompleks dan melibatkan aspek teknologi, pembiayaan, infrastruktur, hingga kelembagaan.

Menurutnya, pembangunan energi terbarukan membutuhkan kepastian regulasi, jaringan listrik yang kuat, teknologi penyimpanan energi, serta institusi yang bersih dan profesional.

“Transisi energi itu pembangunan ekosistem,” tegasnya.

Konflik Global Pengaruhi Harga Energi Dunia

Dalam kesempatan tersebut, Nur Aini juga menyoroti dampak konflik geopolitik dunia terhadap ketahanan energi nasional.

Ia menyinggung ketegangan di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi energi terbesar dunia. Gangguan di kawasan tersebut dinilai dapat memicu lonjakan harga minyak global yang kemudian berdampak terhadap inflasi dan biaya hidup masyarakat.

“Kita melihat bagaimana konflik internasional bisa memengaruhi harga minyak, biaya logistik, biaya produksi, sampai daya beli masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga energi akan berdampak langsung pada subsidi dan kompensasi energi pemerintah, sehingga membebani APBN dan mempersempit ruang fiskal negara.

Karena itu, menurutnya, transisi energi menjadi penting untuk menciptakan sumber energi alternatif yang lebih beragam dan tahan terhadap gejolak global.

“Kita tidak boleh menaruh semua telur di satu keranjang. Ketika energi fosil terganggu, kita harus punya alternatif lain,” ujarnya.

Resiliensi Ekonomi Jadi Fokus Utama

Nur Aini menekankan bahwa tujuan utama transisi energi adalah membangun ekonomi yang lebih tangguh dan adaptif terhadap perubahan global.

Ia menjelaskan bahwa ekonomi yang resilien harus mampu menghadapi guncangan harga energi, perubahan pasar internasional, serta ancaman krisis iklim tanpa mengalami keruntuhan sistemik.

“Transisi energi bukan sekadar mengganti batu bara dengan panel surya. Ini tentang bagaimana negara bisa berubah tanpa goyah,” katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa perubahan iklim kini telah menjadi ancaman ekonomi global. Gelombang panas, kekeringan, banjir, hingga kenaikan permukaan air laut dapat mengganggu produksi pangan, kesehatan masyarakat, hingga stabilitas ekonomi nasional.

Dalam konteks tersebut, energi terbarukan menjadi bagian penting dalam strategi pembangunan berkelanjutan dan perlindungan ekonomi jangka panjang.

Tantangan Transisi Energi Masih Besar

Meski memiliki peluang besar, Nur Aini mengingatkan bahwa transisi energi juga menyimpan berbagai risiko yang harus diantisipasi pemerintah.

Salah satunya adalah stranded asset atau aset energi fosil yang kehilangan nilai sebelum masa operasionalnya selesai akibat percepatan transisi energi.

Selain itu, terdapat risiko ketimpangan sosial apabila energi hijau hanya dapat diakses masyarakat mampu karena tingginya biaya investasi awal.

Ia juga menyoroti pentingnya konsistensi kebijakan agar investor memiliki kepastian dalam menanamkan modal di sektor energi terbarukan.

“Investor akan masuk kalau regulasi jelas dan insentifnya konsisten. Dalam ekonomi kita belajar bahwa people respond to incentives,” ujarnya.

Mahasiswa Diminta Ambil Peran

Di akhir pemaparannya, Nur Aini mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa ekonomi, untuk aktif terlibat dalam proses transisi energi nasional.

Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting dalam menyiapkan gagasan kebijakan, inovasi ekonomi hijau, pengembangan green finance, hingga penguatan industri berbasis energi bersih.

Ia menegaskan bahwa masa depan energi Indonesia tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia dan keberanian mengambil keputusan strategis.

“Indonesia punya potensi besar. Tetapi potensi itu tidak otomatis menjadi masa depan. Semua harus melewati proses kebijakan, investasi, teknologi, dan tata kelola yang baik,” pungkasnya.

(nald)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini
This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.
Captcha verification failed!
Skor pengguna captcha gagal. silahkan hubungi kami!