- iklan atas berita -

Metro Times (Purworejo)-Kabupaten Purworejo tercatat sebagai salah satu daerah dengan angka kasus orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) paling tinggi di Provinsi Jawa Tengah. Hal ini membuat Pusat Rehabilitasi YAKKUM bersama pemerintah daerah tergerak dan terus gencar melakukan pendampingan serta peningkatan kapasitas keluarga penyandang disabilitas psikososial

Pada Kamis (23/10) YAKKUM berkolaborasi dengan Pemkab Purworejo menggelar sejumlah kegiatan yakni senam bersama dengan Gerak Bareng, kampanye publik dan pembacaan surat untuk bupati dari penyintas orang dengan disabilitas psikososial, serta seminar nasional “Guyub Rukun mBangun Purworejo Sehat Jiwa” yang melibatkan Pemerintah Daerah, akademisi, dan penyintas untuk merumuskan kebijakan yang lebih inklusif.

Kegiatan ini dihadiri oleh perwakilan Direktorat Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, Yunita Restu Safitri, Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan Rita Purnama, Kepala Dinkes Kabupaten Purworejo Dr. Sudarmi dan diikuti oleh 554 orang dengan disabilitas psikososial, kader kesehatan jiwa desa, Kelompok Difabel Desa (KDD), organisasi penyandang disabilitas.

Project Manager Every Life Matters Pusat Rehabilitasi YAKKUM, Christian Pramudya pada pada kegiatan yang digelar Pendopo Bupati itu mengutarakan Purworejo menduduki peringkat kedua dengan jumlah kasus ODGJ terbanyak di Jawa Tengah. Kendati demikian ia berharap hal ini tidak menjadi momok atau situasi yang menakutkan.

ads

“Kalau melihat angka Purworejo harus dilihat secara utuh terkait kondisi kesehatan jiwa masyarakat. Ini harus menjadi pengingat bahwa ada hal yng perlu kita tingkatkan dan kita perlu kolaborasi lintas sektor untuk meningkatkan kesehatan jiwa masyarakat Purworejo,” ucap Christian

Ia mengemukakan sejak tahun 2024 lalu, sebuah organisasi non-Goverment Yakkum sudah banyak melaksanakan kegiatan dalam rangka menekan angka pesakitan sosial didaerah ini. Diantaranya program peningkatan kapasitas keluarga penyandang disabilitas psikososial. Tak hanya itu, sudah ada puluhan penyandang disabilitas psikososial mendapat pendampingan langsung yang sekarang aktif di sejumlah komunitas.

“Kita mencoba meningkatkan produktifitas teman-teman penyandang disabilitas psikososial. Sudah ada 50 lebih yang saat ini aktif di komunitas. Mereka berasal dari 9 desa di Purworejo,” kata dia lagi.

Tak cukup sampai disitu, selama setahun terakhir Pusat Rehabilitasi YAKKUM terus mendorong Puskesmas di Purworejo untuk meningkatkan fasilitas pelayanan khusus bagi penyandang disabilitas psikososial. Sejauh ini sudah ada 27 Puskesmas yang diintervensi untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

“HKJS kita harapkan tidak sekadar perayaan, melainkan harus menjadi momentum untuk meningkatkan komitemen bersama dalam upaya menjaga kesehatan jiwa masyarakat Purworejo,” ucap Christian lagi.

Kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Purworejo, puskesmas, kader kesehatan, dan KDD menunjukkan komitmen kolektif untuk menciptakan jaring pengaman sosial. Diharapkan kegiatan ini menghasilkan terbentuknya jejaring lintas sektor yang lebih kuat dan adanya komitmen bersama untuk melanjutkan program kesehatan jiwa pasca-peringatan HKJS.

“Sekali lagi kami berterima kasih kepada pemerintahan kabupaten Purworejo yang selalu mendukung untuk berkegiatan kali ini, dengan kolaborasi yang cukup membuat kami merasa puas dengan apa yang kita lakukan pagi hari ini, tapi yang jelas ini semua untuk membuat Purworejo lebih baik lagi kedepan dengan guyub rukun mbangun Purworejo sehat jiwa,” pungkasnya.

Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan, Rita Purnama pada kegiatan tersebut mengucapkan terimakasih serta memberi apresiasi kegiatan serta partisipasi Pusat Rehabilitasi YAKKUM di Purworejo sejak awal hingga hari ini

“Kegiatan hari ini seluruhnya disuport oleh Pusat Rehabilitasi YAKKUM. Kami sampaikan terimakasih dan semoga kegiatan ini menjadi ikhtiar kita semua untuk menyehatkan jiwa masyarakat Purworejo,” kata Rita Purnama.

Ia mengatakan, Purworejo menduduki rengking terkahir pada angka kesehatan jiwa di Jawa Tengah. Angka kasus bunuh diri di daerah ini masih tinggi, bahkan hampir setiap bulan terdapat kasus bunuh diri.

Untuk itu ia mengajak semua pihak untuk peduli dengan diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Kesehatan jiwa bukan sekadar persoalan medis melainkan isu kemanusiaan yang patut menjadi perhatian bersama.

“Mari kita sama-sama peduli dengan diri sendiri. Jiwa kita ini jiwa yang merdeka maka harus dijaga. Tapi kadang banyak kekhawatiran, rasa cemas terhadap hal yang seharusnya tidak perlu terlalu dipikirkan. Terkadang kita juga selalu dan terus mengingat masa lalu. Mulai sekarang kita harus peduli,” imbuhnya.

Senada dengan YAKKUM, ia juga berharap kolaborasi lintas sektor terus terjalin. Mulai dari Dinas Kesehatan, Puskesmas hingga lembaga pendidikan. Komitmen Pemda dalam masalah kesehatan jiwa berkaitan erat dengan misi pembangunan Purworejo Berseri.(tyb)